Islam itu Mudah: Belajar dari Kelembutan Nabi di Hari Raya

Published by Pengasuh Dzinnuha on

khutbah ied tidak harus diikuti dan tidak menjadi ketentuan sahnya shalat ied

Tulisan ini saya buat setelah saya melihat ada sebuah video seorang dokter yang menyatakan bahwa mendengarkan khutbah ied ini adalah wajib. Entah tahun berapa, saya berkesempatan shalat ied di Leteh Rembang, hal menarik yang saya dengar dari Gus Yahya Cholil Staquf adalah penyampaian hadits musalsal setelah shalat ied sebelum khutbah. Musalsal secara bahasa berarti “berantai” atau “berkesinambungan”. Secara istilah, Hadits Musalsal adalah hadits yang para perawinya secara berurutan (dari guru ke murid) mengikuti keadaan, ucapan, atau waktu yang sama saat menyampaikan hadits tersebut.

Kualifikasi & Keunikan Hadits Musalsal

Hadits Musalsal diklasifikasikan menjadi dua:

Musalsal bi al-Zaman: Seperti pada gambar, hadits ini disebut Musalsal bi Yaumil ‘Id (berantai di hari raya). Artinya, setiap guru hanya membacakan hadits ini kepada muridnya tepat pada hari raya.

Musalsal bi al-Fi’li: Ada juga yang sambil bersalaman, atau sambil tersenyum (musalsal bi al-tabassum).

Tujuan: Keunikan ini bukan soal keshahihan hukum semata, melainkan untuk menjaga akurasi transmisi dan keberkahan hubungan antara guru dan murid. Ini menunjukkan betapa telitinya ulama menjaga warisan Nabi hingga ke detail suasana hatinya.

Hadits musalsal yang disampaikan Gus Yahya ini, ia dapat dari orang tuanya KH. Cholil Bisri saat beliau usai shalat ied dan akan khutbah. Inilah salah satu bukti bahwa rantai keilmuan (sanad) di Nusantara masih terjaga. Teks hadits ini secara singkat (dengan memotong jalur-jalur sanad yang terlalu Panjang) sebagai berikut:

قال أخبرنا عطاء بن أبي رباح في يوم عيد قال أخبرنا ابن عباس في يوم عيد قال شهدت مع رسول الله ﷺ في يوم عيد فطر أو أضحى فلما فرغ من الصلاة أقبل علينا بوجهه فقال : أيها الناس قد أصبتم خيرا فمن أحب أن ينصرف فلينصرف ومن أحب أن يقيم حتى يشهد الخطبة فليقم .

Hadits ini menceritakan sebuah peristiwa di hari Idul Fitri atau Idul Adha. Inti dari matan (teks) hadits yang disampaikan oleh Ibnu Abbas ra. adalah:

“Aku menyaksikan (shalat) Id bersama Rasulullah ﷺ pada hari Idul Fitri atau Idul Adha. Setelah beliau selesai melaksanakan shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: ‘Wahai sekalian manusia, sungguh kalian telah mendapatkan kebaikan. Maka barangsiapa yang ingin pulang (kembali ke rumahnya), silakan pulang; dan barangsiapa yang ingin tetap tinggal hingga mendengarkan khutbah, maka silakan tetap tinggal.'”

Mengapa Rasulullah tidak meminta para sahabatnya untuk diam sejenak mendengarkan khutbah? Pertama mungkin hal ini perwujudan Islam yang “mudah” ini adalah Islam yang kita warisi dari Rasulullah ﷺ: sebuah agama yang menghargai kegembiraan manusia di hari raya tanpa harus membebaninya dengan aturan yang memberatkan.

Kedua, Rasulullah tidak mewajibkan sesuatu yang sesungguhnya sunnah dan boleh ditinggalkan.

Ketiga, Rasulullah memahami karakter para sahabat yang selalu rindu dengan apa yang bersumber dari Rasul hingga mereka bahkan berani mengabaikan kepentingan pribadinya agar mendapatkan sesuatu dari Rasulullah.

Keempat, ilmu tidak mungkin didapat tanpa hasrat atau keinginan kuat untuk mendapatkannya. Keterpaksaan hanya akan menjadikan ilmu yang sampaikan khatib sekedar suara-suara yang lewat telinga kanan keluar melalui telinga kiri tanpa bekas.

Wallahu a’lam, tetapi memang sesungguhnya Agama Islam hadir bukan untuk membebani, melainkan untuk memberikan kelapangan. Rasulullah berharap ummatnya banyak memberi contoh tidak sekedar omong kosong atau bahasa gaulnya omong doang. Itulah kenapa Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”

Rasul hadir dengan memberi contoh tidak sekedar perintah atau nasehat saja. Karenanya yang disebut hadits itu bukan hanya sekedar “rekaman dawuh Rasul” tetapi juga perilaku dan persetujuan Rasul atas apa yang dilakukan shahabat.

Teladan (uswah) Nabi Muhammad ﷺ sebagai peletak dasar syariat tentunya bukan hanya soal cara berpakaian atau ibadah ritual, melainkan juga tentang adab dan kemudahan. Salah satu contoh indahnya kemudahan tersebut terekam dalam sebuah riwayat yang sering dibacakan oleh para ulama kita, termasuk para kyai di pesantren, saat menyambut hari raya.

 

Islam itu Mudah dan Menyenangkan

Berbeda dengan shalat Jumat yang khutbahnya bersifat wajib didengarkan sebelum shalat, dalam shalat Ied, Rasulullah ﷺ memberikan pilihan, boleh mendengarkan atau meninggalkan.

Ini adalah bukti nyata bahwa Islam itu fleksibel. Nabi memahami bahwa di hari raya, ada orang yang sangat rindu ingin segera menemui keluarganya, ada yang harus menyiapkan hidangan, atau mungkin ada urusan mendesak lainnya. Beliau tidak memaksakan jamaah untuk terpaku di tempat jika hati mereka sudah ingin beranjak.

Sikap Nabi ini mengajarkan para pemimpin dan takmir masjid untuk mengajak dengan cinta, bukan memerintah dengan kaku. Berislam haruslah menyenangkan, mudah dan tidak memberatkan. Wallahu a’lam.

jangan lupa infaq untuk pendidikan

 

Categories: kajian

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *