Menghargai penghantar cahaya ke dalam jiwa

Published by Pengasuh Dzinnuha on

belajar dari kyai

Kadang saya termenung lama di hadapan secangkir kopi. Di antara kepulan uapnya, saya melihat bayangan guru-guruku—duduk di pojok kelas, atau berdiri di atas mimbar, atau bersila di langgar kecil sambil membolak-balik lembar kitab yang sudah rapuh kertasnya. Mereka datang bukan membawa emas, bukan pula janji kekuasaan. Tapi mereka datang membawa cahaya. Cahaya itu bernama: ilmu.

Ilmu itu seperti air. Tapi bukan sembarang air. Ia air langit. Bersih, suci, dan memancar dari wahyu. Dan seperti halnya air, kita butuh wadah untuk menampungnya. Bayangkan kalau wadah itu kotor—apakah kita mau meminumnya?

Wadah itu… adalah hati. Dan yang membersihkan hati, sebelum ilmu itu masuk, adalah adab. Adab kepada guru.

Tapi sekarang, banyak wadah yang pecah sebelum sempat diisi. Banyak yang lebih ingin terkenal daripada menjadi alim. Lebih ingin viral daripada memahami. Dan lebih merasa pantas menilai guru, daripada menimba hikmah dari gurunya.

Padahal sudah diingatkan oleh Nabi:

“من استخف بأستاذه ابتلاه الله بثلاثة أشياء…”
Barang siapa meremehkan gurunya, maka Allah akan menimpakan tiga musibah kepadanya:

  1. Lupa akan apa yang telah dihafalnya,

  2. Tumpul lisan saat menyampaikan ilmu,

  3. Hidup miskin di akhir hayatnya.
    (Kifâyatul Atqiya’ wa Minhâj al-Ashfiya’)


Saya pernah membaca  buku yang disana saya diminta membuat kata pengantarnya Judulnya: Seribu Satu Suara Hati Guru (Ketika Hukum Mengancam). Bukan novel. Bukan cerpen. Tapi setiap lembarnya seperti puisi getir. Tentang mereka yang mendidik dalam diam, namun justru dilukai oleh kebisingan dunia.

Ada kisah dari Demak. Seorang guru ngaji—yang seharusnya dihormati karena ia menanamkan akhlak—malah diminta mengganti kerugian 25 juta rupiah. Bukan karena mencuri, bukan karena menyakiti dengan tangan. Tapi hanya karena mengingatkan keras seorang anak yang melempar sandal ke arah kepala gurunya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, dan mungkin juga pada anda:
Masihkah bangsa ini tahu cara memuliakan guru?
Masihkah kita menanamkan kalimat suci dari kitab Ta’lim al-Muta’allim yang berbunyi:

“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”

Apa gunanya sekolah tinggi kalau kita lupa cara menunduk di depan orang yang membuat kita mengerti huruf?

Apa makna ijazah dan gelar, kalau kita dengan enteng memperkarakan guru hanya karena mereka mendidik dengan keras tapi ikhlas?

Guru, wahai para pengambil kebijakan, bukanlah tersangka. Mereka penjaga pintu langit. Tanpa mereka, anak-anak kita hanyalah robot—cerdas menghitung tapi lupa menyapa.


Saya sendiri tumbuh dari dunia pesantren. Dunia yang mengajarkan bahwa

“Laula murabbi lama araftu rabbi.”
Andai tanpa guru, aku tak akan mengenal Tuhanku.

Dan karena itu, saya percaya: menghormati guru bukan hanya tugas seorang murid. Tapi tanggung jawab seluruh bangsa. Termasuk negara. Termasuk kita.

Kalau kita terus membiarkan guru-guru berjalan di atas jerat hukum yang rapuh, jangan salahkan jika suatu hari kita hanya punya sistem… tapi tidak punya jiwa. Kita punya pendidikan… tapi tidak punya pendidik.


Mari jaga gelas kita. Bersihkan hatimu dengan adab, sebelum minta diisi ilmu. Karena cahaya tak akan sudi tinggal di tempat yang penuh debu kesombongan.

Dan guru, lebih dari sekadar pengajar, adalah pengantar cahaya Tuhan ke dalam jiwa.

Kalau kau tak bisa menghormatinya, setidaknya jangan kau lukai.


— Ditulis di dalam perjalanan pulang ngantor diantara senyap sore dan bunyi azan maghrib.
Kata orang tua-tua dulu: kalau adabmu baik, ilmu akan datang sendiri

infaq untuk pendidikan


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *