Kaum Tsamud: Jejak Kejayaan yang Terhapus oleh Keangkuhan

oleh
Sholihatul Maulidia,
Santri Dzinnuha, Mahasiswa Universitas Brawijaya
Sekitar 2.700 tahun silam, di kawasan yang dikenal sebagai Al-Ḥijr, terletak di antara Hijaz dan Syam, hidup sebuah kaum yang oleh Allah ﷻ dianugerahi berbagai kelebihan dan kemajuan peradaban. Mereka ahli dalam bidang arsitektur, piawai dalam teknologi irigasi, serta memiliki tanah yang subur dan kekayaan alam yang melimpah. Kaum itu adalah kaum Tsamud, yang kepada mereka diutus seorang nabi yang mulia, yakni Nabi Saleh ‘alaihis salam.
Asal Usul Kaum Tsamud
Tentang asal-usul mereka, para ahli tafsir dan sejarawan memiliki pandangan yang beragam. Sebagian menyebut bahwa kaum ini berasal dari Tsamud bin Atsir bin Iram bin Sām bin Nuh, saudara dari Jadis bin Atsir. Pendapat lain mengatakan bahwa Tsamud adalah sisa dari peradaban kaum ‘Ād, yang sebelumnya telah dibinasakan. Ada pula yang menyatakan bahwa mereka berasal dari bangsa Amaliq yang hijrah dari barat sungai Efrat. Sementara sebagian orientalis menduga bahwa mereka berasal dari bangsa Yahudi yang tinggal di arah sebelum Palestina.
Namun, pandangan bahwa Tsamud adalah bagian dari bangsa Yahudi dibantah oleh para ulama seperti Muhammad Ali Ash-Shabuni, dengan argumentasi bahwa bangsa Yahudi baru muncul setelah Nabi Musa ‘alaihis salam membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Oleh karena itu, pendapat yang paling kuat adalah bahwa kaum Tsamud adalah bangsa Arab dari sisa kaum ‘Ād, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ عَادٍ وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَرْضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَنْحِتُوْنَ الْجِبَالَ بُيُوْتًاۚ فَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ
(QS. Al-A’raf [7]: 74)
“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah sesudah kaum ‘Ād, dan menempatkan kamu di bumi. Kamu membuat istana-istana di dataran rendah dan memahat gunung-gunung menjadi rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
Kejayaan Duniawi Kaum Tsamud
Al-Qur’an merekam kisah kaum Tsamud dalam 11 surat. Mereka hidup dalam kemakmuran yang luar biasa. Tempat tinggal mereka subur, kaya air, dikelilingi taman dan kebun. Selain itu, wilayah mereka terletak di jalur strategis perdagangan antara Suriah dan Yaman.
Kemajuan teknologi mereka tampak dalam keahlian memahat batu: gunung-gunung dijadikan

Madain Saleh, Teknologi Pahat Kaum Tsamud Yang Bisa Dilihat Hingga Kini
istana, lembah-lembah dibangun menjadi permukiman. Allah menegaskan bahwa kaum Tsamud adalah bangsa yang pertama kali memahat batu.
وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ ٩
(QS. Al Fajr [89]: 9)
(Tidakkah engkau perhatikan pula kaum) Samud yang memotong batu-batu besar di lembah
Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa mereka membuat semacam sistem terowongan dari dataran menuju pegunungan, sebagai bentuk adaptasi iklim: berpindah ke pegunungan pada musim dingin, dan ke lembah pada musim panas.
Selain itu, mereka juga menciptakan sistem irigasi yang memungkinkan hasil bumi melimpah. Namun, sebagaimana sunnatullah dalam sejarah umat manusia, kelimpahan yang tidak disyukuri sering kali berbuah kesombongan.
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا
(QS. Asy-Syams [91]: 11)
“Kaum Tsamud telah mendustakan (rasul mereka) karena melampaui batas.”
Menurut penjelasan dalam Majelis Ta’lim Al-Ibriz, lafaz طَغْوَاهَا dipahami sebagai bentuk ekstrem dari keangkuhan, atau bahkan sebagai lambang azab, menandakan betapa besar kemurkaan Allah yang tertuju kepada kaum tersebut.
Kesombongan dan Penolakan terhadap Nabi Saleh
Nabi Saleh ‘alaihis salam diutus kepada mereka untuk menyeru kepada tauhid. Namun, kemajuan ilmu dan materi yang mereka miliki justru membutakan hati. Mereka menuduh Nabi Saleh sebagai orang yang terkena sihir, karena risalah yang beliau sampaikan bertentangan dengan logika dan hawa nafsu mereka. Al-Qur’an menggambarkan kondisi mereka:
إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا
(QS. Asy-Syams [91]: 12)
“Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.”
Dalam QS. An-Naml: 48, disebutkan ada sembilan tokoh elit Tsamud yang secara aktif menentang dakwah Nabi Saleh. Dari mereka, yang paling celaka adalah Khudar bin Salif, sebagaimana disebut dalam banyak tafsir, termasuk Tafsir Al-Ibriz. Namun ada juga yang menafsirkan bahwa “paling celaka” merujuk pada seluruh kaum Tsamud yang mendiamkan kemungkaran itu.
Ketika Nabi Saleh diminta menunjukkan mukjizat sebagai bukti kerasulannya, beliau memanjatkan doa, dan Allah memperkenankan:
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا
(QS. Asy-Syams [91]: 13)
“Kemudian Rasul Allah berkata kepada mereka: (Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.”
Unta ini keluar dari batu besar yang terbelah, sebagai mukjizat yang luar biasa. Disebut sebagai “Naqatullah”, karena ia bukanlah makhluk biasa, melainkan simbol tauhid dan bukti keesaan Allah. Nabi Saleh menegaskan “ini unta Allah” sebagai bentuk peringatan agar kaum Tsamud tidak berlaku sembrono terhadapnya.
Menurut sebagian riwayat, unta itu meminum seluruh air dari satu sumur dalam sehari, dan susu yang dihasilkannya cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh kaum.
Pembagian pun ditetapkan: satu hari untuk unta, satu hari untuk mereka. Namun mereka merasa aturan itu mengganggu. Dari kekesalan lahirlah niat jahat. Hingga suatu saat, terdengar seruan:
“Wahai Khudar! Saleh melarang kita mengganggu unta itu. Apakah engkau berani membunuhnya?”
Khudar bin Salif pun, dengan penuh keberanian durhaka, menyembelih unta tersebut.
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا
(QS. Asy-Syams [91]: 14)
“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu. Maka Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan (mereka dengan tanah).”
Meskipun pelaku utama adalah satu orang, namun lafaz ayat menggunakan bentuk jamak: فَعَقَرُوهَا (mereka menyembelih), karena ridha terhadap kejahatan adalah bentuk keterlibatan. Ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam masyarakat, pembiaran terhadap kemungkaran dapat menjadikan azab bersifat kolektif.
Makna Mendalam dari “دَمْدَمَ”
Lafaz دَمْدَمَ dalam ayat di atas mengandung kedalaman makna. Para mufasir menafsirkannya dengan beragam:
-
Az-Zajjaj: artinya azab yang bertubi-tubi, seolah-olah seperti unta berlapis lemak—kenikmatan mereka yang berlimpah digantikan dengan azab yang tiada henti.
-
Al-Wahidi: bermakna “melumuri”, yaitu azab yang merata ke seluruh penjuru.
-
Ibnu Anbari: menunjukkan kemarahan dahsyat yang memekakkan telinga.
-
Tsa’lab: menafsirkan damdama sebagai gempa bumi—guncangan yang menghancurkan seluruh peradaban mereka dalam sekejap.
Terkait dengan adzab atas kaum Tsamud ini, Allah SWT berfirman:
وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا
(QS. Asy-Syams [91]: 15)
“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu”.
Imam Qurtubi menjelaskan dalam lafadz ” لَا يَخَافُ” terdapat beberapa tafsir:
- Yang pertama, lafadz ” لَا يَخَافُ” maknanya Allah SWT sama sekali tidak khawatir terhadap Azdab yang diturunkan-Nya kepada kaum Tsamud. Karena Allah Maha Kuasa dan tidak ada yang bisa membalas tindakan Allah.
- Kedua, ” لَا يَخَافُ” ditafsirkan artinya Al-’Aqir atau orang yang menyembelih unta Nabi Saleh, mereka tidak berfikir dan menghawatirkan akan azab Allah SWT yang akan menimpa akibat perbuatan mereka.
- Ketiga, orang paling celaka yang disebutkan dibangkitkan, mereka seolah-olah menantang Tuhan dan ia tidak khawatir dengan apa yang terjadi dalam dirinya.
- Keempat, ditafsirkan bahwasanya ” لَا يَخَافُ” subjeknya bukan merujuk pada Allah SWT, melainkan kepada Nabi Saleh A.s yang tidak khawatir akan azab yang menimpa kaumnya karena peringatan yang sudah diberikan.
Penutup
Kisah kaum Tsamud bukan sekadar sejarah, tapi cermin zaman. Ia menggambarkan bahwa sebesar apa pun pencapaian peradaban, apabila tidak diiringi dengan syukur, kesadaran tauhid, dan kerendahan hati, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. Sebab, sebagaimana kaum Tsamud—kesombongan dan penolakan terhadap risalah ilahi adalah awal dari kehancuran total.
Referensi:
Al-Qur’an. Terjemahan dan tafsir. Diakses pada 3 Juli 2025.
Penjelasan Gus Shampton dalam kajian Tafsir al-Ibriz setiap bakda maghrib di Dzinnuha
Detikcom. Kisah Nabi Shaleh dan perjuangannya mengajak Kaum Tsamud beriman. Detik.com. https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-6448980/kisah-nabi-shaleh-dan-perjuangannya-mengajak-kaum-tsamud-beriman. Diakses pada 3 Juli 2025.
Gosumut. Menelusuri jejak Kaum Tsamud yang diazab Allah karena sifat sombong. GoSumut.com. https://www.gosumut.com/artikel/baca/2017/06/03/menelusuri-jejak-kaum-tsamud-yang-diazab-allah-karena-sifat-sombong/. Diakses pada 3 Juli 2025.
Gramedia. Kisah Nabi Saleh. Gramedia.com. https://www.gramedia.com/best-seller/kisah-nabi-saleh. Diakses pada 3 Juli 2025.
Irtaqi. (2023, Oktober 31). Kisah Qudar bin Salif. Irtaqi.net. https://irtaqi.net/2023/10/31/kisah-qudar-bin-salif/. Diakses pada 3 Juli 2025.
Kalam SINDOnews. (2022, Februari 12). Kisah Kaum Nabi Shaleh dalam Al-Qur’an. SINDOnews. https://kalam.sindonews.com/read/683855/70/kisah-kaum-nabi-shaleh-dalam-al-quran-1644624130. Diakses pada 3 Juli 2025.
Kitab Ibriz. Ibriz: Syarah atas Jawahir al-Qur’an karya KH Bisri Musthofa. Diakses pada 3 Juli 2025.
MIM. Tadabbur Surah Asy-Syams Ayat 10–15: Kebinasaan Kaum Tsamud. MIM.or.id. https://mim.or.id/tadabbur-surah-asy-syams-ayat-10-15-kebinasaan-kaum-tsamud/. Diakses pada 3 Juli 2025.
Muhammad, M. T. Kisah Shaleh a.s dan Tsamud dalam Al-Qur’an. Al-Mu’ashirah: Jurnal Ilmu Hadis dan Tafsir, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/almuashirah/article/view/6570/0. Diakses pada 3 Juli 2025.
Republika. Mukjizat Nabi Shaleh dan keistimewaan Kaum Tsamud. Republika.co.id. https://khazanah.republika.co.id/berita/okdmvx313/mukjizat-nabi-shaleh-dan-keistimewaan-kaum-tsamud. Diakses pada 3 Juli 2025.
Ruqoyyah. Kisah Nabi Shalih dan Kaum Tsamud. Ruqoyyah.com. https://ruqoyyah.com/740-kisah-nabi-shalih-dan-kaum-tsamud.html. Diakses pada 3 Juli 2025.
Rumaysho. Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang hilang karena azab Allah. Rumaysho.com. https://rumaysho.com/39659-kisah-kaum-tsamud-peradaban-yang-hilang-karena-azab-allah.html. Diakses pada 3 Juli
0 Comments