Santri adalah Anak-anak Ruhani Para Kyai

anak dan bapak ruhani
Saat bertemu dengan alumni Nurul Huda Mergosono, ia memandang saya lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca dan berkata: “satu hal gus, saya tidak pernah lupa dari Abah Masduqi, saat bapak saya meninggal dunia, Abah Masduqi berkata: “nak, jangan terlalu berduka, bapakmu telah selesai urusannya didunia, sekarang bapakmu adalah aku, kalau ada apa-apa datang ke pondok nurul huda. aku bapakmu siap membantumu.”
Di dunia pesantren, hubungan antara kiai dan santri memang bukan sekadar hubungan guru dan murid. Lebih dari itu, ia adalah hubungan ruhani yang penuh kasih, pengayoman, dan tanggung jawab mendalam. Setiap doa senantiasa saling dipendar oleh kyai dan santri. Memang seorang kiai sejati selalu menganggap santri-santrinya sebagai anak-anaknya sendiri. Pandangan ini tak hanya lahir dari tradisi pesantren yang kuat, tetapi juga berakar dari keteladanan Rasulullah ﷺ dalam memperlakukan umatnya.
Rasulullah ﷺ tidak memandang umatnya hanya sebagai pengikut, tetapi sebagai anak-anaknya sendiri. Dalam tafsir ayat:
وَأَزْوَاجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمْۚ
“Dan istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)
Para ulama memahaminya bahwa jika istri-istri Nabi adalah ibu bagi umat, maka Nabi adalah ayah bagi mereka. Maka, beliau adalah abun ruhiyyun—ayah secara spiritual—yang mencintai, membimbing, dan mengasihi umatnya dengan kelembutan yang tiada banding.
Makna ini diperkuat dalam beberapa tafsir yang menyebutkan bahwa kelak di akhirat, Rasulullah akan dikumpulkan bersama umatnya, sebagaimana seorang ayah bersama anak-anaknya. Bahkan, umat yang berada di surga kelak menjadi kebanggaan Rasulullah, sebagaimana anak-anak yang menjadi qurrata a’yun—penyejuk pandangan bagi orang tuanya.
Sebagaimana dalam doa orang-orang saleh disebutkan:
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
“Anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata kami.” (QS. Al-Furqan: 74)
Para kiai mengambil teladan ini dalam kehidupan nyata. Mereka mengasihi santri bukan hanya karena tugas mendidik, tapi karena ada ikatan batin: mempersiapkan generasi yang akan menjadi penyejuk mata umat dan bangsa. Santri bukan hanya murid yang dididik intelektualnya, tapi juga anak-anak yang dididik hatinya.
Tak jarang, ketika seorang santri melakukan kesalahan, kiai menegurnya dengan hati, bukan emosi. Ketika santri sakit, kiai mendoakannya dalam sujud. Ketika santri sukses, kiai bersyukur seolah anak kandungnya sendiri yang berhasil. Bahkan, banyak kiai yang rela menanggung beban ekonomi santri yang kesulitan, seperti ayah yang tak membiarkan anaknya terlantar.
Pesantren adalah rumah. Kiai adalah ayah. Santri adalah anak-anak ruhani. Dalam relasi inilah tumbuh keberkahan ilmu, adab, dan cinta yang mengakar kuat dalam tradisi keislaman Nusantara. Hubungan ini bukan hanya kiasan. Dalam sejarah Islam, telah ada preseden luhur yang menjadi fondasi pesantren hari ini: yaitu sistem pendidikan Ahlus Shuffah.
Pesantren dan Jejak Ahlus Shuffah
Ahlus Shuffah adalah sekelompok sahabat Rasulullah ﷺ yang tinggal di serambi Masjid Nabawi. Mereka hidup sederhana, tidak memiliki harta, dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk menuntut ilmu dari Rasulullah. Jumlah mereka mencapai sekitar 70 orang, di antaranya tokoh-tokoh besar seperti Abu Hurairah, Salman Al-Farisi, dan Abdullah bin Mas’ud.
Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajar mereka, tetapi juga menanggung makan dan kehidupan mereka sehari-hari, melalui infak dan sedekah dari kaum Muslimin. Rasulullah memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan, mengajarkan Al-Qur’an, tafsir, akhlak, hingga strategi dakwah. Mereka menjadi kader-kader utama yang kelak menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.
Sistem Ahlus Shuffah inilah yang menjadi prototipe pendidikan pesantren. Pesantren adalah tempat tinggal, tempat makan, tempat ibadah, sekaligus tempat belajar. Santri tinggal dalam lingkungan ilmu dan adab, persis sebagaimana para sahabat yang tinggal bersama Nabi ﷺ. Di sinilah peran kiai tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai figur utama yang menghidupkan ruh pendidikan itu: ayah, guru, pembina, sekaligus penanggung jawab akhlak dan arah kehidupan santri.
Maka tidak heran jika kiai memanggil santrinya dengan penuh kasih, sebagaimana orang tua memanggil anaknya. Tidak heran pula jika doa-doa mereka dalam sepertiga malam dipenuhi nama-nama santri yang mereka cintai, sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan umatnya dalam rintih dan sujud malamnya.
Pesantren adalah bayangan cinta Rasulullah di bumi ini.
Kiai adalah pewaris perannya, ia membawa cahaya Rasulullah dari mata rantai sanad keilmuan dan amal. Sementara santri adalah anak-anak ruhani yang kelak menyambung mata rantai cahaya dari Rasulullah melalui para kyai itu ke masa depan.

infaq untuk pendidikan
1 Comment
Diba · July 24, 2025 at 3:32 am
Menyimak tulisan ini dapat disimpulkan kalau kita perlu selektif dalam memilih pondok pesantren, terutama siapa pengasuhnya, programnya dan kondisi pendukung lainnya.
Sebetulnya ada tantangan berat bagi orangtua dalam melepaskan putra putrinya utk mondok, dan sangat tidak mudah, butuh effort yg kuat dari ortu sendiri untuk terus memotivasi anak, belum lagi kondisi jaman yg sangat sulit utk dibendung karena cepatnya informasi yg masuk dan bervariasi, sementara sedikit sekali waktu untuk bisa mengedukasi. Disinilah pentingnya pondok bisa menjadi perwakilan yg minimal memenuhi apa yg diharapkan anak dalam memenuhi tujuannya, apakah begitu ? 🙏