Ilmu Sebagai Penghantar Kesyukuran

Published by Pengasuh Dzinnuha on

1 Januari 2026 saya diminta untuk berbicara dihadapan para ASN dan Jamaah al-Khidmah dalam rangka tasyakur Hari Amal Bhakti Kementerian Agama yang diselenggarakan MAN 2 Kota Malang dan Kemenag Kota Malang. Saya menceritakan sebuah harmoni yang indah antara dua surah dalam Al-Qur’an: surah ar-Rahman dan surah al-Alaq. Imam Zamakhsyari sebagaimana dikutip oleh Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya Mafatihul Ghaib, menceritakan sebuah jalinan makna yang luar biasa dari surat ar-Rahman dan al-Alaq

Dalam Surah Ar-Rahman (ayat 2-3), Allah menggabungkan antara penciptaan manusia dengan pengajaran Al-Qur’an. Pola yang sama juga kita temukan dalam Surah Al-Alaq (ayat 2-3) menggabungkan penciptaan dan perintah membaca. Mengapa demikian? Ini seakan ingin mengingatkan kita bahwa fitrah manusia memang dirancang untuk memiliki rasa ingin tahu yang besar. Kita diciptakan sebagai makhluk pembelajar. Agama kita, Islam, tidaklah tegak di atas taklid buta, melainkan berdiri kokoh di atas fondasi ilmu pengetahuan. Bahkan, dalam Al-Alaq ayat 3, ditegaskan bahwa kemuliaan manusia itu berpucuk pada ilmu yang dimilikinya اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ۝٣

Kecerdasan Tanpa Cahaya: Pelajaran dari “Abu al-Hakam”

Namun, ilmu saja ternyata tidak cukup. Ilmu pengetahuan membutuhkan jangkar moral dan fondasi spiritual. Tanpanya, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan yang menghancurkan. Surat al-Alaq, disamping mengajarkan dan memerintahkan untuk belajar dan belajar. Sumber kemuliaan adalah ilmu. Namun kecerdasan dan ilmu membutuhkan pengikat agar manusia tidak berlebihan sebagaimana surat al-Alaq ayat 6 dan 7 yang menceritakan sosok Abu Jahal yang memilki nama asli Amr Ibn Hisyam al-Mahzumi.

Sebelum sejarah mengenalnya sebagai Abu Jahal (Bapak Kebodohan), penduduk Mekkah menjulukinya Abu al-Hakam (Bapak Kebijaksanaan). Ia bukan orang bodoh. Ia adalah diplomat ulung dan politisi berpengaruh. Bahkan Rasulullah pernah berdoa agar Abu Jahal masuk islam.

«اللهم أعز الإسلام بأحد العُمَرَين».
Ya Allah mulyakan Islam dengan perantara masuknya salah satu dari dua umar . 
Yang dimaksud dua Umar ini adalah Umar Ibn Khattab dan Amr Ibn Hisyam atau abu jahal ini. Namun, mengapa Rasulullah ﷺ mengubah gelarnya menjadi “Jahal”?

Bukan karena ia kurang informasi, melainkan karena ia gagal menggunakan ilmunya untuk tunduk pada kebenaran. Ia terhalang oleh gengsi klan, motif ekonomi, dan ketidakmampuannya menerima kesetaraan manusia. Baginya, ilmu hanyalah alat kekuasaan. Di sinilah letak bahayanya: ketika seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri (an-ra’ahu-staghna), ia cenderung akan melampaui batas (layathgha). Nikmat ilmu dan kecerdasan tak berhasil membuatnya mensyukurinya dengan mengakui kebenaran Islam.

Ilmu sebagai Ujian (Fitnah)

Kita harus sadar bahwa kepandaian adalah cobaan. Dalam Surah An-Naml ayat 40, sosok yang memiliki ilmu dari Al-Kitab mampu mendatangkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap mata. Namun, apa reaksinya? Ia berkata: “Hadza min fadhli Rabbi liyabluwanii a-asykuru am akfur” (Ini adalah karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur).

Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 35:

كُلُّ نَفۡسࣲ ذَاۤىِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَیۡرِ فِتۡنَةࣰۖ وَإِلَیۡنَا تُرۡجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (fitnah). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Terkadang, fitnah yang paling berat bukanlah kemiskinan, melainkan sesuatu yang tampak baik dan sebuah kenikmatan  seperti kecerdasan dan kesuksesan yang justru membuat kita lupa diri. Sifat sombong dan enggan mengakui kelebihan orang lain adalah penyakit laten dalam diri manusia.

ilmu memberi kekuatan sebagai cobaan

Keunggulan, kehebatan atau apa saja yang menjadi bungkus kenikmatan sebagai cobaan atau ujian diteguhkan sosok Asif dari bangsa Israil. Asif disebutkan mempunyai kelebihan karena ilmu yang mendalam, alladzi indahu ilmun minal kitab.  Ia adalah juru tulis Nabi Sulaiman.  Saat menghadirkan singgasana Bilqis di hadapan Nabi Sulaiman, ia berkata ini adalah cobaan untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukah malah sombong mengufuri nikmat itu. Pemahamannya atas agama yang disebutkan ilmun minal kitab memuatnya tetap dalam kontrol sehingga ia tidak menyombongkan diri. pernyataan ini direkam Allah dalam surat an Naml ayat 40:

 قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ ۝٤٠

Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”

Menundukkan Kepala: Esensi Doa dan Zikir

Ada sebuah ungkapan menarik dari Syekh Al-Ghazzi mengutip sebuah hadits

لولا ثلاث في ابن آدم ما طأطأ رأسه شئ: المرض والفقر والموت، كلهم فيه وإنه معهن لوثاب
: “Kalaulah bukan karena tiga hal—sakit, fakir, dan maut—niscaya anak Adam tidak akan pernah mau menundukkan kepalanya.” Manusia itu cenderung merasa tangguh (watsab), padahal ia sangat rapuh.

Di sinilah peran agama hadir. Agama memerintahkan kita untuk berzikir, karena hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Begitu pula dengan doa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa “Doa adalah ibadah” (Innad-du’aa-a huwal ‘ibaadah). Mengapa doa disebut inti ibadah? Bukan semata-mata soal terkabulnya permintaan kita, karena takdir Allah tetap berjalan sebagaimana mestinya. Setiap diri akan dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya (kullun muyassarun limaa khuliqa lah).

Karenanya, Inti dari doa adalah pengakuan akan kehambaan. Doa adalah momen di mana kita menundukkan kepala dan mengakui bahwa kita kecil di hadapan Sang Maha Besar. Apakah kita akan menjadi ahli surga atau neraka, apakah kita mampu bersyukur atau justru sombong atas ilmu kita, semuanya bergantung pada sejauh mana kita mampu menekan ego dan keangkuhan di hadapan-Nya. Sungguh ujian kenikmatan tidak lebih mudah dari ujian yang sudah nyata seperti yang sudah nampak cobaan. Atau sebaliknya nikmat yang dibungkus dengan cobaan dan musibah nampak lebih berat daripada melihatnya sebagai cobaan yang mendera. Ini semua butuh ilmu yang mendalam sebagaimana Asif sang juru tulis Sulaiman.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita agar ilmu yang kita miliki menjadi cahaya yang menuntun pada ketundukan, bukan hijab yang melahirkan kesombongan.

jangan lupa infaq untuk pendidikan

Categories: kajian

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *