Pendapatan Dunia Hanyalah Bonus Dari Tujuan Yang Lebih Mulia
Kajian Tafsir, Rangkuman Dari Kajian Shofwat Tafasir Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil 14/1/24
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَنفَالِ ۖ قُلِ ٱلْأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.
Bila menilik asbabunnuzul dari ayat ini sangat menarik bila kita urai dan kita jadikan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Sofwatuttafasir, Pada saat perang badar, Rasulullah menyampaikan janji rampasan perang untuk menggugah semangat para sahabat untuk menyingsingkan lengan baju bersiap ke medan laga.

rampasan perang bukan tujuan
Mendengar hal ini, shahabat yang sudah berusia lanjut tetap dibawah bendera panji, sementara yang muda memacu kudanya untuk berperang. Usai perang yg sepuh minta bagian perang karena meski tidak memacu kuda digaris depan, mereka membackup kelompok muda dibelakang, tapi mereka yg muda menolak.
Perselisihan ini dilaporkan ke Nabi dan turunlah ayat pertama dr surat ini. Dan oleh Nabi semua rampasan perang dikumpulkan kembali dan di bagi rata. Nabi kemudian menjelaskan bahwa sebagaimana rampasan perang itu disebut dengan kalimat Al anfal, rampasan perang adalah bonus bukan tujuan. Tujuan perang sesungguhnya adalah menegakkan agama Allah, berburu ridlo Allah.
Allah memahami bahwa manusia rentan melakukan korupsi dan kecurangan. Ciri dasar manusia adalah tamak dan susah berqanaah. Dalam sebuah riwayat Rasulullah menegaskan:
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)
Itulah kenapa kemudian Allah mengaturnya dan memperingatkannya dengan kalimat
فاتقوا الله و اصلحوا ذات بينكم
perbaikilah hubungan diantaramu dengan harmonis dan jangan bertikai karena harta. Warnai sikapmu dengan warna ketaqwaan.Allah kemudian menegaskan kembali, bila beriman:
ان كنتم مؤمنين
maka engkau akan mentaati Allah dan Rasulnya.
Al-Quran adalah ayat yang hidup yang menjadi petunjuk bagi umat Muhammad. Karenanya dengan turunnya ayat ini, sudah ditegaskan bahwa yang menentukan pampasan perang adalah Allah dan Rasulnya, bukan dibagi seenaknya.
Untuk meningkatkan kepatuhan para sahabat, Allah menurunkan ayat
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
Mukmin yg sempurna, jika disebut Nama Allah bergetarlah hati mereka karena mengagungkan Allah. Pada saat dibacakan ayat quran maka bertambahlah kepercayaan mereka dan keyakinannya pada Allah. Dan tidak mengharap selain pada Allah.
Tidak itu saja seorang mukmin adalah sebagaimana dicirikan dalam ayat
ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ ينفقون
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
Kriteria dari dua ayat (ayat ke 2 dan 3 surat al-Anfal) inilah yang menjadi ciri mukmin sesungguhnya.
أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.
Seorang mukmin sesungguhnya adalah mereka yang mengumpulkan dua hal yaitu keimanan dan amal shalih. Mereka yang mempunyai dua hal ini, akan mendapat derajat yang tinggi disisi Allah dan ampunan dari segala dosa. Mereka mendapat rizki yang langgeng yang terus menerus disertai keagungan dari Allah.
Ayat ini mengedukasi para shahabat untuk mau berbagi dalam hal dunia dan tidak berebut atau bahkan diperselisihkan. Tentu saja hal ini juga mengedukasi kita pengikut Rasulullah. Gaji, Tunjangan Profesi, Honor atau bermacam materi lainnya yang kita dapat dari kerja kita seharusnya sekedar menjadi bonus untuk tujuan utama kita khidmah ummat demi ridla Allah. Teredukasikah kita?

infaq untuk pendidikan
0 Comments