Membuktikan Cinta Melalui Puasa Dan Zakat

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Ramadan adalah sekolah bagi umat Islam. Ramadan menempa seorang muslim agar memiliki kualitas diri yang memiliki kepekaan akan jati diri seorang manusia yang sama-sama lemah, rendah dan setara ketika di masa kelaparan. Pada proses menjalani puasa Ramadan seorang muslim tidak dituntut melakukan pergerakan. Rasulullah mengajarkan tadarus, yang didalamnya ada proses membaca quran dan menyimak. Tentu tidak seharusnya hanya mendengar saja, ada proses mengangan-angan makna yang dikandung didalamnya.

Dalam lapar ada ajaran memahami yang lemah, dan dalam tadarus ada ajaran untuk memahami bahwa setiap manusia tidak mungkin berdiri sendiri, ia butuh orang lain. Itulah kenapa kepahaman harus kemudian termanifestasikan dalam berinfaq, berzakat dan bersedekah.

zakat dan puasa untuk cinta

Dari kacamata ibadah, Ibadah adalah tanda bakti, syukur, dan cinta kita kepada Allah. Karena itu ibadah adalah hubungan paling intim dengan Tuhan. Ibadah bukan masalah menjalankan kewajiban tetapi ibadah sebuah kebutuhan makhluk untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Ibadah puasa adalah ibada kesunyian. Tak seorangpun mengetahui kesungguhan proses menjalani puasa kecuali sang hamba itu dengan Tuhannya. Sebagaimana para pecinta yang sedang dimabuk arak cinta, hubungan cinta dengan Tuhan begitu indah hingga tak ingin dilihat yang lain. Hanya ada Engkau dan saya. Hingga puasa tidak bisa dipamerkan.

Saat manusia sebagai seorang hamba sudah dimabuk cinta dengan Tuhannya. Ibadah bukan lagi kewajiban tetapi kebutuhan yang sangat ditunggu. Ramadan kemudian menjadi ajang pembuktian sebuah cinta, bagaimana seseorang kemudian menjalani ibadah qiyam lail, membaca quran, tadarus hingga berzakat dengan suka cinta tanpa beban.  Cinta butuh bukti, dan untuk membuktikan cinta itu, seorang hamba pasti akan mengiyakan semua yang diminta kekasih sejati, Ilahi.

Allah dalam surat at-Taubah 103 menegaskan bahwa zakat diperintahkan untuk membersihkan dan mensucikan seorang muslim. Imam Baghawi dalam tafsirnya menyatakan kalimat “tutohhiruhum” dalam ayat ini berarti mensucikan seseorang dari dosa-dosanya. Sementara kata “tuzakkiihim” berarti mengangkat seseorang dari derajat kemunafikan kepada derajat keikhlasan. Ikhlas itu sendiri terjadi saat seseorang melakukan segala macam ibadah hanya untuk dipersembahkan pada Allah tanpa tendensi kepada siapapun.

Disinilah korelasi puasa dan zakat, puasa menjadi media pendekatan diri dengan Allah, sementara zakat mengupayakan media pendekatan itu dalam keadaan bersih dan dipenuhi rasa hanya kepada dan untuk Allah. Sebuah kerinduan pada Tuhan terbuktikan oleh hati yang hanya terisi cinta Allah.

Dari sisi fikih, sebagaimana edisi sebelumnya telah dibahas, bahwa zakat fitrah sebagai salah satu variable cabang zakat adalah penambal ibadah puasa yang ternodai oleh perilaku laghwu dan rafats. Berbuat tanpa manfaat dan bahkan melakukan perbuatan tidak baik di bulan Ramadan yang menghilangkan pahalanya.

Cinta kepada Allah tentu saja harus mencintai segala yang dinisbatkan kepadanya, termasuk mahluk Allah yang berwujud manusia. Kita menahan lapar untuk membangun empati kepada sesama ciptaan Allah dan membayar zakat untuk membuktikan empatinya tidak hanya dibibir saja. Cinta memang membutuhkan bukti dan ketulusan. Zakat dan puasa menghantarkan seseorang untuk membuktikan cintanya pada Penciptanya.

infaq untuk pendidikan

Categories: kajian

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *