Para Perempuan Mulia Di Sekitar Nabi

Published by Pengasuh Dzinnuha on

menjadikan Rasulullah panutan

Oleh: Ning Raudloh Quds Mustofa

Membaca, mempelajari dan membagikan cerita mengenai para perempuan mulia di sekitar Nabi Muhammad, membuatku terpana terpaku terharu dan tak tahu apakah mungkin aku bisa meneladani dan mengikuti mereka.

Sayyidah Khadijah al kubro, yang kisahnya bisa kita baca, salah satunya di kitab al Busyro, adalah isteri pertama dan pendamping utama kanjeng Nabi, perempuan pertama yang beriman dan mengikuti risalah yang dibawa Nabi. Pengorbanan Sayyidah dalam mendukung perjuangan Nabi, sungguh sangatlah luar biasa. Harta benda berlimpah, jiwa raga, kesetiaan dan pengertian atas keterbatasan waktu yang diberikan Nabi padanya, tak menyurutkan sedikitpun dukungan yang diberikan Sayyidah. Meski seorang saudagar kaya raya, Sayyidah tidak ragu untuk mengungkapkan kekagumannya pada Nabi. Dan setelah menjadi isteri pun, Sayyidah rela berpeluh keringat, kaki melepuh menaiki gunung batu, untuk mengantarkan makanan kepada Nabi, di gua Tsur. Bersama Sayyidah, Nabi dikaruniai 6 putra putri. Dua putra dan empat putri. Lima di antara mereka wafat sebelum kanjeng Nabi. Hanya Sayyidah Fatimah Azzahro yang mendampingi Nabi sampai akhir hayat beliau.

Sayyidah Khadijah merupakan perempuan yang paling sering disebut Nabi, sebagai salah satu bentuk rasa cinta beliau yang mendalam. Bahkan saat Sayyidah sudah wafat, dan setelah Nabi menikah dengan perempuan-perempuan mulia lain, nama Sayyidah Khadijah masih kerap disebut.

Sayyidah Khadijah mendidik putri-putrinya (karena dua putra beliau wafat saat masih bayi) dengan limpahan kasih sayang dan teladan terbaik. Bagaimana menjadi seorang perempuan yang pandai menjaga diri, menjadi isteri yang shalihah dan ibu yang menyayangi anak-anaknya. Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah menjelma menjadi perempuan yang akhlaqnya mengagumkan. Patuh pada kedua orangtuanya dan dihormati semua kalangan.
Sayyidah Fatimah adalah putri bungsu sekaligus satu-satunya putri Nabi yang meneruskan ibunya dalam mendampingi Nabi berjuang. Ketiga kakak perempuannya telah wafat terlebih dahulu.

Selama mendampingi Nabi, Sayyidah Fatimah sama sekali tidak melupakan tugas utamanya sebagai isteri dan ibu. Sayyidah Fatimah mencontoh semua yang dilakukan ibunya kepada sang ayah. Oleh karena itu, dia mendapat julukan “Ummu abiha”. Karena dia menjadi pengganti ibunya untuk mendampingi Nabi dalam perjuangan menyebarkan kebaikan yang sungguh berat.
Nabi sering menjenguk Fatimah. Bermain dengan cucu-cucunya, Hasan dan Husain. Menyediakan pelukan atas setiap aduan Fatimah. Mendengarkan keluh kesah putrinya dan menenangkan dengan berbagai ilmu dan nasehat. Menegur dengan cara halus apabila ada yang tidak berkenan di hati Nabi.

Pendidikan dan pengasuhan Nabi dan Sayyidah Khadijah yang luar biasa menjadikan Fatimah sosok yang istimewa. Anugerah dan ujian silih berganti dirasakan oleh Nabi dan keluarganya. Dikisahkan keluarga Nabi pernah dikepung oleh kafir Quraisy, tak ada makanan. Disebutkan, perut dan punggung Fatimah seakan menempel. Bibirnya berdarah.

Dalam salah satu peperangan melawan kafir Quraisy, Nabi pernah terluka cukup parah. Fatimah yang bertugas sebagai perawat, menangani luka ayahnya dengan airmata yang tak henti mengalir. Sakit yang dirasakan Nabi, juga dirasakannya.
Beberapa kali Fatimah juga mengalami percobaan pembunuhan oleh kafir Quraisy. Namun Allah masih melindunginya.

Kesedihan yang mendalam dirasakan Fatimah saat ayahanda tercinta harus kembali pada Sang Khaliq. Sehingga tak lama setelah Nabi wafat, Fatimah pun menyusul.
Masih banyak cerita tentang keistimewaan para perempuan mulia di sekitar Nabi. Semoga ada kesempatan lain untuk menuliskannya.

Sebagai muslimah, tentu sudah sepantasnya kita mencoba meniru dan meneladani perilaku mereka. Sebisa dan semampu kita.

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *