Loyalitas Pada Allah Tidak Bisa Ditawar

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat serius dengan tugasnya. Setiap kali mendapat tugas, beliau tidak hanya sekedar mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk mensukseskan tugasnya, tapi juga seluruh perasaannya terbawa dalam mengemban tugas.

Tabligh, menyampaikan risalah adalah salah satu tugas Nabi yang tidak ringan. Bagaimana menjelaskan keluhuran Islam kepada para penyembah berhala, tentu butuh strategi khusus. Saat semua upaya dilakukan tetapi masih saja gagal, tentu akan membuat kecewa. Itulah yang terjadi pada Rasulullah, rasa cintanya pada ummatnya, membuat Rasulullah bahkan menangisi jenazah non muslim yang lewat didepannya. Saat shahabat bertanya kenapa ditangisi, Rasulullah menjawab, bahwa beliau menyesali kenapa  ia meninggal saat belum berislam.

Terbawanya perasaan Rasulullah dalam berdakwah terhadap umatnya hingga Allah berkenan menghibur dengan menurunkan wahyunya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

sesungguhnya orang kafir itu baik diperingatkan atau tidak mereka tidak akan beriman.

Semangat Rasulullah dalam berdakwah hingga sempat mengabaikan Abdullah Ibn Umi Maktum yang kemudian membuat Allah berkenan menurunkan wahyu عبس وتولى .

Saat itu Rasulullah sedang menerima Utbah Ibn Rabiah, Shaibah Ibn Rabiah, Amr Ibn Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahal, Abbas Ibn Abdul Muthallib, paman Rasulullah, Umayyah Ibn Khalaf dan Walid ibn Mughirah. Rasulullah sangat berharap para pembesar-pembesar Quraisy itu masuk Islam hingga bisa membawa pengaruh kepada kabilah atau pengikutnya yang lain.

Tapi kemudian Abdullah Ibn Umi Maktum datang dan menyela meminta belajar dan memanggil Rasulullah berulang-ulang yang membuat Rasulullah agak terganggu.

Dari sisi kemanusiaan. Ada dua riwayat yang bisa digunakan acuan tentang hal ini, Abdullah Ibn Umi Maktum dianggap tahu bahwa sebenarnya Rasulullah sedang sibuk, sehingga menuduh Abdullah suul adab. Riwayat kedua Abdullah Ibn Umi Maktum tidak tahu bahwa Rasulullah sedang sibuk hingga memanggil berulang-ulang hingga Rasulullah tidak nyaman.

Tetapi dari sisi Allah, Allah lebih menyukai Rasulullah memberi perhatian lebih kepada Abdullah karena Abdullah seorang mukmin, sementara pembesar Quraisy itu belum tentu mau masuk Islam. Terlebih mereka butuh hidayah Allah untuk kemudian bisa berislam.

Point inti dari kisah ini adalah:

  1. Allah meletakkan cinta kasih yang luar biasa kedalam hati Rasulullah hingga tugas yang dijalankan memunculkan kesedihan saat tidak mampu membuat umatnya mendapat hidayah.
  2. Rasulullah mengedukasi ummatnya agar lebih mengedepankan akhlak, tidak menyela orang yang sedang berbicara.
  3. Teguran Allah mengisyaratkan bahwa apapun harapan dan cita-cita seseorang dalam menjalankan dakwahnya, dia tidak boleh melanggar rule yang ditetapkan oleh Allah.
  4. Loyalitas kepada Allah bersifat hitam putih, tidak bersifat abu-abu, meski orang yang datang tidak memenuhi adab seharusnya, bila Allah memerintahkan untuk diutamakan, maka ia harus diutamakan.
  5. Orang yang dimulyakan Allah, lebih pantas dihormati dibanding orang yang terhormat dihadapan manusia, terlepas dari niat kita memulyakan orang yang terhormat dihadapan manusia adalah untuk kemulyaan agama kita.

 

Categories: kajian

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *