Kenapa Kita Harus Menggurukan Bacaan Quran Kita Di Pesantren Quran?

Penulis: Ning Raudloh Quds Mustofa
Dalam era digital seperti sekarang, siapa pun bisa belajar apa saja secara daring—termasuk membaca Al-Qur’an. Aplikasi tilawah tersedia melimpah, video tutorial melatih makhraj dan tajwid pun tinggal klik. Namun ada satu hal yang tak bisa digantikan oleh teknologi: talaqqi—belajar langsung dari seorang guru, menghadap, menyimak, dan dikoreksi dengan adab.
Syaikh Dr. Said Ramadhan al-Buthi, ulama besar Suriah, pernah menegaskan dalam ceramahnya bahwa membaca Al-Qur’an bukanlah seperti membaca surat kabar (koran). Ia adalah kitab suci yang diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ, lalu diwariskan secara teliti, huruf demi huruf, dengungan demi dengungan, hingga sampai kepada kita hari ini.
“Jangan membaca Al-Qur’an seperti membaca koran!” ujar beliau dengan nada prihatin, “Karena Al-Qur’an bukan teks yang bisa dibaca asal-asalan. Ia adalah warisan risalah.”
Apa Itu Talaqqi dan Mengapa Penting?
Talaqqi secara bahasa berarti “menerima langsung.” Dalam tradisi keilmuan Islam di pesantren-pesantren, khususnya ilmu qira’ah dan

urgensi mendengar bacaan guru dan memperdengarkan bacaan quran didepan guru
tajwid, talaqqi adalah metode belajar yang dilakukan dengan menyimak bacaan guru dan membacakan kembali di hadapannya. Di sinilah terjadi pembetulan, penyempurnaan, bahkan transfer ruhani dalam bacaan.
Mengapa ini penting? Karena bacaan Al-Qur’an memiliki standar kebenaran yang diwariskan secara bersambung (mutawatir) dari Nabi ﷺ. Bukan sekadar benar secara logika, tapi benar secara sanad.
Maka ungkapan para ulama “Tidak boleh membaca Al-Qur’an kecuali dengan ijazah dan sanad” bukanlah larangan bagi siapa pun untuk mulai membaca. Sebaliknya, ini adalah pengingat bahwa membaca Al-Qur’an dengan benar adalah bentuk penghormatan terhadap wahyu.
Sanad: Rantai Emas Kehormatan Bacaan
Bagi seorang qari’ (pembaca Quran) sejati, memiliki sanad bacaan yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ adalah bentuk kehormatan tertinggi. Ia bukan hanya tahu makhraj dan hukum tajwid, tapi juga terhubung secara spiritual dan keilmuan dengan mata rantai generasi yang menjaga wahyu dari distorsi.
Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Buthi, tidak memiliki sanad bukanlah aib jika seseorang telah belajar dari guru yang kompeten. Yang penting adalah tidak merasa cukup hanya belajar dari bacaan sendiri atau dari media digital tanpa koreksi. Itulah titik krusial yang membedakan bacaan yang diwariskan dari bacaan yang disangka-sangka.
Talaqqi Adalah Adab, Bukan Sekadar Teknik
Belajar membaca Al-Qur’an dari guru juga merupakan latihan adab dan kerendahan hati. Dalam talaqqi, seseorang tak hanya belajar bunyi dan tajwid, tetapi juga belajar duduk, diam, menyimak, dan menunggu giliran. Semuanya adalah bagian dari pendidikan spiritual yang tak tergantikan oleh aplikasi mana pun.
Kembalilah Pada Guru Di Pesantren
Jika engkau ingin menjadi pembaca Al-Qur’an yang sejati, kembalilah pada majelis talaqqi. Carilah guru yang bersanad sebagaimana kyai-kyai pesantren quran yang hampir semuanya bersanad hingga Kyai Munawir Krapyak atau Kyai Arwani Kudus, atau paling tidak, guru yang telah mempelajarinya dari guru yang bersanad. Jangan malu jika belum fasih. Malulah jika engkau merasa cukup belajar dari layar tanpa pernah berhadapan dengan guru.
Al-Qur’an bukan koran. Ia bukan teks biasa. Ia adalah titipan ilahi yang harus dijaga bukan hanya maknanya, tapi juga cara membacanya. Dan talaqqi adalah pintu masuk menuju bacaan yang benar—dan ruhani yang terhubung.

infaq untuk pendidikan
0 Comments