Memantaskan Diri Mendapat Pasangan Yang Shalih

memantaskan diri menjadi shalih shalihah
Oleh: Ning Raudloh Quds Mustofa
Ada yang menarik ketika ada penyimak melontarkan pertanyaan saat saya berbagi kisah tentang Sayyidah Fatimah, melalui podcast Madina FM masjid Jami kota Malang. Pertanyannya kurang lebih seperti ini; bagaimana cara kita menjadi isteri sholihah? Semoga menjadi anak sholih atau sholihah. Kalimat itu sering dijadikan doa para orangtua untuk anak-anaknya. Salah satu ciri anak sholih adalah mampu birrul walidain dengan baik. Saat orangtua masih ada, pun saat sudah tiada.
Lalu bagaimana dengan isteri sholihah? Kata sholihah atau sholih, tentu berasal dari bahasa Arab, dan merujuk pada ayat AlQuran di banyak surat. Maknanya bisa beragam. Baik, santun, bagus, pantas atau patut. Saya mencatat makna ‘pantas’ untuk padanan kata sholih dari dawuhnya Abah saya. Beliau pernah ngendikan, amal sholih itu ya amal yang pantas kita lakukan sebagai manusia.
Apa yang pantas dilakukan anak? Patuh pada orangtua, mendengar nasehatnya, menyenangkan orangtua, mendoakan orangtua, tidak berkata keras pada orangtua. Pantas kan? Apa yang pantas dilakukan oleh seorang teman? Menghormati hak teman yang lain, saling menolong, mengajak ke kebaikan. Dan seterusnya. Pantas kan? Lalu isteri? Apa yang pantas dilakukan oleh seorang isteri, utamanya pada suaminya? Ya patuh, mendukung, mendoakan, menenangkan, memberi semangat, menjaga rumah. Dan seterusnya.
Pemandu podcast lalu bertanya, apabila kita berdoa supaya mendapatkan pasangan yang sholih, apakah boleh?
Saya jawab, tentu boleh. Allah membebaskan kita minta apa saja padaNya. “Ud’uuni astajib lakum”. Berdoalah pada Allah, mintalah padaNya. Baik urusan dunia, maupun (apalagi) urusan akhirat. Tetapi sebelum meminta, kita harus mengukur diri. Apakah kita sudah pantas berdampingan dengan seorang suami sholih? Kita mesti memantaskan diri dulu sebelum berharap mendapat pasangan yang sesuai keinginan kita. Tentu dimulai saat berstatus sebagai anak. Sudahkah kita melakukan birrul walidain? Sudahkah kita menjaga hubungan baik, tidak hanya dengan orangtua tapi juga dengan saudara kandung kita dan keluarga besar dari pihak ayah dan ibu? Sudahkah kita tahu, bagaimana adab kepada tetangga. Bagaimana cara menghormati tamu. Bagaimana cara kita menyayangi sesama dan yang lebih muda dari kita?
Yang tidak kalah penting, bagaimana kita menjalankan tugas sebagai makhluk, sebagai hamba pada Sang Maha Kuasa. Allah SWT. Apabila kita sudah menjaga hubungan baik dengan Allah dengan pengabdian semaksimal yang kita bisa dan juga menjaga hubungan baik dengan sesama, maka wajarlah kiranya bila kita memohon padaNya agar diberikan pasangan terbaik. Sehingga niat kebersamaan nanti akan bermuara pada hal yang sama, yaitu ridlo Allah.
Predikat sholih atau sholihah bukan suatu hal yang enteng. Butuh usaha terus menerus. Karena pahala yang besar akan berbarengan dengan perjuangan berat tak henti. Sebagai manusia yang tak lepas dari salah dan lupa, pasti ada kalanya kita tidak bisa mengendalikan diri. Lupa status kita sebagai anak, murid, guru, isteri atau suami. Sehingga terpeleset melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan. Tapi Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Selama kita masih diberi kesempatan menikmati keindahan dunia ini, maka masih terbuka peluang untuk memperbaiki diri.
Wallahu a’lam.

infaq untuk pendidikan
0 Comments