Jalan Selamat Itu Bernama Belajar, Membaca Dan Mengajar

santri-santri dzinnuha saat mendengarkan dawuh Kyai Mustofa Bisri
Mengapa wahyu pertama yang turun kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ bukanlah perintah untuk menegakkan salat, berzakat, atau mengangkat senjata? Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih kata “Iqra’” (Bacalah) sebagai ketukan pertama yang membelah kegelapan jahiliah?
Teka-teki ilahi ini mengisyaratkan sebuah hakikat fundamental: Jalan keselamatan dan jalan untuk sampai kepada Allah (thariqah al-wushul ilallah) secara mutlak dimulai dari aktivitas belajar dan mengajar.
Memahami Esensi Thariqah: Mengapa Kita Harus Meniti Jalan?
Secara harfiah, thariqah atau tarekat berarti “jalan”, “metode”, atau “cara” untuk mencapai tingkatan spiritual (maqamat) demi mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam khazanah Islam, manusia tidak bisa berjalan tanpa arah dalam menuju Allah; ia membutuhkan kompas, metode yang teruji, dan bimbingan yang terstruktur. Itulah mengapa kita harus berthariqah sebagai upaya disiplin agar raga kita tetap patuh pada syariat dan hati kita senantiasa jernih menghadap-Nya.
Dalam sejarah tasawuf, gerakan tarekat mulai melembaga pesat pada abad ke-6 dan ke-7 Hijriyah, seiring dengan semakin pentingnya posisi tasawuf dalam kehidupan umat Islam. Para ulama sufi kemudian membagi tarekat menjadi dua jenis:
-
Thariqah Mu’tabarah: Tarekat yang memiliki silsilah bimbingan (sanad) yang muttashil—menyambung tanpa putus—hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ.
-
Thariqah Ghairu Mu’tabarah: Tarekat yang silsilahnya munfashil atau terputus dari garis Rasulullah ﷺ.
Untuk menjaga agar spiritualitas ini tidak menyimpang dari garis lurus al-Qur’an dan Sunnah, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana yang digariskan dalam khittah Nahdlatul Ulama (NU) menyelaraskan tasawuf (seperti manhaj Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi) agar selalu beriringan dengan akidah Tauhid Asy’ariyyah-Maturidiyyah serta dibentengi oleh hukum fikih dari salah satu empat mazhab utama.
Namun, di atas semua tarekat yang bersifat wirid dan zikir komunal, ada satu thariqah mu’tabarah agung yang sering kali terlupakan, padahal sanadnya adalah yang paling terangbenderang menuju Rasulullah ﷺ: Thariqah Belajar dan Mengajar (Al-Ta’lim wa Al-Ta’allum).
Fitrah Manusia adalah Membaca dan Memahami
Dalam Tafsir Al-Kasysyaf, Imam Az-Zamakhsyari menyoroti sebuah rahasia susunan ayat dalam Surah Al-‘Alaq. Allah berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسانَ مِنْ عَلَقٍ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. Al-‘Alaq: 1-2)
Az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa diletakkannya ayat tentang penciptaan manusia (Khalaqal-Insan) tepat setelah perintah membaca (Iqra’) bukanlah tanpa alasan. Ini adalah sebuah maklumat teologis yang agung:
“المُناسِبَ أنْ يُرادَ خَلْقُ الإنْسانِ بَعْدَ الأمْرِ بِقِراءَةِ القُرْآنِ تَنْبِيهًا عَلى أنَّهُ تَعالى خَلَقَهُ لِلْقِراءَةِ والدِّرايَةِ”
“Bahwa penyebutan penciptaan manusia diletakkan setelah perintah membaca Al-Qur’an bertujuan sebagai pengingat bahwa Allah Ta’ala menciptakannya memang untuk membaca dan memahami.”
Manusia tidak diciptakan seperti binatang yang hanya mengandalkan insting bertahan hidup. Fitrah tertinggi manusia sebagai alasan mengapa ia dirancang dengan akal dan kalbu adalah untuk membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan-Nya dan mendalami ilmu (dirayah). Tanpa ilmu, manusia kehilangan orientasi kemanusiaannya. Maka jalan selamat melalui belajar dan mengajar dari guru bersanad sampai Rasulullah adalah jalan menuju Allah yang menjadi gerbong para santri menuju Ridla Allah bersama gurunya.
Pena dan Tulisan: Jembatan Peradaban dan Agama
Kemuliaan manusia disempurnakan oleh Allah dengan instrumen bernama pena (al-qalam). Dalam rangkaian ayat berikutnya, Allah menegaskan diri-Nya sebagai Al-Akram (Yang Maha Mulia):
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسانَ ما لَمْ يَعْلَمْ
“Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 4-5)
Imam Az-Zamakhsyari mengulas bahwa tidak ada manifestasi kemuliaan Allah yang lebih tinggi di muka bumi ini selain penganugerahan ilmu.
“لَوْ لَمْ يَكُنْ عَلى دَقِيقِ حِكْمَةِ اللهِ وَلَطِيفِ تَدْبِيرِهِ وَدَلِيلٌ إلّا أمْرُ القَلَمِ والخَطِّ، لَكَفى بِهِ”
“Seandainya tidak ada dalil atau bukti lain atas kelembutan hikmah dan indahnya pengaturan Allah selain urusan pena dan tulisan ini, maka hal itu sudah sangat mencukupi.”
Tanpa tulisan, syariat agama tidak akan tersistematisasi, hukum-hukum fikih akan menguap, dan wahyu yang diturunkan kepada para nabi tidak akan sampai ke tangan kita hari ini. Maka, jalan untuk mendekat kepada-Nya harus ditempuh dengan tradisi literasi: menulis, mencatat, dan mengikat ilmu.
Hanya Ada Tiga Golongan Manusia
Ketika manusia menolak fitrahnya untuk belajar, ia akan jatuh ke derajat yang paling rendah. Terkait hal ini, Imam Al-Fakhrurazi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib menukil sebuah riwayat dari Rasulullah ﷺ:
«النّاسُ عالِمٌ ومُتَعَلِّمٌ، وسائِرُ النّاسِ هَمَجٌ رَعاعٌ»
“Manusia itu (hanya) ada tiga: orang yang berilmu (pengajar), orang yang menuntut ilmu (pelajar), dan selain itu adalah laron-laron/manusia bodoh yang tidak ada manfaatnya.”
Di dunia, mereka yang enggan belajar hidup tanpa arah, terbang tanpa kompas kebenaran. Imbasnya, Imam Al-Fakhrurazi menjelaskan bahwa di akhirat kelak, keadaan mereka diserupakan dengan firman Allah dalam Surah Al-Qari’ah: (Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan), sebagai jaza’an wifaqa (balasan yang setimpal). Di dunia mereka hidup tanpa ilmu bagai laron, maka di akhirat mereka dikumpulkan dalam kondisi hina laksana laron yang tak bernilai.
Tragedi Laron: Kerumunan yang Menantang Maut
Ketidaktahuan (kebodohan) bukan sekadar masalah “tidak tahu”, melainkan sebuah ancaman keselamatan yang fatal. Orang yang hidup tanpa bimbingan ilmu diibaratkan seperti laron atau kutu malam (al-farash) yang berkerumun menuju api.
Dalam Shahih Muslim, Imam Al-Qurtubi menukil sebuah hadis sahih dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah ﷺ membuat perumpamaan yang sangat menyentuh hati:
مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا، فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا، وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي
“Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api. Maka mendatasilah serangga-serangga kecil dan laron-laron menjatuhkan diri ke dalam api tersebut, sementara lelaki itu berusaha menghalau mereka dari api. Dan aku (pun) memegangi tali ikat pinggang kalian agar tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian justru meloloskan diri dari tanganku.”
Imam Al-Fakhrurazi menguraikan mengapa manusia bodoh diserupakan dengan laron (al-farash) dan belalang (al-jarad):
-
Bagaikan laron (al-farash): Karena laron jika terbang tidak memiliki satu tujuan yang searah. Mereka terbang acak, kacau, meraba-raba dalam kegelapan, dan secara bodoh menyerbu cahaya lampu/api yang sebenarnya membinasakan mereka.
-
Bagaikan belalang (al-jarad): Karena jumlah mereka yang sangat banyak (al-katsrah) dan datang berbondong-bondong secara berurutan (at-tatabu’) menuju kehancuran.
Begitulah gambaran masyarakat yang enggan belajar. Mereka bergerak secara massal, mengikuti tren yang merusak, memburu syahwat duniawi yang dikira “cahaya” padahal sesungguhnya adalah “api neraka”. Nabi ﷺ sudah berpayah-payah menahan ikat pinggang kita, menghalangi kita dengan petunjuk wahyu, namun kebodohan membuat manusia berontak dan meloloskan diri dari dekapan keselamatan Sang Nabi.
Kesimpulan: Tiada Jalan Wushul Tanpa Belajar-Mengajar
Jalan keselamatan itu telah dipetakan dengan sangat jelas. Jika Anda ingin selamat dari kobaran api kebodohan dan api neraka, tidak ada pilihan lain kecuali menempatkan diri Anda pada dua posisi mulia: menjadi seorang ‘Alim (pengajar) atau menjadi seorang Muta’allim (pelajar).
Sebab, thariqah wushul ilallah (jalan untuk sampai kepada ridha Allah) tidak bisa ditempuh dengan kebodohan yang meraba-raba. Ia harus ditempuh dengan kompas yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, yaitu kompas yang bertuliskan kata pertama dari peradaban Islam: Iqra’—Bacalah, belajarlah! Jangan biarkan diri kita menjadi golongan ketiga; kerumunan laron yang terbang tanpa arah, menolak diselamatkan, dan berakhir binasa dalam kobaran api.
0 Comments