Cahaya Kewalian dan Suluh Keilmuan: Merawat Tradisi Ilmu di Tengah Zaman yang Gamang

wali yang berbasis ilmu pengetahuan lebih utama
Ayat-ayat Al-Qur’an, laksana lentera yang menerangi kegelapan, senantiasa menuntun kita pada pemahaman yang mendalam tentang hakikat kehidupan dan spiritualitas. Dalam surat Yunus (10: 62-64), Allah SWT berfirman tentang para wali-Nya, mereka adalah orang-orang yang tak gentar dan tak berduka, yakni orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang bagi mereka berita gembira di dunia dan akhirat telah dijanjikan. Janji Allah ini abadi, sebuah kemenangan yang agung.
Syekh Yusuf ibn Ismail An-Nabhani, dalam Jami’ Karamatil Auliya, menyingkap dua sisi pemaknaan kata “wali”. Pertama, sebagai sighat mubalaghah, penekanan pada seorang hamba yang terus-menerus taat tanpa cela kemaksiatan. Kedua, sebagai isim maf’ul, yakni seseorang yang mendapatkan penjagaan dan pertolongan dari Allah dalam menjauhi kemaksiatan dan istiqamah dalam ketaatan. Kedua pemaknaan ini mengisyaratkan sebuah kedekatan yang istimewa dengan Sang Khalik.
Namun, kedekatan ini bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba atau tanpa usaha. Para ulama salaf lebih cenderung menyebut para wali ini adalah mereka yang dengan kearifan dan kecintaan mereka pada ilmu, selalu mewasiatkan kepada generasi penerus untuk tekun mempelajari kitab-kitab yang telah mereka kaji. Wasiat ini bukan sekadar tradisi lisan, melainkan sebuah upaya untuk menumbuhkan semangat keilmuan dan memastikan estafet pengetahuan terus berlanjut.
Menelisik pengertian wali dari apa yang disebut Syekh Yusuf an-Nabhani, menunjukkan kewalian itu menuntut pemahaman ilmu yang baik. bagaimana dia menghindari kemaksiatan bila dia tidak mampu memahami mana ketaatan yang ternoda kemaksiatan dan tidak? Meski kita tidak menolak adanya derajat kewalian dari jalur selain ilmu, tetapi kewalian menuntut seseorang itu alim. Derajat kewalian adalah penghargaan untuk orang alim dari Allah.
Kita ingat bagaimana Abu Hurairah RA, seorang sahabat yang dikenal dengan daya hafalnya yang luar biasa, menerima wasiat dari Rasulullah SAW untuk melaksanakan shalat witir sebelum tidur. Padahal, secara fikih, witir adalah penutup shalat malam. Mengapa demikian? Dalam Fathul Bari, dijelaskan bahwa kesibukan Abu Hurairah dalam menghafal hadits hingga larut malam, mengingat beliau tidak bisa membaca dan menulis, menjadi pertimbangan Rasulullah SAW memberikan kelonggaran witir sebelum tidur. Ini adalah sebuah kebijakan yang menunjukkan betapa Rasulullah SAW menghargai dan memfasilitasi mereka yang mencurahkan hidupnya untuk merawat ilmu.
Kisah para pemimpin dan khalifah di masa lalu juga memberikan pelajaran berharga. Sayyidina Utsman bin Affan RA, bahkan setelah menjadi khalifah, masih meriwayatkan hadits tentang tata cara wudhu. Bayangkan, seorang kepala negara masih tekun mengkaji hal-hal yang dianggap remeh, demi menjaga keutuhan dan keakuratan ilmu agama. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, ketika menjabat sebagai khalifah, mengajak para santrinya berkeliling untuk menjelaskan konsep jamak dalam shalat, sebuah demonstrasi praktis untuk memudahkan pemahaman agama. Mereka, para pemimpin umat, tidak pernah merasa gengsi untuk terus belajar dan mengajarkan ilmu, bahkan di tengah kesibukan urusan negara.
Jika setiap orang yang memiliki ilmu mau dengan tulus dan sabar mengajarkannya, niscaya kekhawatiran Nabi Muhammad SAW tentang munculnya pemimpin-pemimpin bodoh yang menyesatkan umat tidak akan pernah menjadi kenyataan. Inilah esensi dari upaya para ulama dalam menjaga keberlangsungan ilmu. Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah bahkan pernah berujar, sebuah ungkapan yang sarat makna: “Andai para ulama atau fuqaha bukan kekasih Allah, maka Allah tidak mempunyai kekasih.” Pernyataan ini menegaskan betapa tinggi kedudukan para ulama di sisi Allah SWT.
Oleh karena itu, tradisi menyebut ulama sebagai kekasih Allah (awliya’ Allah) perlu terus dilestarikan dan dipahami dalam konteks yang benar. Sungguh memprihatinkan ketika di zaman sekarang, orang-orang dengan perilaku aneh atau klaim-klaim spiritual yang tidak berlandaskan ilmu justru diagungkan sebagai wali, sementara para ulama yang istiqamah dalam mengajarkan ilmu dan membimbing umat justru dipandang sebelah mata atau bahkan disalahkan.
Wali yang sesungguhnya, yang paling utama, adalah mereka yang memiliki ilmu agama yang mendalam dan mengamalkannya. Membuat keanehan atau melakukan perjalanan spiritual yang eksentrik memang bisa saja terjadi, namun menjadikan seorang murid alim yang menguasai ilmunya, yang mampu meneruskan estafet keilmuan, adalah sebuah perjuangan yang jauh lebih berat dan mulia. Seorang guru sejati akan lebih bangga melahirkan lima orang alim yang mumpuni daripada memiliki banyak pengikut yang hanya mengagumi hal-hal di luar nalar.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk kembali mengedepankan peran ulama yang alim, yang ilmunya menjadi suluh bagi umat. Kewalian yang hakiki bersemi dari keimanan dan ketakwaan yang didasari oleh ilmu yang benar. Di tengah arus informasi yang deras dan seringkali menyesatkan, kehadiran ulama yang teguh pada kebenaran ilmu menjadi semakin krusial. Mereka adalah benteng penjaga agama, pewaris risalah kenabian, dan kekasih-kekasih Allah yang sesungguhnya. Marilah kita menghormati, mengikuti, dan mendukung perjuangan mereka dalam merawat dan menyebarkan ilmu, demi kemaslahatan umat dan keridhaan Ilahi.

infaq untuk pendidikan
disarikan dari ceramah KH. Dr. Abdul Ghafur Maimoen dalam Haul KH. Suyuti Abdul Aziz dan KH. Suyuti Cholil pada 4 April 2025 di Rembang
0 Comments