Ketika Ka’bah Berada di Ambang Pintu Rumah Kita

Haji Mabrur dan Kesejatian Jiwa
Setiap tahun, bak gelombang samudra yang tak putus-putusnya, jutaan jiwa bergegas menyambut panggilan Ilahi. Mereka menapaki jejak para nabi, berziarah ke rumah tua di tanah haram, melingkar-lingkar di sekeliling Ka’bah, menunaikan rukun Islam kelima: Haji. Sebuah perjalanan spiritual yang kerap diyakini sebagai puncak kesempurnaan seorang Muslim. Namun, pernahkah kita menyelisik lebih dalam, menggali makna sejati di balik gegap gempita ritual, di balik hiruk pikuk jutaan manusia yang berselimut ihram? Bukankah justru di sanalah, di jantung ibadah suci itu, tersimpan permata kearifan yang kerap luput dari pandangan mata batin kita? Yakni, bahwa haji, atau setiap ibadah agung, sejatinya adalah penjelmaan dari kesalehan sosial.
Rasulullah SAW, sang penunjuk jalan bagi umat manusia, telah lama mewanti-wanti kita akan hakikat ini. Ketika ditanya tentang makna “haji mabrur”—haji yang tak hanya diterima Allah, tapi juga mengantarkan pelakunya ke surga firdaus—beliau tidak menyebutkan tentang kesempurnaan tawaf, sa’i, atau melempar jumrah. Bukan pula tentang lamanya berdiam diri di Raudhah. Sebagaimana yang diriwayatkan dari seorang sahabat mulia, Jabir bin Abdullah:
الحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلَّا الجنَّةُ قيلَ وما بِرُّهُ؟ قالَ إطعامُ الطَّعامِ وطيبُ الكلامِ
(Sanad hadis ini, di mata Al-Mubarakfuri dalam Tuhfah al-Ahwadzi, 3/242, adalah hasan, sebuah penegasan yang tak terbantahkan dari Ahmad dalam musnadnya).
Terjemahan: “Haji mabrur itu tiada balasan baginya kecuali surga. Ditanyakan: ‘Apakah kebaikannya?’ Beliau menjawab: ‘Memberi makan dan berkata-kata yang baik.'”
Dua pilar sederhana namun fundamental: memberi makan dan bertutur kata yang baik. Sebuah penegasan yang tak perlu lagi tafsir berbelit. Haji mabrur, jika dipahami secara syar’i dan hakiki, adalah haji yang mampu mengalirkan keberkahan sosial. Ia melahirkan pribadi-pribadi yang tangannya ringan memberi, lisannya santun menyejukkan, dan hatinya peka terhadap derita sesama. Ia adalah manifestasi nyata dari ketauhidan yang bukan hanya terpacak di mihrab, tapi juga bersemi di tengah-tengah masyarakat.
Dan inilah, sebuah kisah yang terangkai dalam serat-serat kearifan para sufi, diceritakan oleh Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya yang sarat hikmah, Irsyâd al-‘Ibâd. Alkisah, setelah menunaikan seluruh rangkaian manasik haji yang agung, seorang ulama besar, Abdullah bin al-Mubarak—seorang muhaddits dan faqih yang kedalaman ilmunya tak diragukan—terlelap di pembaringan Masjidil Haram. Dalam mimpinya, ia berjumpa dengan dua malaikat yang tengah bersenda gurau, membicarakan perihal haji tahun itu. Sungguh mengejutkan, dari enam ratus ribu jamaah yang membanjiri tanah suci, tak satupun ibadah hajinya diterima oleh Tuhan Semesta Alam! Namun, keajaiban tersingkap: Allah berkenan menerima seluruh ibadah haji mereka berkat jasa seorang tukang sol sepatu yang bernama Muwaffaq, yang bermukim di Damaskus.
Mendengar bisikan Ilahi ini, Abdullah bin al-Mubarak tak kuasa menahan rasa penasaran yang membuncah. Ia segera menggulung tikar perjalanannya, memacu langkah menuju Damaskus, mencari jejak Muwaffaq. Betapa terkejutnya beliau, Muwaffaq bukanlah seorang saudagar kaya raya atau pembesar negeri. Ia hanyalah seorang tukang sol sepatu nan sederhana, yang pada tahun itu, cita-cita hajinya harus pupus di tengah jalan. Bertahun-tahun ia menabung, sepotong demi sepotong rezekinya disisihkan, hingga terkumpullah 300 dirham, jumlah yang cukup untuk menggapai impian sucinya.
Namun, beberapa hari menjelang keberangkatan, ujian datang menghampiri. Istri Muwaffaq yang tengah hamil, mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera dari rumah tetangga. Gejala ngidam yang tak tertahankan. Dengan berat hati, Muwaffaq mendatangi rumah sang tetangga, memohon secuil masakan itu. Ia mendapati, tetangganya hanyalah seorang janda miskin, dengan beberapa anak yatim yang kelaparan.
Dan inilah jawabannya, sebuah jawaban yang menggetarkan sanubari, sebuah kalimat yang menggurat makna kesalehan di jiwa: “Maaf, makanan ini halal bagi kami, tapi tidak halal bagi kalian. Kami tidak makan selama tiga hari. Aku menemukan bangkai keledai di jalan, lalu aku ambil sedikit dagingnya dan memasaknya. Ini halal bagi kami karena kami sangat kelaparan.”
Hati Muwaffaq remuk redam mendengar penuturan itu. Di ambang pilihan suci—antara melaksanakan rukun Islam yang agung atau menolong nyawa yang hampir melayang—Muwaffaq tak ragu. Ia pulang, mengambil seluruh uang tabungan hajinya, seolah bisikan gaib menuntunnya, ia bergumam:
إِنَّ الحَجَّ فِيْ بَابِ دَارِيْ فَأَيْنَ أَذْهَبُ
“Ternyata ‘ibadah haji’ berada di pintu rumahku. Buat apa aku pergi jauh-jauh.”
Tanpa menoleh ke belakang, Muwaffaq menyerahkan seluruh tabungannya kepada janda miskin dan anak-anak yatim itu. Impian hajinya ia relakan demi menolong sesama.
Kisah Muwaffaq bukanlah sekadar anekdot penghias ceramah. Ia adalah cermin, sebuah ibrah agung yang mengajari kita bahwa hakikat ibadah melampaui sekat-sekat ritual. Haji, yang seringkali kita pahami sebagai perjalanan fisik ke tanah suci, sejatinya adalah perjalanan batin menuju kesucian jiwa, yang puncak manifestasinya adalah kepedulian terhadap sesama. Uang yang semestinya menjadi bekal perjalanan agung itu, ia alihkan untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia lain. Baginya, menolong nyawa yang di ambang kematian adalah “haji” yang lebih utama, sebuah ibadah yang memancarkan keberkahan langsung, bukan hanya bagi dirinya, tapi bagi seluruh semesta.
Dari sabda Nabi yang mulia dan kisah Muwaffaq yang menggugah, kita menemukan benang merah yang tak terputuskan: inti ibadah adalah kesalehan sosial. Sebuah ibadah, seberapapun khusyuknya, tak akan sempurna jika tak mampu menumbuhkan empati dan kebermanfaatan bagi sesama. Haji mabrur adalah haji yang tak hanya kembali dengan lembaran sertifikat dan oleh-oleh zamzam, melainkan dengan jiwa yang semakin bersih, hati yang semakin lembut, dan tangan yang tak henti-hentinya mengulur kasih.
Maka, marilah sejenak kita menepi, merenungkan kembali hakikat ibadah kita. Adakah shalat kita telah menumbuhkan kepedulian? Adakah puasa kita telah mengajarkan empati? Dan bagi mereka yang mampu, adakah cita-cita haji kita telah melahirkan kepekaan terhadap tangisan dan keluhan di sekitar kita? Barangkali, seperti Muwaffaq, kita akan menyadari, bahwa “Ka’bah” yang selama ini kita dambakan untuk dikunjungi, sejatinya telah berdiri tegak di ambang pintu rumah kita sendiri. Ia menunggu uluran tangan, sebuah senyum, atau sekadar kata-kata yang menyejukkan. Sebab, di sanalah, di tengah-tengah manusia, hakikat ibadah mabrur menemukan puncaknya. Ia bukan hanya diterima oleh Allah, tapi juga mengukir jejak kebaikan yang abadi di muka bumi.
0 Comments