Agama Bahasa Contoh, Bukan Bahasa Busa

Published by santri dzinnuha on

membiasakan memberi teladan

Tadi pagi, sambil menyeruput kopi hitam sambil melihat para santri bersiap pergi sekolah, pikiran saya mendadak disergap oleh satu perenungan mendalam. Mulai dari mendengar kisah orang-orang yang dikenal seorang mubaligh punya kajian disebuah masjid nasional, tetapi ternyata mempunyai kasus integritas yang parah hingga mendengar selenting-selenting politik uang dalam sebuah perhelatan ulama dikancah nasional. Adakah ini isyarat nabi, yang menyebut saatnya nanti kamu akan ketemu dengan para penceramah, suka menasehati tetapi kering kedalaman agama dan prakteknya. Habib Husein Ibn Alwy Binagil saat jeda kajian ngendikan “Kita hidup di zamannya orang gemar berkhotbah, namun langka yang mau berbenah dan inilah resiko hidup dizaman akhir.”

Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan secara telanjang dalam Al-Qur’an: “Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanah”—bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik? Dan mengapa di ayat lain, Dia menghantam keras dengan kalimat menyengat: “Kabura maqtan ‘indallāhi an taqūlū mā lā taf’alūn”—amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan?

Jawabannya sederhana namun menampar: Agama diturunkan dengan bahasa contoh, bukan sekadar dakwah verbal yang berbusa-busa.

Pencipta kita tahu betul tabiat kita para manusia. Manusia tak butuh retorika kosong atau susunan kata-kata muluk yang melayang di udara. Manusia butuh bukti konkret. Rasulullah SAW diperintahkan memimpin bukan sekadar dengan pengajaran teks, melainkan dengan membumikan akhlak. Beliau adalah Al-Qur’an yang berjalan. Syariat tidak diperkenalkan lewat seminar-seminar megah, melainkan lewat kejujuran dagang, kesederhanaan hidup, dan kelembutan sikap kepada tetangga.

Sayangnya, akhir-akhir ini kita disuguhi pemandangan yang menggelikan sekaligus tragis. Banyak orang mendadak terjebak dalam formalisme agama yang dangkal. Berpakaian lengkap ala santri, bersarung rapi, berpeci miring penuh wibawa, bergamis lebar atau memang ia benar-benar alumni pesantren. Namun perilakunya jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan akhlak santri yang sejati. Lidahnya tajam memfitnah, lakunya gemar menindas, dan hatinya dipenuhi kesombongan bahkan sangat koruptif. Pakaian dijadikan topeng kesalehan, sementara substansi agama ditinggalkan di keranjang sampah.

Islam tidak diukur dari seberapa tebal kain yang kita kenakan, melainkan seberapa halus budi pekerti yang kita tampilkan. Memperkenalkan Islam kepada dunia bukan dengan cara berteriak di podium, melainkan dengan menunjukkan kejujuran saat memegang uang, kelapangan dada saat dikritik, dan kepedulian pada sesama.

Para ulama pesantren terdahulu sudah sangat paham ancaman kepalsuan ini. Dalam kitab-kitab klasik, mereka menggubah nadzam (bait syair) sebagai pengingat abadi agar ilmu dan formalisme tidak menjadi bumerang di akhirat.

Mari kita renungkan bait legendaris dalam Nadzam  Zubad karya Imam Ibn Ruslan berikut:

**فَعَالِمٌ بِعِلْمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ ** مُعَذَّبٌ مِنْ قَبْلِ عُبَّادِ الوَثَنِ

“Maka seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, akan diazab sebelum para penyembah berhala.”

Atau mari petik hikmah dari petuah Syaikh Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim:

**فَسَادٌ كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ ** وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ

**هُمَا فِتْنَةٌ فِي الْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ ** لِمَنْ بِهِمَا فِي دِيْنِهِ يَتَمَسَّكُ

“Sebuah kerusakan besar jika ada orang berilmu namun melanggar aturan (tak berakhlak), dan lebih besar lagi kerusakannya: orang bodoh yang berpura-pura ahli ibadah.

Nantinya, keduanya akan menjadi fitnah (bencana) yang besar di dunia bagi siapa saja yang menjadikan mereka panutan dalam beragama.”

Sudah saatnya kita melepas jubah kepalsuan. Berhentilah menyuarakan kebaikan jika diri sendiri masih gemar menimbun kedengkian. Mari kembalikan agama ke wujud aslinya: sebuah keteladanan nyata. Sebab di mata dunia dan di hadapan Tuhan satu tindakan nyata jauh lebih bernilai ketimbang ribuan kata yang menguap tanpa makna. Ingatlah didadamu ada almamatermu, jangan permalukan gurumu dengan perilaku burukmu.

Categories: artikel

1 Comment

Diba charming · September 2, 2026 at 3:59 am

Kebanyakan para penyampai dakwah hanya sekedar formalitas agama, menjadi ajang menakut nakuti dengan dalil dalil yg rajin dipelajari, tapi tak ada daya serap dihati, ahirnya apa yg disampaikan hanya sekedar menggugurkankan nukilan dalil, tidak menyentuh kehati pendengarnya, hampa.
Akan berbeda jika apa yg dicontohkan dengan ketauladanan, akan lebih membekas dan akan diburu orang yg haus akan keteladanan. Kita harus tetap berprilaku dan berakhlak yg baik, karena akhlak yg baik adalah sebenar benarnya dakwah🙏

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *