Mengarungi “Aqabah”: Sebuah Renungan

Published by Pengasuh Dzinnuha on

mendaki kesukaran atau berderma untuk sesama

Surah Al-Balad ayat 11 membuka sebuah tirai pemikiran yang mendalam: “فَلا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ” (Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?). Sebuah pertanyaan retoris yang menggiring kita merenungi makna “Aqabah” atau “jalan mendaki lagi sukar” itu sendiri. Apakah ia sekadar jalan fisik yang terjal, ataukah ia metafora bagi tantangan-tantangan hidup yang hakiki?

Kata “iqtiham” (اقْتِحَامَ) sendiri memiliki nuansa yang kuat: melemparkan diri ke dalam sesuatu tanpa pertimbangan matang. Ia bisa bermakna “menyerbu”, “menerobos”, atau bahkan “menjerumuskan”. Dari sini, kita bisa memahami bahwa “Aqabah” bukanlah rintangan biasa. Ia adalah sesuatu yang memerlukan keberanian, bahkan kenekatan, untuk dapat dilalui.

Aqabah dalam Tinjauan Bahasa dan Makna

Para ahli bahasa menguraikan “Aqabah” dengan beragam perspektif. Ada yang mengaitkannya dengan “al-quhmah” (القُحْمَةُ), yang berarti kemalangan atau tahun yang berat, seperti paceklik yang memaksa kaum Badui mencari penghidupan di perkotaan. Ada pula yang menyebut “al-quham” (القُحَمُ) sebagai jalan-jalan yang sulit.

Ayat ini, dengan penggunaan partikel “fala” (فَلا) yang tunggal, menjadi menarik. Lazimnya, dalam bahasa Arab, kata “la” (لا) yang menyertai kata kerja lampau sering diulang, seperti dalam firman-Nya, “Maka ia tidak membenarkan (Rasul) dan tidak pula mengerjakan shalat” (QS. Al-Qiyamah: 31). Namun, dalam ayat ini, pengulangan itu tidak ada. Ini menunjukkan adanya makna yang terkandung secara implisit, seolah-olah mengisyaratkan, “Maka tidaklah ia menempuh Aqabah, dan tidak pula beriman.” Sebagian mufassir juga melihatnya sebagai bentuk doa, seolah-olah dikatakan, “Semoga ia tidak selamat dan tidak beruntung.”

Lantas, apa hakikat dari “Aqabah” ini? Sufyan bin Uyainah menjelaskan bahwa setiap kali Al-Qur’an menggunakan frasa “wama adraka” (وَمَا أَدْرَاكَ – tahukah engkau?), maka informasinya akan diberitahukan. Sebaliknya, jika menggunakan “wama yudrika” (وَمَا يُدْرِيكَ – apa yang menjadikanmu tahu?), maka informasinya tidak diberitahukan. Dalam konteks ini, frasa “wama adraka mal ‘aqabah” (وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ – dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?) mengindikasikan bahwa Al-Qur’an akan menjelaskan hakikat “Aqabah” tersebut.

Menafsirkan “Aqabah”: Beragam Perspektif

Para mufassir memiliki beragam pandangan mengenai makna “Aqabah”:

  • Pengeluaran Harta di Jalan Kebaikan: Ibn Zaid dan sebagian besar mufassir berpendapat bahwa “Aqabah” adalah pengorbanan harta benda untuk membebaskan budak dan memberi makan orang yang kelaparan. Ini adalah bentuk pengeluaran yang jauh lebih baik daripada menggunakannya untuk memusuhi Rasulullah SAW. Jadi, ayat ini seolah menegur, “Mengapa tidakkah ia menginfakkan hartanya untuk membebaskan budak dan memberi makan orang miskin, agar ia bisa melewati ‘Aqabah’ itu?”

  • Perjuangan Melawan Diri Sendiri: Sebagian lain melihat “Aqabah” sebagai perumpamaan bagi urusan-urusan besar dalam menginfakkan harta di jalan ketaatan kepada Allah dan keimanan kepada-Nya. Ini selaras dengan pandangan bahwa “Aqabah” adalah bentuk doa, di mana orang yang tidak berinfak di jalan kebaikan tidak akan selamat.

  • Hambatan Dosa dan Kesusahan: Ada pula yang menafsirkan “Aqabah” sebagai tumpukan dosa yang memberatkan dan menyakitkan. Dengan membebaskan budak dan beramal saleh, seseorang seolah berhasil “menerobos” hambatan dosa-dosa tersebut.

  • Jalan di Neraka: Ibnu Umar dan Abu Raja’ menyebutkan bahwa “Aqabah” adalah gunung di neraka Jahanam. Beberapa riwayat bahkan menjelaskan bahwa mendakinya membutuhkan tujuh ribu tahun dan menuruninya juga tujuh ribu tahun. Hasan dan Qatadah mengaitkannya dengan jalan sulit di Neraka yang terletak sebelum jembatan (Sirat).

  • Shirath al-Mustaqim: Mujahid, Dhahhak, dan al-Kalbi berpendapat bahwa “Aqabah” adalah Shirath (jembatan) yang terbentang di atas neraka Jahanam, setajam mata pedang, dengan perjalanan tiga ribu tahun, baik datar, mendaki, maupun menurun. Namun, bagi mukmin, perjalanan ini akan terasa sangat singkat, seolah dari Ashar hingga Isya, atau bahkan sekejap shalat wajib.

  • Neraka Itu Sendiri: Abu Raja’ dari Hasan meriwayatkan bahwa Neraka itu sendiri adalah “Aqabah”. Membebaskan budak akan menjadi tebusan dari api neraka.

  • Melewati Kengerian Hari Perhitungan: Ada juga yang mengartikan “Aqabah” sebagai selamat dari kengerian hisab (perhitungan amal) pada hari kiamat.

  • Jihad Melawan Diri dan Setan: Hasan juga menafsirkan “Aqabah” sebagai perjuangan keras manusia melawan hawa nafsu, syahwat, dan musuhnya, setan. Ini adalah “Aqabah” yang sesungguhnya, sebuah jihad akbar yang tiada henti. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair:

    Inni bulitu bi arba’in yarminani Bin nabli qad nasabu ‘alayya syiraka Iblis wal dunya wa nafsi wal hawa Min aina arju bainahunna fikaka Ya Rabbi sa’idni bi ‘afwin innani Asbahtu la arju lahunna siwaka

    (Sungguh, aku diuji oleh empat yang menembakiku Dengan panah, mereka telah memasang perangkap untukku Iblis, dunia, nafsuku, dan hawa nafsu Dari mana aku berharap bisa terlepas di antara mereka? Ya Rabb, bantulah aku dengan ampunan, sungguh aku Tidak berharap kepada selain-Mu untuk melepaskanku)


Pada akhirnya, “Aqabah” dalam surah Al-Balad adalah sebuah konsep multi-dimensional yang mengajak kita untuk merenungi tantangan-tantangan besar dalam hidup. Baik itu pengorbanan harta di jalan Allah, perjuangan melawan hawa nafsu, melewati rintangan duniawi, hingga menghadapi ujian di akhirat. Semua adalah “Aqabah” yang harus kita tempuh dengan keteguhan iman dan amal saleh.

Apa “Aqabah” terbesar dalam hidup Anda saat ini, dan bagaimana Anda berencana untuk mengarunginya?

Categories: kajian

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *