Keistimewaan Lafaz Jalalah “Allah” dan Esensi Dzikrullah

Published by Pengasuh Dzinnuha on

HU, Hanya Dia

Lafaz Jalalah “Allah” adalah sebuah kata yang sarat makna, bukan hanya sekadar nama Tuhan, melainkan sebuah manifestasi dari segala kesempurnaan. Dalam Ajaran Islam sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Qirthos Juz 1 halaman 199, disebutkan salah satu keistimewaan lafaz jalalah “Allah” yang jarang disadari: maknanya tidak akan pernah berkurang meskipun huruf-hurufnya dikurangi. Hal yang berbeda dengan nama yang lain yang bila hurufnya dikurangi akan mengurangi makna nama itu bahkan bisa jadi dianggap sebuah pelecehan.

Keunikan Reduksi Lafaz “Allah”

Fenomena unik ini menunjukkan kedalaman makna yang terkandung dalam setiap bagian dari lafaz “Allah”. Mari kita telaah bagaimana maknanya tetap utuh meski bentuknya berubah:

  • Allah (الله): Lafaz sempurna ini mengandung segala makna keilahian, keesaan, dan kesempurnaan Tuhan.
  • Lillah (لله): Ketika huruf alif (ا) dihilangkan dari “Allah”, tersisa “Lillah” (لله), yang secara harfiah berarti “hanya karena Allah”. Makna ketundukan dan pengabdian sepenuhnya tetap terpancar. Mengisyaratkan semua aspek kehidupan ini harus berorientasi karena Allah bukan karena yang lain.
  • Lahu (له): Apabila huruf lam (ل) pertama dihilangkan dari “Lillah”, yang tersisa adalah “Lahu” (له), yang bermakna “hanya untuk Allah”. Ini menegaskan tujuan akhir dari segala eksistensi dan perbuatan adalah kembali kepada-Nya. Kita sebagai mahluk hanyalah sekedar butiran bukti keberadaan Allah. “Alam itu baru. Setiap yang baru pasti tercipta sehingga lahirlah konklusi bahwa keberadaan alam memiliki pencipta. Inilah yang disebut sebagai argumentasi logis atau dalil aqli yang dibangun untuk membuktikan eksistensi tuhan,” (dikutip dari laman NU Online yang bersumber dari Syekh Ahmad An-Nahrawi, Ad-Durrul Farid pada hamisy Fathul Majid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa tahun], halaman 7-8).
  • Hu (هو): Dan jika huruf lam (ل) kedua dihilangkan dari “Lahu”, maka yang tersisa adalah “Hu” (هو). “Hu” adalah isim batin, secara harfiah berarti “Dia”. Dalam Sufisme, “Hu” merupakan istilah lain yang digunakan untuk Allah, dan sering dianggap sebagai nama Allah yang paling rahasia dan paling dekat dengan hakikat-Nya. Frasa “Allah Hu” berarti “Allah, satu-satunya Dia!”. Dalam bahasa Arab, “Hu” sebagai tambahan intensif untuk Allah, sehingga “Allah Hu” dapat diartikan “Allah itu sendiri.” “Hu” juga ditemukan dalam lafaz syahadat “La Ilaha Ilallah Hu” yang berarti “Tidak ada Tuhan kecuali Allah,” atau dalam interpretasi Sufi: “Tidak ada yang nyata, kecuali Allah.”

Reduksi huruf-huruf ini tidak mengurangi esensi ketuhanan yang terkandung dalam lafaz tersebut, justru menunjukkan betapa dalam dan meluasnya makna “Allah” hingga ke akar-akar terdalam keesaan-Nya.

Esensi Dzikrullah: Mengingat Allah dalam Setiap Keadaan

Setelah memahami makna هو – hu yang begitu sarat makna, mungkinkah kita berdzikir dengan kata: hu, hu? apa faidahnya berdzikir “Allah, Allah,” atau “Hu, Hu, Hu,” yang sekilas terlihat sebagai kalimat tidak sempurna? Jawabannya terletak pada esensi dzikir itu sendiri: mengingat Allah.

Untuk dipahami bahwa, mengingat Allah tidak selalu harus menggunakan kalimat yang sempurna atau jumlah mufidah (kalimat yang memiliki makna lengkap). Contoh nyata adalah apa yang dilakukan oleh Bilal bin Rabah saat disiksa dan ditindih batu. Beliau hanya mengulang-ulang “Allah, Allah, Allah.” Apakah ini jumlah mufidah? Bukan. Namun, tindakan itu secara totalitas membuatnya ingat kepada Allah, dan itu adalah dzikir.

Makna Dzikrullah adalah bagaimana cara seseorang mengingat Allah. Wasilah (sarana) untuk mengingat Allah itu banyak. Jika Anda bertanya mana yang paling afdhal (utama), jelas adalah wasilah yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, perlu dipahami bahwa “afdhal” tidak berarti wasilah yang lain itu haram atau batal. Membatalkan wasilah yang tidak afdhal adalah pemahaman yang keliru.

Dalam bahasa Arab, kata “afdhal” (أفضل) adalah bentuk tafdil (komparatif) yang digunakan ketika ada dua perkara yang memiliki sifat yang sama, namun salah satunya memiliki sifat yang lebih. Jadi, “ini lebih afdhal daripada ini” berarti yang satu memiliki keutamaan lebih dibandingkan yang lain, bukan berarti yang lain itu tidak sah atau batil.

Bahkan, jika Anda melihat pohon dan tiba-tiba teringat Allah, maka hal itu juga dapat dikatakan sebagai Dzikrullah. Anda mengingat Allah dengan perantara (wasilah) melihat pohon, dan itu tidak masalah. Seperti itulah makna tadabur alam yang sering dilakukan. Menikmati Alam yang indah untuk mengingat penciptanya.

Dzikrullah dan Menuntut Ilmu: Mana yang Lebih Afdhal?

Pertanyaan selanjutnya, mana yang lebih afdhal: wasilah dzikir yang diajarkan Rasulullah, atau wasilah ilmu? Secara pribadi, menuntut ilmu lebih afdhal daripada hanya berdzikir dengan lafaz saja.

Mengapa demikian? Pahala menuntut ilmu bersifat muta’addi, artinya bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ilmu dapat mengingatkan kita kepada Allah, dan melalui ilmu pula kita dapat mengingatkan orang lain kepada Allah jika kita memahami maksud dari ilmu yang kita pelajari. Berdzikir secara individu, meskipun sama-sama mengingat Allah, pahalanya cenderung terbatas pada diri kita sendiri.

Oleh karena itu, Dzikrullah mencakup spektrum luas cara mengingat Allah, dari lafaz-lafaz suci hingga perenungan atas ciptaan-Nya. Namun, pengembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang agama adalah salah satu bentuk Dzikrullah yang paling utama, karena dampaknya yang meluas dan berkesinambungan bagi individu dan masyarakat. Memahami keistimewaan lafaz “Allah” dan esensi dzikir adalah langkah awal untuk senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta dalam setiap aspek kehidupan.

referensi:

  1. al-Qirtos karya Al Habib Ali bin Hasan Al Attas
  2. AlHafidz Kurniawan dalam NU Online,
  3. TVNU, ceramah Habib Ali Bagir

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *