Memenangkan Pertarungan Abadi Dalam Jiwa Manusia

Published by Pengasuh Dzinnuha on

hidayah itu mahal, jagalah

Dalam khazanah nasihat salafus saleh, terpancar hikmah mendalam yang patut kita renungkan. Salah satunya adalah perkataan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi yang begitu tajam dan menusuk kalbu:

قيل لمحمد بن كعب القرظي: ما علامة الخِذْلَان ؟ قال: (أن يستقبح الرَّجل ما كان عنده حسنًا، ويستحسن ما كان عنده قبيحًا).

“Dikatakan kepada Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi: ‘Apa tanda kehinaan/keterlantaran (Al-Khidzlan)/ditelantarkan Allah?’ Beliau menjawab: ‘(Tanda kehinaan adalah) seseorang menganggap buruk apa yang dulunya ia anggap baik, dan menganggap baik apa yang dulunya ia anggap buruk.'”

Pernyataan ini bagaikan cermin buram yang memantulkan betapa berbahayanya inkonsistensi dalam memegang teguh nilai dan prinsip kebenaran. Al-Khidzlan, keterlantaran dari pertolongan Allah, berawal dari kerancuan pandangan seorang hamba terhadap baik dan buruk. Ketika standar kebenaran bergeser mengikuti hawa nafsu dan kepentingan sesaat, maka kehancuran spiritual dan keterasingan dari rahmat Ilahi menjadi konsekuensi logis.

Senada dengan itu, Ali bin Ubaidah memberikan perspektif psikologis yang mendalam tentang pergulatan internal manusia:

وقال علي بن عبيدة: (العقل والهوى ضدَّان فمؤيِّد العقل التَّوفيق، وقرين الهوى الخِذْلَان، والنَّفس بينهما، فأيهما ظفر كانت في حيِّزه) [تسهيل النظر، للماوردى].

“Berkata Ali bin Ubaidah: ‘(Akal dan hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Pendukung akal adalah taufik (pertolongan Allah), dan teman dekat hawa nafsu adalah al-khidzlan. Jiwa berada di antara keduanya, maka mana pun yang menang, jiwa akan berada di pihak itu)’.”

Di sini, kita dihadapkan pada realitas pertarungan abadi dalam diri manusia. Akal, dengan bimbingan wahyu, menuntun kepada kebenaran dan berujung pada taufik Allah. Sementara itu, hawa nafsu, dengan segala bisikan syahwat dan kepentingan duniawi, menjerumuskan pada al-khidzlan. Jiwa menjadi medan pertempuran, dan kemenangannya ditentukan oleh kepada siapa ia berpihak.

Lebih lanjut, Imam An-Nawawi dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim memberikan pemahaman yang lebih operasional tentang makna la yakhdzuluh (tidak menelantarkannya) dalam konteks hadis:

قال النَّوويُّ: (وأمَّا: لا يَخْذُله،فقال العلماء: الخَذْل: ترك الإعانة والنَّصر، ومعناه إذا استعان به في دفع ظالم ونحوه، لزمه إعانته إذا أمكنه، ولم يكن له عذر شرعيٌّ) [شرح النووى على مسلم].

“Berkata An-Nawawi: ‘(Adapun: ‘tidak menelantarkannya’, maka para ulama berkata: Al-khadzl adalah meninggalkan pertolongan dan kemenangan. Maknanya adalah jika seseorang meminta pertolongan kepadanya dalam menghadapi orang zalim dan semisalnya, maka wajib baginya untuk menolongnya jika mampu dan tidak ada uzur syar’i)’.”

Penjelasan Imam An-Nawawi ini memperluas pemahaman al-khidzlan tidak hanya sebagai kondisi spiritual, tetapi juga sebagai implikasi sosial. Menelantarkan saudara yang membutuhkan pertolongan, padahal mampu, juga merupakan bentuk khidzlan. Ini menunjukkan betapa ajaran Islam tidak hanya menekankan kesalehan individual, tetapi juga tanggung jawab sosial.

Namun, di tengah ancaman al-khidzlan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kabar gembira bagi mereka yang teguh dalam memegang perintah-Nya:

وعن معاوية بن قرَّة رضي الله عنه قال: سمعت النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم يقول: (لا يزال مِن أمَّتي أمَّة قائمة بأمر الله، لا يضرُّهم مَن خذلهم ولا مَن خالفهم، حتى يأتيهم أمر الله وهم على ذلك) [رواه البخارى ومسلم].

“Dari Mu’awiyah bin Qurrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Akan senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang tegak menjalankan perintah Allah. Tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka maupun orang yang menyelisihi mereka, hingga datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan demikian’.”

Hadis ini memberikan harapan dan kekuatan bagi setiap muslim untuk tetap istiqamah di jalan Allah. Meskipun tantangan dan godaan datang silih berganti, bahkan mungkin ada orang-orang yang berusaha menjatuhkan atau menyimpangkan, janji Allah bagi mereka yang teguh sangatlah jelas: pertolongan dan kemenangan akan menyertai mereka hingga akhir hayat.

Urgensi menjaga petunjuk Allah dan bahaya mengubah hidayah dengan kesesatan semakin ditegaskan dalam firman-Nya:

{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ}

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan di dalamnya (pula) kamu memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-32)

Ayat yang mulia ini menggambarkan balasan yang agung bagi mereka yang tidak hanya mengucapkan keimanan, tetapi juga membuktikannya dengan istiqamah. Istiqamah di sini bukan sekadar melakukan ibadah ritual, tetapi juga konsistensi dalam menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Mereka yang demikian akan mendapatkan ketenangan hati, kabar gembira surga, dan perlindungan Allah di dunia maupun di akhirat.

Sebaliknya, mereka yang tergoda untuk mengubah hidayah dengan kesesatan, yang menganggap baik apa yang dulunya buruk dan sebaliknya, sesungguhnya sedang menuju jurang al-khidzlan. Mereka mempertaruhkan kebahagiaan abadi demi kesenangan sesaat dan mengikuti bisikan hawa nafsu yang menyesatkan.

Oleh karena itu, urgensi menjaga petunjuk Allah tidak dapat ditawar. Ia adalah lentera yang menerangi jalan hidup kita, kompas yang menuntun arah, dan tali yang menghubungkan kita dengan rahmat dan pertolongan-Nya. Istiqamah adalah kunci untuk meraih janji Allah dan terhindar dari kehinaan dan keterlantaran. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan untuk tetap teguh di jalan-Nya hingga akhir hayat.

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *