10 Muharram: Saatnya Membersihkan Dosa, Mendekatkan Diri Kepada Sang Kuasa

ditulis oleh Achmad Zainurrahman Naqie Usamah
Santri Pesantren al-Muqarrabin Lawang
Puasa Asyura yang bertepatan pada tanggal 10 Muharram ini berawal dari tradisi kaum yahudi sebagai bentuk rasa syukur atas diselamatkannya nabi Musa dan bani Israil dari Fir’aun, Rasulullah SAW bersabda :
هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى
Artinya :
Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa pada hari ini.
(HR.Al-Bukhari no.3397)
Yang menjadi salah satu keutamaan besar dari puasa Asyura adalah ia menjadi sebab dihapuskannya dosa dosa selama satu tahun sebelumnya, dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya :
Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.
(HR. Muslim no. 1162)
Hadits ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya melalui amalan puasa sunnah. Yang dimaksud dengan “menghapus dosa” di sini adalah dosa-dosa kecil, karena dosa besar memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.
Dengan menjalankan puasa Asyura, seorang Muslim diberi kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa selama setahun yang lalu, menjadikan momen ini sebagai sarana penting untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah.
Selain keutamaannya dalam menghapus dosa, puasa Asyura juga menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ membimbing umat Islam untuk menyelisihi kaum Yahudi dalam ibadah. Ketika mengetahui bahwa kaum Yahudi berpuasa pada 10 Muharram, Rasulullah SAW menyatakan bahwa beliau lebih berhak atas Nabi Musa daripada mereka. Maka beliau pun memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari itu dan menyatakan niatnya untuk juga berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) di tahun berikutnya, agar berbeda dengan kebiasaan orang Yahudi. Dari sini, para ulama menyimpulkan pentingnya mengikuti sunnah Nabi dalam menampakkan identitas keislaman yang berbeda dari umat lain dalam hal ibadah.
Para ulama seperti Imam Nawawi, Ibn Hajar, dan Imam Ahmad menyebut bahwa tingkatan terbaik dalam melaksanakan puasa Asyura adalah dengan berpuasa tiga hari berturut-turut, yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian dalam penentuan tanggal serta sebagai wujud kesungguhan dalam meraih pahala. Meskipun hanya puasa pada tanggal 10 saja sudah berpahala besar, namun menambah hari sebelum atau sesudahnya adalah bentuk pengamalan sunnah yang lebih sempurna.
Islam memotivasi umatnya untuk memaknai setiap peristiwa penting dalam sejarah kenabian dengan ibadah, dan salah satu bentuk ibadah yang paling sering dianjurkan adalah puasa, puasa bukan hanya bentuk pengendalian diri dari hawa nafsu, tapi juga untuk mendekatkan diri kepada Allah, mensyukuri nikmat, dan mengenang perjuangan para nabi dan umat terdahulu.
Dalam konteks Asyura, puasa menjadi cara untuk mengenang kembali kembali kisah penyelamatan Nabi Musa dan Bani Israil, namun puasa ini bukan sekadar sebagai pengingat sejarah, tetapi sebagai pembelajaran bagi umat Islam bahwa pertolongan Allah datang bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, sperti halnya pada hari-hari besar lain seperti Arafah dan Senin-Kamis, Islam mengajarkan bahwa momen-momen mulia diisi dengan amalan yang bernilai tinggi, dan puasa menjadi salah satu bentuk ibadah paling pirbadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Maka dari itu, puasa Asyura bukan hanya untuk mendapatkan pahala penghapus dosa, tapi juga sebagai bentuk renungan makna iman, syukur dan tauladan dari Nabi Muhammad SAW.

infaq untuk pendidikan
0 Comments