Ilmu itu cahaya bukan kumpulan informasi yang membebani ingatan

Guru adalah penghubung kita dengan Nabi
Perjalanan dari Jakarta ke Malang melalui darat, membuat saya harus mengisi waktu dengan membaca dan mendengarkan pengajian dari media sosial.
Ada kajian menarik dari Seikh Ali Jum’ah yang saya dengar dari akun dalilul falihin yang membuat saya ingin mengabadikan penjelasan beliau tentang distingsi ilmu dan pengetahuan,
Dalam diskursus keilmuan Islam, pembedaan antara ‘ilm dan ma’rifah (atau dalam konteks ini, pengetahuan yang terfragmentasi) bukanlah hal baru. Namun, penekanan Syekh Ali Jum’ah pada dimensi transmisi, otentisitas melalui sanad, dan imperatif taqwa sebagai prasyarat substansial bagi perolehan ilmu yang bernilai, membuka ruang refleksi yang mendalam.
Pengetahuan, dalam perspektif ini, cenderung bersifat akumulatif dan deskriptif. Ia merupakan himpunan data, fakta, dan informasi yang terarsipkan dalam berbagai medium. Kendati demikian, pengetahuan semata belum tentu mentransformasi individu pada level ontologis dan spiritual. Ia bagaikan peta statis yang belum tentu membimbing pejalan menuju destinasi yang hakiki.
Sebaliknya, ilmu (‘ilm) melampaui sekadar penguasaan informasi. Ia melibatkan proses internalisasi nilai, pemahaman mendalam, dan yang krusial, transmisi otoritatif dari seorang guru (mursyid) yang memiliki sanad yang terhubung hingga Rasulullah SAW. Rantai transmisi ini bukan sekadar formalitas, melainkan mengandung dimensi keberkahan (barakah) dan legitimasi epistemologis. Keberadaan sanad memastikan bahwa ilmu yang diterima memiliki akar yang kuat dalam tradisi profetik, menghindari interpretasi subjektif yang rentan terhadap distorsi.
Lebih lanjut, Syekh Ali Jum’ah menggarisbawahi imperatif taqwa sebagai fundamen bagi perolehan dan pelanggengan ilmu. Ini mengindikasikan bahwa dimensi etis dan spiritualitas inheren dalam konstruksi ilmu yang sejati. Ilmu tanpa taqwa berpotensi menjadi alat kekuasaan yang destruktif atau sekadar ornamen intelektual yang hampa makna.
Dalam konteks perbandingan antara santri dan murid sekolah umum, perbedaan fundamental terletak pada orientasi dan metodologi pembelajaran. Santri, melalui interaksi intensif dengan guru dan tradisi keilmuan yang berakar pada sanad, tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengalami proses pembentukan karakter dan internalisasi nilai-nilai spiritual. Sementara itu, murid sekolah umum cenderung berfokus pada penyerapan materi pelajaran yang seringkali terpisah dari dimensi etis dan spiritual yang mendalam.
Dengan demikian, pandangan Syekh Ali Jum’ah mengajak kita untuk merefleksikan kembali hakikat ilmu dalam tradisi Islam. Ilmu bukan sekadar komoditas intelektual yang dapat diperoleh secara instan melalui berbagai sumber. Ia adalah entitas yang hidup, yang ditransmisikan melalui jalur yang terverifikasi, dan yang meniscayakan adanya kesungguhan spiritual dan ketaatan etis. Tanpa dimensi-dimensi ini, apa yang kita peroleh hanyalah fragmen-fragmen pengetahuan yang belum tentu membawa pada pencerahan dan kedekatan dengan Sang Khalik.
Refleksi ini mengingatkan kita akan pentingnya revitalisasi tradisi keilmuan yang menekankan pada otoritas guru, kesinambungan sanad, dan integrasi nilai-nilai spiritual dalam proses pembelajaran. Ilmu yang sejati adalah nur, cahaya yang membimbing, bukan sekadar informasi yang membebani ingatan.

infaq untuk pendidikan
0 Comments