Sayyidah Maryam: Simbol Kesucian dan Ketauhidan di Tengah Krisis Keteladanan

Published by Pengasuh Dzinnuha on

oleh
Mariyam Suroyya
Pengajar Pada Pesantren Dzinnuha

Sayyidah Maryam—perempuan suci yang disebut namanya dalam Al-Qur’an sebanyak dua puluh empat kali—bukanlah sekadar figur sejarah, tetapi lambang kesucian, ketabahan, dan kepasrahan total kepada Allah. Ia menjadi satu-satunya perempuan yang namanya dijadikan nama surah dalam Al-Qur’an, yakni Surah Maryam. Kisah beliau tidak berhenti sebagai narasi masa lalu, melainkan terus hidup sebagai sumber inspirasi bagi perempuan muslimah masa kini dalam membangun jati diri yang agung dan bercahaya.

Tulisan ini mencoba menelusuri jejak teladan dari kehidupan Sayyidah Maryam, serta menyingkap relevansinya dalam membentuk sosok muslimah “tsuroyya”—yakni perempuan laksana bintang yang bersinar terang, menyinari dunia dengan cahaya iman, ilmu, dan akhlak.

Dalam realitas zaman yang kian gelap oleh krisis moral dan kaburnya keteladanan, umat Islam—khususnya para perempuan—membutuhkan panutan yang nyata dan luhur. Sayyidah Maryam adalah figur agung yang dimuliakan tidak hanya dalam Islam, tetapi juga dalam agama-agama samawi lainnya. Namun dalam Islam, penghormatannya bersifat istimewa: ia disucikan, dipilih, dan dijadikan simbol ketundukan kepada kehendak Ilahi.

Perempuan Pilihan yang Disucikan

Al-Qur’an mencatat firman Allah melalui lisan para malaikat kepada Maryam:

“Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas seluruh perempuan di semesta alam.”
(QS. Ali ‘Imran: 42)

Maryam lahir dari keluarga Imran, sebuah keluarga yang dikenal dengan ketaatan dan kemuliaan. Sejak dalam kandungan, ia telah diniatkan ibunya untuk mengabdi di tempat suci, dan di Baitul Maqdis-lah Maryam tumbuh dalam asuhan langsung Nabi Zakariya. Di sana, ia meraih kedekatan dengan Tuhan, dan melalui ketulusan ibadahnya, ia menerima berbagai karunia, termasuk rezeki yang datang tanpa sebab yang tampak (QS. Ali ‘Imran: 37).

Sifat-Sifat Mulia yang Patut Diteladani

  1. Ketaatan dan Ketundukan Total kepada Allah
    Ketika diperintah menerima kehamilan tanpa sentuhan lelaki, Maryam tidak menyoal perintah-Nya. Ia tidak menawar, tidak membantah, melainkan berserah dalam iman yang teguh. Inilah ketaatan yang melampaui nalar, namun penuh keyakinan.

  2. Menjaga Kesucian dan Kehormatan Diri (Iffah)
    Maryam menjadi simbol iffah, menjaga diri dan kehormatan dalam makna yang paling luhur. Di era digital saat ini, keteladanan Maryam terpantul dalam kemampuan menjaga diri dari eksposur yang tidak perlu, dari godaan visual, dan dari interaksi yang melampaui batas.

  3. Mandiri dan Kokoh dalam Iman
    Dalam kesendirian yang mengguncang—mengandung, melahirkan, dan menghadapi cemoohan—Maryam tetap tegar. Ia tidak meminta simpati manusia, tetapi bersandar hanya pada Allah. Kemandirian spiritualnya adalah pelajaran tentang kekuatan yang sejati.

  4. Sabar dalam Ujian dan Tidak Terperangkap dalam Penilaian Manusia
    Saat masyarakat mempertanyakan kesuciannya, Maryam memilih diam. Ia menyerahkan pembelaan kepada Tuhannya. Sebuah sikap bijak yang menunjukkan bahwa kemuliaan hakiki tidak bergantung pada penilaian manusia, tetapi pada pandangan Allah.

Menjadi Muslimah “Tsuroyya”: Bersinar di Langit Nilai-Nilai Ilahiah

Dalam khazanah bahasa Arab, “tsuroyya” merujuk pada gugusan bintang terang di langit. Dalam makna ruhani, ia adalah perempuan yang bercahaya—bukan karena lampu sorot duniawi, melainkan karena pancaran nilai yang ia junjung. Meneladani Maryam berarti:

  • Menjadi perempuan yang bersinar dengan iman, bukan karena popularitas.

  • Menjadi perempuan yang dimuliakan karena ilmu, bukan gelar semata.

  • Menjadi perempuan yang kokoh dalam badai ujian, bukan goyah oleh tekanan sosial.

  • Menjadi perempuan yang menjaga marwah dan menebar rahmat, bukan hanya mengejar pengakuan.

Di tengah arus budaya populer yang kerap menyeret perempuan ke pusaran objektifikasi dan kekosongan ruhani, Maryam tampil sebagai cahaya yang menuntun kembali pada fitrah. Ia bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan jawaban abadi atas krisis identitas perempuan masa kini.

Menjadi muslimah “tsuroyya” adalah panggilan zaman—bagi mereka yang ingin menjejak bumi dengan cahaya dari langit. Ketika dunia menampilkan kemilau semu, Maryam mengajarkan kita untuk bercahaya dengan kemuliaan ruhani. Ia adalah bintang suci yang tak pernah padam.

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *