Mencampur Beras Zakat dan Memberikan Ke Orang Yang Tidak Shalat

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Assalamualaikum, wr.wb
Bagaimana hukum amil mencampur beras zqkat fitrah biar bisa merata pembagiannnya. Bolehkah zakat fitrah diberikan kepada orang yang tidak shalat?
Lazisnu MWC Blimbing
Jawab
Zakat fitrah adalah zakat batin yang sebenarnya tidak membutuhkan amil. Ia dianjurkan diberikan langsung kepada mustahiq agar ada interaksi antara si kaya dan si miskin. Dalam hal zakat fitrah disalurkan kepada amil, xeperti Lazisnu, maka amil hanya bersifat wakil penyaluran zakat fitrah yang tidak diperkenankan melakukan hal-hal diluar kewenangan yang diberikan oleh orang yang mewakilkan.

mencampur beras zakat

Selaku wakil, amil hanya boleh menyalurkan kepada yang berhak saja. Tidak diperkenankan melakukan apapun termasuk membuka bungkus beras zakat hingga mencampurkan dengan beras zakat orang lain.
Salah satu syarat zakat fitrah itu dianggap sah, zakat tidak tiak boleh kembali kepada orang yang berzakat. Sementara zakat fitrah adalah zakat badan/batin yang diwajibkan kepada semua orang baik kaya maupun miskin. Selama mengaku islam dia wajib membayar zakat. Karenanya mungkin seorang miskin mengeluarkan zakat kemudian dia juga menerima zakat. Bila zakat yang diberikan oleh seorang fakir miskin itu kemudian dicampur dan saat pembagian ada satu butir beras yang kembali kepada orang fakir miskin itu, maka zakat fakir miskin itu tidak sah. Itulah kenapa mencampur beras zakat fitrah tidak dianggap sah.

Mengenai peruntukan zakat fitrah, menurut pendapat kuat memang hanya boleh diberikan kepada orang yang shalat. Ia tidak boleh diberikan kepada orang yang meninggalkan shalat. Termasuk pula tidak boleh diberikan kepada non muslim.
Bagaimana kalau selama ini terlanjur diberikan kepada orang yang meninggalkan shalat? Kalau sudah terlanjur, bisa mengikuti  madzhab Hanafi yang memperbolehkannya. Sedangkan menurut Imam Syafi’i tetap harus diberikan kepada lil musholli.
Apakah orang yang biasa (bertahun-tahun) Tarikush sholat dan sering diberi santunan zakat tetapi tetap tidak menjalankan sholat (walau kaslhan), masih boleh diberi zakat?  Apakah Tarikush Sholat tersebut bisa digolongkan ‘Aashin yang terang-terangan? Maka harap kita pahami penjelasan para ulama’ mengenai hal ini, yang menghukumi haram memberi zakat orang ahli maksiat yang terang-terangan.
Sudah maklum bagi kita, biasanya Panitia Zakat membagikan zakat pada semua orang yang digolongkan Islam meskipun tidak sholat, dengan alasan mereka orang Islam, padahal kalau kita simak dalilnya ada ulama yang menghukumi haram untuk memberi zakat, meskipun sah zakatnya.
Atau pemberian zakat digunakan kesempatan dakwah, dengan cara pembagian zakat diberikan kepada orang yang biasa meninggalkan shalat itu dilakukan di Masjid, dan yang bersangkutan diajak terlebih dahulu mengikuti shalat berjamaah. Mungkin dengan cara itu zakat yang diberikan bisa mengetuk pintu hidayah baginya. Imam Ghazali dalam Ihya ulumuddin menyatakan bahwa adab membayar zakat diberikan kepada asnaf 8  yang alim, ahli ibadah, agar pemberi zakat dapat bersekutu dalam pahala kebaikan yang dilakukan mustahiq zakat. Wallahu a’lam

infaq untuk pendidikan


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *