Hikmah Keseimbangan antara Kebaikan dan Keburukan

baik dan buruk untuk keseimbangan
tulisan ini merupakan tulisan ulang dari cuplikan ceramah KH. Maimoen Zubair
Ayat-ayat Surah Al-Kahfi yang mengisahkan perjalanan Zulkarnain, seorang raja yang diberi keluasan ilmu dan kekuasaan oleh Allah SWT, mengajak kita untuk merenungkan lebih dalam tentang sunnatullah (ketentuan Allah) dan keseimbangan yang Dia ciptakan di alam semesta ini.
فَأَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٨٥﴾ ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٨٦﴾ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا ﴿٨٧﴾
“Maka dia pun mengikuti suatu jalan (sebab). Kemudian dia mengikuti jalan (sebab) yang lain. Hingga ketika dia sampai di tempat terbenam matahari, dia melihatnya terbenam di dalam mata air yang berlumpur hitam, dan di sana dia menemui suatu kaum. Kami berfirman, “Wahai Zulkarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 85-87)
Perjalanan Zulkarnain, yang digambarkan dengan mengikuti “sebab” atau jalan yang telah Allah ajarkan, mengisyaratkan bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki sunnatullah atau hukum sebab-akibat. Untuk mencapai tujuan, kita harus mengetahui dan menempuh jalan yang telah ditentukan Allah. Ini adalah prinsip dasar dalam memahami bagaimana alam semesta dan kehidupan manusia berjalan.
Ketika Zulkarnain mencapai ujung barat, di tempat yang digambarkan sebagai “mata air yang berlumpur hitam”, beliau mendapati suatu kaum. Di sinilah Allah SWT memberikan pilihan yang menarik: “Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan kepada mereka.” Pilihan ini bukan sekadar tawaran untuk menggunakan kekuasaan, tetapi sebuah pelajaran tentang sunnatullah dalam menciptakan keseimbangan.
Dalam tadabbur kita, kita dapat memahami bahwa kehadiran kebaikan dan keburukan dalam kehidupan adalah bagian dari sunnatullah. Seandainya semua manusia baik, kita tidak akan bisa memahami makna kebaikan itu sendiri. Sebaliknya, jika semua manusia buruk, kita tidak akan bisa menghargai kebaikan. Keduanya hadir sebagai pembanding, agar kita dapat mengenali dan menghargai nilai masing-masing.
Allah SWT menciptakan dunia ini dengan dualitas: siang dan malam, baik dan buruk, benar dan salah. Dualitas ini bukan untuk menciptakan kekacauan, tetapi untuk menjaga keseimbangan. Seperti halnya keberadaan aparat hukum yang menjaga ketertiban, keberadaan mereka adalah konsekuensi dari potensi pelanggaran dan kejahatan.
Zulkarnain, sebagai seorang yang berilmu dan bijaksana, memahami sunnatullah ini. Beliau mengetahui bahwa di ujung barat sana terdapat orang baik dan orang buruk, dan keduanya memiliki hikmahnya. Beliau kemudian bertindak dengan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang adil, memberikan penghargaan kepada yang baik dan hukuman kepada yang buruk.
Dalam konteks kehidupan kita, ayat-ayat ini mengajak kita untuk merenungkan tentang bagaimana kita menyikapi dualitas kehidupan. Janganlah kita terjebak dalam pandangan hitam-putih yang sempit. Kita harus memahami bahwa kebaikan dan keburukan adalah ujian dari Allah SWT, dan tugas kita adalah berusaha untuk selalu berada di jalan kebaikan.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini menyerukan kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, secara menyeluruh dan sempurna. Janganlah kita terjebak dalam fanatisme golongan atau kepentingan duniawi yang sempit. Karena, fanatisme dan kepentingan duniawi ini adalah jejak-jejak setan yang akan menimbulkan perpecahan dan kegaduhan.
Namun, mencapai kesempurnaan dalam berislam bukanlah hal yang mudah. Kita seringkali tergoda oleh nafsu dan bisikan setan. Inilah mengapa kita harus senantiasa memohon petunjuk Allah SWT dan berusaha untuk memahami sunnatullah dengan benar.
Kisah Zulkarnain mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan untuk menemukan keseimbangan. Keseimbangan antara kebaikan dan keburukan, antara hak dan kewajiban, antara dunia dan akhirat. Dengan memahami sunnatullah dan berusaha untuk selalu berada di jalan yang benar, kita dapat menjalani kehidupan ini dengan lebih bijaksana dan membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Dalam tadabbur kita, kita juga dapat merenungkan tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan pendapat dan keyakinan. Janganlah kita menjadikan perbedaan sebagai sumber konflik. Sebaliknya, kita harus berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain dan mencari titik temu yang dapat mempersatukan kita.
Dengan memahami sunnatullah dan merenungkan kisah Zulkarnain, kita diharapkan dapat menjadi manusia yang lebih bijaksana, adil, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah SWT memberikan kita petunjuk dan kekuatan untuk menjalani kehidupan ini sesuai dengan kehendak-Nya. Wallahu a’lam.

infaq untuk pendidikan
0 Comments