Siapapun Dirimu, Kamu Tidak Penting

Setinggi apapun capaianmu, didepan gurumu kau hanyalah anak yang senantiasa berharap belaiannya
Seringkali kita melihat libur panjang sebagai kesempatan untuk menepi dari rutinitas, menikmati hiruk-pikuk dunia yang disajikan dalam bentuk rekreasi dan hiburan. Namun, di sudut-sudut pesantren seperti Lirboyo, long weekend justru menjadi sebuah momentum yang amat berharga; saat para santri dan alumni berbondong-bondong, meramaikan majelis ilmu, haus akan tetesan-tetesan hikmah dan keberkahan. Pengajian Kamis Legian disela-sela kesibukan, selalu saya upayakan hadir. Pagi ini begitu melimpah ruah yang hadir dari seluruh Indonesia. Saya yang selalu hadir mepet-mepet waktu, hari ini tak menemukan tempat duduk. Ini adalah sebuah cerminan betapa tradisi keilmuan Islam, dengan segala kedalamannya, masih menjadi daya tarik spiritual yang tak lekang oleh zaman, bahkan di tengah arus modernitas yang deras.
Kehadiran di Lirboyo itu, subhanallah, sungguh menghadirkan ketenangan jiwa, sebuah sakinah yang meresap ke dalam sanubari. Apalagi, yang menyampaikan untaian hikmah adalah sosok mulia, Kiai Anwar Mansyur. Beliau adalah seorang ulama Rais PWNU Jatim yang memancarkan kharisma, namun kerendahhatiannya begitu nyata. Beliau adalah paku bumi Jawa Timur, begitu kokoh menjaga tradisi keilmuan pesantren dan akhlak para santri dan alumni. Kiai Anwar Mansyur dikenal sangat cinta dan telaten kepada murid-muridnya, senantiasa menasihati agar giat belajar, tekun beribadah, serta membersihkan hati dan pikiran agar ilmu itu mudah meresap. Ditengah lelah dan kondisi sepuhnya, beliau masih menyempatkan menerima salaman seribuan santri dan alumni yang hadir.
Pengajian rutin Kamis Legian di Lirboyo ini memang telah menjadi semacam ritual spiritual, sebuah penanda bagi santri dan masyarakat sekitarnya. Kitab yang dikaji pun bukan sembarang kitab, adalah Kitab Al-Hikam, sebuah permata tasawuf yang mendalam, namun sarat berkah. Ini menguatkan bahwa hikmah yang disampaikan Kiai Anwar Mansyur berakar pada sumber spiritual yang telah teruji lintas generasi.
Catatan pengajian yang mendalam ini akan kita coba urai bersama, dengan bahasa yang mengalir, agar dapat diresapi oleh setiap lapisan masyarakat, dari yang paling sederhana hingga yang paling terpandang.
Dua hal yang saya catat dalam kajian pagi jni adalah:
1. “Merasa Tak Penting, Sebuah Gerbang Menuju Hakikat Sejati.”
لَا تُحِبَّ أَنْ تُعْرَفَ وَلَا تُحِبَّ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّكَ مِمَّنْ يُحِبُّ أَنْ لَا يُعْرَفَ
“Janganlah engkau senang untuk dikenal, dan janganlah engkau senang jika diketahui bahwa engkau adalah orang yang tidak suka dikenal.”
Seorang insan yang merasa penting, seringkali terjebak dalam kerumitan yang tak berujung. Setiap langkah, setiap perbuatan, seolah harus melewati saringan pandangan manusia, demi menjaga citra atau eksistensi diri. Padahal, siapakah kita di hadapan Kebesaran Ilahi? Tiada yang hakiki melainkan Dia.
Jika hati kita masih terpikat oleh pujian dan pengakuan manusia, maka ibadah kita, sesungguhnya, belumlah mencapai puncak keikhlasan. Ini adalah sebuah penegasan bahwa setiap motivasi di balik amal, haruslah murni karena Allah, bukan karena ingin dilihat atau dipuji oleh makhluk.
Seringkali, keinginan untuk dikenal itu bagaikan mencari penyakit yang akan terus menggerogoti ketenangan batin. Jika sudah dikenal, mudah disalahpahami, mudah terjebak dalam pujian yang melahirkan ujub (kesombongan), dan mudah pula menjadi sasaran hujatan. Bukankah lebih utama hidup dalam ketenteraman, beribadah dengan keikhlasan yang tulus, tanpa diganggu oleh prasangka atau ekspektasi manusia?
Hikmah ini adalah sebuah undangan untuk memahami bahwa melepaskan keinginan untuk dikenal adalah langkah awal menuju kebebasan sejati, membebaskan diri dari belenggu pandangan manusia, dan sepenuhnya tertuju pada Dzat Yang Maha Abadi.
Hikmah ini, sejatinya, bukan hanya berbicara tentang keikhlasan dalam arti tidak pamer. Ini jauh lebih dalam lagi. Ini adalah peringatan bahwa bahkan niat untuk “tidak ingin dikenal” itu sendiri bisa menjadi sebuah jebakan ego yang paling halus, seolah kita ingin dikenal sebagai orang yang rendah hati. Ini adalah riya’ dalam bentuk yang paling rumit, yang hanya bisa disadari oleh hati yang telah tercerahkan. Kitab Al-Hikam sering menguraikan nuansa ini. Syekh Ibnu Atha’illah mengingatkan, jika Allah membuka jalan bagi kita untuk mengenal-Nya, janganlah pedulikan jika amal kita terasa berkurang, karena Dia berkehendak agar kita mengenal-Nya. Ini berarti pengenalan akan Diri-Nya adalah anugerah yang jauh melampaui segala amal perbuatan kita. Bagaimana mungkin persembahan kita dibandingkan dengan anugerah-Nya yang tak terhingga? Penekanan ini menguatkan bahwa fokus sejati harus pada Allah, bukan pada diri sendiri atau pengakuan dari makhluk.
Perasaan “diri ini penting” adalah penghalang utama menuju hakikat karena mengalihkan perhatian dari Sang Pencipta ke ciptaan, bahkan diri sendiri. Ketika seseorang benar-benar menginternalisasi hikmah ini, efeknya adalah pencapaian fana’ (peleburan diri) di hadapan keagungan Ilahi, di mana keinginan untuk dikenal atau tidak dikenal menjadi tidak relevan. Ini adalah langkah krusial menuju ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah) yang sejati, di mana tabir ego terangkat dan koneksi dengan Yang Maha Kuasa menjadi tanpa hambatan
2. “Mengurai Gundah Hati: Ketika Diri Merasa Ada, Padahal Hanya Dia yang Ada.”
مَا تَجِدُهُ الْقُلُوبُ مِنَ الْهُمُومِ وَالْأَحْزَانِ فَلِأَجْلِ مَا مُنِعَتْ مِنَ الْوُجُودِ الْعِيَانِ
“Apa yang hati dapati dari kegelisahan dan kesedihan adalah karena terhalangnya dari menyaksikan Wujud (Allah) secara langsung (al-ayan).” Ini adalah Hikmah ke-198 dari Kitab Al-Hikam.
Pernahkah kita merenungi mengapa hati seringkali diliputi kegelisahan dan kesedihan? Mengapa humum dan ahzan begitu mudah menyusup ke dalam relung jiwa? Kyai Anwar mengutip dari Al-Hikam dengan jelas menyatakan bahwa akar dari semua itu adalah rukyahtunnafs (melihat diri sendiri) dan hadzunnafs (tetapnya rasa diri).
Kita merasa diri ini memiliki eksistensi independen, memiliki keinginan, memiliki kekuatan. Ketika keinginan tak tercapai, lahirlah kesedihan. Ketika kekuatan tak cukup, muncullah kegelisahan. Kegelisahan dan kesedihan, baik di dunia maupun akhirat, adalah konsekuensi dari terhalangnya hati untuk menyaksikan kehadiran Allah secara langsung, al-ayan.
Padahal, sesungguhnya, yang benar-benar ada itu hanyalah Dzat Allah semata. La ilaha illallah. Ini bukan sekadar untaian kata di lisan, melainkan sebuah keyakinan yang harus meresap hingga ke kedalaman hati, bahkan terpancar dalam pandangan batin. Jika hati telah sepenuhnya tertaut pada-Nya, maka tiada lagi yang perlu disesali atau dikhawatirkan. Allah, Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Mengatur segalanya. Hidup ini akan terasa begitu lapang dan mudah. Ketenangan sejati akan menyelimuti jiwa.
Hidup ini hanyalah mampir ngombe (singgah minum). Jika kita merasa diri ini penting dan abadi di dunia fana ini, maka kita akan mudah sedih ketika kehilangan sesuatu atau ketika keinginan tak tercapai. Ini adalah peringatan lembut bagi mereka yang terlalu terikat pada duniawi, yang seringkali menjadi sumber kegelisahan abadi.
Konsep sangkan paraning dumadi (asal-usul dan tujuan kehidupan) mengajarkan kita bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jika kita menyadari sepenuhnya hakikat ini, maka tiada lagi ruang bagi kegelisahan dan kesedihan, karena semua telah berada dalam Genggaman Ilahi.
Kita diajak untuk nrimo ing pandum (menerima dengan ikhlas apa yang telah diberikan), pasrah pada takdir Ilahi. Filosofi ini mengajarkan penerimaan dan ketenangan batin dalam menghadapi segala cobaan.
Kesedihan itu muncul karena kita kehilangan syuhud (penyaksian langsung) akan Wujud Allah. Kita merasa terpisah, padahal Allah itu Maha Dekat, lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Ibarat orang tersesat di rumah sendiri, padahal pintu kebahagiaan itu sudah di depan mata. Ketika kita mampu menyaksikan kehadiran Ilahi dalam setiap tarikan napas dan setiap kejadian, maka tiada lagi ruang bagi kesedihan.
Akar kesedihan adalah “kehilangan syuhud” (penyaksian langsung) terhadap Allah. Ketika hati terhalang dari melihat Wujud-Nya yang nyata dan senantiasa hadir (al-ayan), maka ia akan dipenuhi kegelisahan. Hal ini menunjukkan bahwa rukyahtunnafs (melihat diri sendiri sebagai entitas independen) dan hadzunnafs (perasaan diri yang terus-menerus ada) adalah penyebab utama yang menghalangi hati untuk mencapai syuhud terhadap Allah. Kondisi ini menghasilkan humum (kekhawatiran) dan ahzan (kesedihan).
Konsep syuhud ini, berada di atas sekadar yaqin (keyakinan). Mari kita ingat kisah Nabi Muhammad SAW kepada Abu Bakar radiallahu anhu saat di gua: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Abu Bakar sudah memiliki yaqin bahwa Allah bersamanya, namun Rasulullah SAW berada dalam maqam al-ayan (maqam penyaksian langsung), sehingga tak ada sedikit pun kesedihan yang menghampiri beliau.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa syuhud adalah puncak ketenangan, di mana kesadaran akan kehadiran Ilahi begitu kuat sehingga segala kesedihan duniawi lenyap. Ini adalah transformasi internal dari kesadaran ego-sentris menjadi kesadaran Ilahi yang mendalam, yang pada gilirannya membawa kedamaian batin yang tak tergoyahkan.

infaq untuk pendidikan
3 Comments
mustain · May 29, 2025 at 6:30 am
joss شکراکثير
Diba · May 30, 2025 at 8:00 am
Apa makna al ayan, maksudnya melihat Allah secara langsung?
Amir · May 30, 2025 at 8:53 am
Hakekat