Saat Cinta Tak Mampu Menyelamatkan
Saat seseorang mencintai dengan mendalam, mereka cenderung bersedia memberikan segalanya karena cinta memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mempengaruhi perilaku dan tindakan seseorang. Cinta bisa membuat seseorang merasa terhubung secara emosional dengan orang yang dicintainya, sehingga mendorongnya untuk memberikan dukungan, pengorbanan, dan perhatian tanpa pamrih. Dorongan ini mungkin berasal dari keinginan untuk melihat orang yang dicintai bahagia, merasa terlindungi, dan dicintai dengan sepenuh hati. Selain itu, rasa cinta yang mendalam juga bisa menciptakan rasa tanggung jawab dan keterikatan yang kuat, membuat seseorang siap untuk memberikan segalanya demi kebaikan orang yang mereka cintai.
Dari perspektif ilmu psikologi, fenomena di mana seseorang bersedia memberikan segalanya saat mencintai bisa dijelaskan melalui beberapa teori psikologis, antara lain:
- Teori Keterikatan: Teori ini menjelaskan bahwa hubungan emosional yang aman dan sehat antara individu, seperti hubungan antara orang tua dan anak, membentuk dasar bagi kemampuan seseorang untuk mencintai dan merawat orang lain. Keterikatan emosional yang kuat mempengaruhi perilaku altruistik seseorang terhadap orang yang dicintai.
- Teori Pertukaran Sosial: Teori ini menyatakan bahwa individu cenderung bertindak secara sosial dengan harapan akan mendapatkan imbalan yang sebanding atau lebih baik dari apa yang mereka berikan. Dalam konteks cinta, memberikan segalanya pada orang yang dicintai bisa dipahami sebagai upaya untuk membangun hubungan yang kuat dan saling menguntungkan.
- Psikologi Evolusioner: Pendekatan ini menyatakan bahwa perilaku manusia, termasuk cinta dan perhatian, berkembang karena adanya tekanan seleksi alam yang memungkinkan reproduksi dan kelangsungan hidup spesies. Dalam hal ini, memberikan segalanya pada orang yang dicintai bisa diinterpretasikan sebagai strategi evolusioner untuk mempertahankan ikatan sosial yang penting.
Dengan demikian, dari sudut pandang psikologi, kecenderungan seseorang untuk memberikan segalanya pada orang yang dicintai dapat disebabkan oleh berbagai faktor psikologis yang melibatkan keterikatan emosional, pertukaran sosial, dan evolusi perilaku manusia.
Tetapi semua cinta kasih yang membara hingga memunculkan teori-teori ini tidak akan berlaku saat kiamat datang. Allah. Imam Ibn Katsir dalam tafsir surat abasa ayat 33-38 menukil riwayat Ikrimah yang menceritakan pertemuan suami isteri, anak dan bapak yang masing-masing tidak lagi mampu atau berani memberikan apa yang ia miliki, Bagaimana seseorang bersusah payah mendapatkan sumbangan pahala yang menyelamatkan dirinya.

saat cinta tak mampu memberi
suami : “wahai isteriku seperti apakah aku ini”,
Isteri : “engkau adalah suami terhebat yang aku miliki” Kemudian isteri memuji suaminya setinggi langit seperti seseorang yang sedang dimabuk cinta.
Suami: ” wahai isteriku berikanlah sedikit amalmu untukku, siapa tahu aku bisa selamat disaat kiamat ini.”
Isteri: “wahai suamiku aku ingin meringankanmu, tetapi aku tidak kuasa memberikan amalku untukmu karena apa yang kau kuatirkan juga aku kuatirkan. Aku hawatir tidak selamat dengan amal yang aku miliki.”
Imam Ibn Katsir juga menceritakan dialog yang senada antara bapak dan anak, tetapi masing-masing tidak mampu menghadiahkan apapun untuk orang yang dicintainya. Itulah kenapa Allah mengilustrasikan hari kiamat dengan يوم يفر المرأ من اخيه وامه وابيه وصاحبته وبنيه hari dimana seseorang lari dari saudara, ibu, ayah, pasangan (suami/isteri)nya dan anak-anaknya. Karena di hari kiamat itu, لكل امرئ منهم يومئذ شأن يغنيه saat itu masing-masing orang sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak sempat memikirkan orang yang dicintainya. bahkan para Nabi yang tergolong ulul azmi, saat dimintai pertolongan, mereka mengucapkan nafsii nafsii, bagaimana dengan diriku sendiri, aku tidak minta apapun kecuali keselamatan diriku. Hanya Rasulullah sajalah yang menyatakan انا لها , انا لها akulah yang akan menolong umatku.
Apakah yang kita pikirkan dari kondisi ini? Orang yang kita bela, kita cintai ternyata tidak bisa menjadi penolong bagi diri kita, يوم لا ينفع مال ولا بنون , Kiamat adalah hari dimana anak-anak dan harta tidak lagi bisa memberi manfaat. Menilik tiga teori diatas, Rasulullah yang secara tulus mencintai umatnya tanpa bertanya imbal apa yang akan diberikan umatnya. Rasulullah mengorbankan dirinya untuk mengikat ummatnya dalam ikatan keberislaman dan kepatuhan pada Rasulullah agar memberi manfaat kepada dirinya sendiri.
Kiamat adalah saat-saat dimana cinta tak lagi mampu mendorong seseorang memberikan dan menyelamatkan orang yang dicintainya. Itulah kenapa Rasul bersabda, iman seseorang tidak sempurna bila belum menjadikan aku yang paling dicintai, meski atas diri sendiri. Jangan salah mencintai, karena cinta kepada orang salah tidak akan menyelamatkan kita dari dahsyatnya kegaduhan hari kiamat.

infaq untuk pendidikan
0 Comments