Menyebarkan Ilmu: Amanah Kenabian dan Urgensi Ulama

mengajar mereka yang minat
Usai menyampaikan risalah dan hikmah, Rasulullah ﷺ senantiasa mewasiatkan dengan sabdanya yang mulia: “Hendaklah yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir.” Demikianlah, betapa besar keinginan beliau agar ilmu yang bagaikan cahaya ini tidaklah terhenti pada segelintir jiwa, melainkan meluas, menerangi setiap sudut kehidupan umat. Sebuah ikhtiar luhur agar estafet keilmuan terus berlanjut, sehingga umat ini tidaklah kehilangan para pewaris nabi, para ulama yang membimbing di tengah gelapnya kejahilan.
Sungguh, Rasulullah ﷺ telah memperingatkan kita akan bahaya hilangnya ulama. Beliau bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dari dada manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”
Oleh karena itu, menjadi sebuah keprihatinan mendalam tatkala masyarakat mencari tuntunan kepada mereka yang fakir ilmu, yang mengaku diri berilmu namun lisan dan perilakunya jauh dari hikmah. Fenomena di mana ketidakmampuan justru dipertontonkan, kejahilan disebarluaskan melalui berbagai platform, sungguh merupakan sebuah ironi. Para ulama terdahulu, meskipun usia mereka relatif singkat, namun keberkahan ilmu dan karya mereka sungguhlah abadi. Imam Al-Ghazali dengan usia yang hanya separuh abad, Imam An-Nawawi yang wafat di usia genap empat puluh tahun, Imam Asy-Syafi’i yang juga berpulang di usia lima puluh tahun, telah mewariskan khazanah ilmu yang tak ternilai harganya.
Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kedalaman ilmu tidak selalu berbanding lurus dengan panjangnya usia, melainkan dengan kesungguhan dan ketekunan dalam menuntutnya. Betapa Imam An-Nawawi di usia yang belia mampu menghasilkan karya-karya monumental, konon setiap harinya beliau menulis hingga dua puluh halaman. Imam Asy-Syafi’i, meskipun dalam kondisi fisik yang lemah akibat sakit wazir yang dideritanya selama empat tahun di Mesir, tetap gigih menghasilkan mahakarya Al-Umm dan mendidik murid-murid yang kelak menjadi ulama besar, seperti Imam Muzani, Al-Buwaithi, Rabi’ bin Sulaiman, dan Muhammad bin Hakam. Mereka dididik dalam waktu yang relatif singkat, namun berkat kesungguhan dan bimbingan yang tepat, mampu mencapai derajat keilmuan yang tinggi.
Wafatnya seorang ulama hendaknya menjadi momentum untuk mempersiapkan penggantinya. Tidak ada seorang guru, seorang kyai yang bercita-cita agar ilmunya terputus. Justru, kegelisahan seorang guru adalah manakala tidak ada di antara murid-muridnya yang mampu mewarisi dan mengembangkan ilmunya. Seorang pendidik sejati akan senantiasa mencari potensi dalam diri para santrinya, bahkan tak jarang memberikan dukungan materi agar mereka dapat fokus dalam menuntut ilmu. Kisah Rabi’ bin Sulaiman, yang karena keterbatasan ekonominya kesulitan untuk makan, namun berkat kejelian Imam Asy-Syafi’i yang melihat kekuatan hafalannya, beliau senantiasa disuapi oleh sang guru. Dengan ketelatenan ini, seluruh ilmu Imam Asy-Syafi’i terpatri dalam benak Rabi’, hingga ia pun menjelma menjadi seorang alim yang mumpuni.
Ilmu itu laksana pencuri, ditanya terus, dipukuli terus, lama-lama ia mengaku. Ilmu semakin sering diulang dan ditelaah, ia akan semakin melekat dan terungkap rahasianya. Begitulah kiranya ketelatenan Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan wahyu, yang kemudian diwariskan kepada para sahabat, lalu diteruskan kepada generasi tabiin dan seterusnya. Almaghfurlah K.H. Anwar Manshur dari Lirboyo pernah dawuh, sebuah pesan yang sarat hikmah: “Untuk meraih kesuksesan dalam menuntut ilmu, dibutuhkan ketelatenan seorang guru, kesungguhan seorang santri, dan dukungan dari kedua orang tua.” Semoga kita semua senantiasa diberikan taufik dan hidayah untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya, serta melahirkan generasi ulama yang akan meneruskan risalah kenabian.
tulisan ini disarikan dari Mawaidh Kyai Abdul Ghafur Maimoen pada Haul KH. Suyuti Cholil dan KH. Suyuti Abdul Aziz

infaq untuk pendidikan
0 Comments