Membimbing Manusia Butuh Samudera Kesabaran

Published by santri dzinnuha on

ilmu meresap karena kasih sayang guru pada muridnya

Catatan ini saya rangkum dari dawuh Gus Abdul Ghofur Maimoen saat memberikan tausiah pada Haul Kyai Cholil Harun dan para menantunya. saya merasa sayang bila ini dilewatkan dan penting dibaca untuk mereka yang menyebut diri guru atau pendidik.

Sebagai seorang guru, pernahkah kita berpikir, sebenarnya apa ukuran suksesnya seorang yang berbagi ilmu? Apakah saat majelisnya penuh sesak dipadati ribuan jemaah, atau ketika ia berhasil mendidik satu-dua orang hingga menjadi manusia yang mandiri dan berbobot?

Pertanyaan sederhana ini sejatinya mengajak kita menyelami kembali hakikat ikhlas dan kasih sayang dalam ilmu. Kalau kita membuka lembar sejarah, ada pemandangan menarik dari dua ulama besar: Imam Ahmad bin Hanbal dan sang guru, Imam Asy-Syafi’i. Majelis Imam Ahmad begitu riuh, dipenuhi ribuan orang yang berdesakan menimba ilmu. Namun, Imam Syafi’i sering kali mengajar lingkar santri yang tak terlalu besar. Bedanya, hampir dari setiap lingkar kecil itu, lahir tokoh-tokoh hebat. Dalam tiga tahun Imam Syafii mencetak Imam Muzani, Imam Buaithi, Imam Rabi’ dan lain-lain.

Hari ini, kacamata kita sering kali tergiur oleh riuhnya angka dan ramainya stan. Panitia acara puas jika aula penuh, kita pun sering merasa berhasil jika pengajian kita disaksikan banyak mata. Padahal, baik jalan Imam Ahmad maupun jalan Imam Syafi’i, keduanya memiliki kemuliaan tersendiri di sisi Allah. Yang satu menyebarkan kemanfaatan secara luas, yang satu menanam benih dalam-dalam.

Menariknya, hubungan antara guru dan murid dalam tradisi kita tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Bukan cuma murid yang bangga pada gurunya, tapi guru pun menyimpan kebanggaan yang dalam pada muridnya.

gus ghofur saat menyampaikan materi

Tengoklah bagaimana Imam Syafi’i dengan bangga menceritakan sosok Az-Za’faroni. Ia seorang pemuda yang bukan dari kalangan Arab, namun paling lantang dan fasih membaca kitab di hadapan para kiai sepuh Baghdad. Saking cintanya pada sang murid, Imam Syafi’i sampai berseloroh mengaku-aku bagian darinya. Hal serupa juga kita temukan pada Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Zubair Sarang yang membanggakan Mbah Sahal Mahfudh, Mbah Umar Haroen yang membanggakan Mbah Cholil Haroen adiknya yang disebut Imam Sibawaih tanah jawa dari hasil didikannya hingga Rasulullah SAW sendiri yang menyebut nama Uwais Al-Qarni sosok yang belum pernah bertatap muka langsung dengan Beliau, namun ketulusannya menembus langit.

Dari sini kita belajar, membimbing manusia itu butuh samudra kesabaran. Ingatkah kita ketika Rasulullah SAW sedang berkhotbah Jumat, lalu sebuah kafilah dagang tiba di Madinah? Sebagian besar jemaah berhamburan keluar karena tergoda urusan dunia, hingga menyisakan 12 orang saja di dalam masjid. Apakah Rasulullah murka? Tidak. Allah menyapa peristiwa itu dengan kelembutan petunjuk-Nya melalui Al-Qur’an.
وَاِذَا رَاَوْا تِجَارَةً اَوْ لَهْوًا ࣙانْفَضُّوْٓا اِلَيْهَا وَتَرَكُوْكَ قَاۤىِٕمًاۗ قُلْ مَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَࣖ ۝١١

Apabila (sebagian) mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera berpencar (menuju) padanya dan meninggalkan engkau (Nabi Muhammad) yang sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan.” Allah pemberi rezeki yang terbaik.

Begitu pula Abu Hanifah, yang dengan lapang dada menghadapi amukan seorang ibu yang menarik anaknya Abu Yusuf dari majelis karena urusan ekonomi. Ia ingin anaknya lebih baik bekerja daripada mengaji. Abu Hanifah tidak marah bahkan kemudian justru menanggung biaya hidup muridnya itu agar ia bisa terus belajar dan menjadi salah satu ulama besar mazhab Hanafi.

Keteladanan ini sejatinya berakar dari para sahabat. Sayyidina Abu Bakar yang lembut namun memiliki hati yang selalu terikat pada Allah meski berada di riuhnya pasar. Sayyidina Umar yang tegas, yang tak ragu menegur pejabatnya jika ada pintu rumah yang menghalangi aduan rakyat kecil, namun runtuh dan lemas kakinya saat mendengar kabar wafatnya Baginda Nabi. Karena kecintaan Rasulullah yang luar biasa pada sahabat-sahabatnya.

Pada akhirnya, merawat tradisi ilmu dan kasih sayang ini adalah panggilan untuk kita semua. Bukan soal seberapa riuh majelis yang kita buat, melainkan seberapa tulus keberadaan kita dalam menebar kemanfaatan. Semoga langkah para sesepuh ini terus mewarnai hati kita, abadi hingga kelak kita dipertemukan kembali di majelis-Nya. Aamiin.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *