Berbuat Tanpa “Karena”: Antara Bisikan Langit dan Getaran Bumi

Sedekah pengunduh cinta Tuhan
Ada getar halus yang tak tertangkap telinga, tapi menghunjam ke relung hati. Ia datang di malam yang sunyi—malam yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai Al-Layl. Dari kegelapan itu, turun ayat-ayat yang mengajari kita tentang pilihan hidup: memberi atau menahan, percaya atau mendustakan, berjalan di jalan yang dimudahkan atau menempuh jalan yang terasa berat.
﴿فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ ٥ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ٦ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ ٧﴾
“Adapun orang yang memberikan (hartanya), dan bertakwa, serta membenarkan kebaikan, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.”
Dan sebaliknya:
﴿وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ٨ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ ٩ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ ١٠﴾
“Dan adapun orang yang kikir, merasa dirinya cukup, dan mendustakan kebaikan, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesukaran.”
Ayat-ayat ini bukan hanya informasi, melainkan cermin yang mengajak kita menatap ke dalam: di mana posisi kita sebenarnya?
**
Suatu ketika, Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terdekat Rasulullah, membeli dan memerdekakan budak-budak lemah. Bukan budak yang kuat atau yang bisa jadi penjaga. Ayahnya, Abu Quhafah, dengan logika manusiawi bertanya, “Mengapa engkau tidak membebaskan yang kuat saja, yang bisa melindungimu kelak?”
Tapi Abu Bakar menjawab pelan, namun dalam, “Aku hanya menginginkan apa yang aku inginkan.”
Tak ada hitung-hitungan dunia, tak ada “karena-karenanya”. Hanya keinginan yang bersih, murni, datang dari relung hati yang jernih.
Inilah titik pentingnya: keberanian berbuat tanpa syarat.
Seringkali kita menahan kebaikan karena terlalu banyak alasan:
“Aku akan bersedekah, kalau nanti diganti.”
“Aku akan membantu, kalau ada balasannya.”
“Aku akan berbuat baik, asal terlihat orang.”
Kebaikan menjadi semacam transaksi. Padahal, keikhlasan tumbuh ketika kebaikan tak lagi menuntut pamrih. Ketika kita belajar berbuat, hanya karena kita tahu itu benar.
**
Rasulullah ﷺ bersabda, bahwa setiap pagi, dua malaikat turun. Satu berdoa, “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.” Satu lagi berseru, “Ya Allah, binasakanlah orang yang menahan hartanya.”
Mereka tak menanyakan tujuan. Mereka hanya menyampaikan akibat. Karena hidup ini bukan semata hasil—tapi tentang langkah. Tentang gerakan. Tentang keberanian untuk tidak diam.
Para sahabat pernah bertanya, “Jika segalanya sudah ditakdirkan, mengapa harus beramal?” Dan Rasul menjawab, “Beramallah! Karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang diciptakan untuknya.”
Kita tak diminta memahami seluruh peta kehidupan. Kita hanya diminta berjalan. Melangkah. Karena yang memudahkan jalan bukan kita, melainkan Dia yang Mahamemudahkan.
**
Lalu, apakah kedermawanan hanya soal memberi? Dan kekikiran hanya soal menahan?
Para ulama menjelaskan: kedermawanan bukan sekadar memberi, tapi memberi pada tempatnya, dengan hati yang tulus. Dan kikir bukan semata tidak memberi, tapi menahan pada saat seharusnya memberi.
Abu Bakar tidak menunggu kesempatan besar. Ia tidak mencari pujian. Ia hanya ingin berbuat. Bukan karena kalkulasi. Bukan karena gengsi. Tapi karena jiwanya gelisah melihat manusia lain tak merdeka.
**
Lalu kita, bagaimana?
Apa yang menahan kita dari berbuat hari ini?
Bisakah kita sesekali berbuat baik tanpa harus bertanya, “Apa untungnya?” atau “Siapa yang melihat?”
Bisakah kita memberi seperti angin yang bertiup tanpa pamrih? Seperti matahari yang bersinar tanpa meminta imbalan?
Berbuatlah. Bergeraklah. Dan biarkan semesta menata ulang langkahmu.
Sebab kemudahan tidak datang dari rencana kita—tapi dari keberanian kita untuk bertindak.
2 Comments
Diba · July 18, 2025 at 4:58 am
Menahan pada saatnya harus memberi dan memberi tanpa mengharap apapun, dua hal yg disebut kikir dan dermawan. Dua hal ini bisakah diukur secara kasat mata? Sementara barometer keduanya adalah HATI, bukankah begitu?🙏
Kadang hati tergerak utk memberi disaat semua mata memandang hingga terkesan kita berderma, dan ada saatnya hati sama sekali tidak tergerak memberi meski sepertinya sangat diharapkan( apakah disebut kikir)
Pengasuh Dzinnuha · July 18, 2025 at 5:25 am
Titik singgungnya adalah ketaatan pada Allah tidak membutuhkan alasan apapun. Hanya cinta rabb yang membuncah yang menggerakkan