Menyapih Hawa Nafsu Yang Tak Puas
Seorang kawan bertanya pada saya tentang status seorang perempuan yang ayahnya di Kartu Keluarga tertulis meninggal. Pernikahan ayah dan ibunya dilakukan secara sirri hingga status dalam akta kelahiran sang perempuan adalah anak seorang ibu. Sang ayah sendiri ternyata masih hidup dan mengganti semua data dirinya untuk pernikahan ke dua dengan orang lain. Siapakah yang akan menjadi wali nikah?

ayah palsu menjadi wali nikah
Menarik sekali kasus ini kita bahas di bulan Ramadan ini. Karena bulan Ramadan merupakan bulan yang mengajarkan kita untuk bekerja secara profesional dan jujur. Dari mana kita bisa mengambil hikmah ini? Dari pola puasa yang hanya mengandalkan niat seseorang dan kemudian tidak ada yang tahu apakah dia menahan diri melakukan perilaku yang membatalkan puasa ataukah tidak. Semua berpulang pada pribadi-pribadi.
Saya mendiskusikan masalah ini dengan kawan-kawan KUA, banyak beragam komentar, ada yang menyatakan posisi ayah sebagai wali secara syariat harus dilindungi, karenanya yang menikahkan haruslah sang ayah meski ia telah merubah nama dan secara kenegaraan dia dianggap mati.
Ada pula yang menyatakan bahwa walinya adalah wali hakim karena ayah secara sengaja menghapus data dirinya hingga secara perdata ia kehilangan hak hukum keperdataan untuk bisa menikahkan anak perempuannya.
Ramadan menempa seorang muslim untuk profesional dan bersedia berkomitmen untuk menjaga apa yang ia sudah niatkan sejak awal. Bila pelajaran Ramadan ini dipegang denegan baik oleh sang ayah, maka ia tidak akan merubah data dirinya bahkan secara ekstrem mematikan status namanya. Hingga ia tidak bisa dilacak lagi keberadaannya dengan nama yang lama.
Pasti banyak pelanggaran yang oleh sang ayah lakukan, karena bagaimana mungkin ia bisa mengelabui dengan data diri baru? Bagaimana mungkin dalam kartu keluarga dia tertulis mati? Apakah bisa instansi seperti kelurahan dan dinas kependudukan menerima pengakuan tanpa bukti fisik tertulis? Berapa banyak instansi yang ia tipu?
Inilah kenapa Islam merasa perlu menempa umatnya untuk berkepribadian jujur melalui pelajaran puasa di bulan Ramadan ini.

bila akal berseteru dengan nafsu
Terkadang kebohongan yang dilakukan oleh seseorang, ia anggap sebagai urusan pribadi, ternyata mempengaruhi dan menyulitkan banyak orang. Bahkan anak sebagai darah daging kebingungan dengan tindakan tidak jujur sang ayah.
Ketika ayah berhasil merubah nama, membuat status mati pada nama sebelumnya, ia menikah lagi, puaskah ia secara keduniaan maupun akhirat? Pasti tidak akan ada kepuasan, karena ia hanya menuruti hawa nafsu. Imam Busyiri dalam Qasidah Burdah menegaskan: “wannafsu kattifli in tuhmilhu sabba ala hubbirradlai wa in taftimhu yanfathimi” Nafsu itu seperti anak kecil yang senang disusui, ia terus akan merengek minta disusui hingga ibunya menyapihnya. Bila disapih, dia tidak akan merengek lagi. Ramadan mengajak umat muslim menyapih nafsunya masing-masing.

infaq untuk pendidikan
0 Comments