“Walid” dan Retrospeksi Spiritual: Imam Ghazali dan Misteri Hati dalam Bingkai Zaman

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Kontroversi Walid di Bidaah: Ketika Iman Jadi Alat Kekuasaan Film “Walid” yang belakangan ini menyita perhatian publik, dengan narasi kompleks tentang penyalahgunaan otoritas dan manipulasi berbalut agama, sesungguhnya bukanlah sebuah anomali yang sama sekali baru dalam sejarah pemikiran Islam. Jauh sebelum sinema modern menghadirkan visualisasi dramatis tentang oknum-oknum yang menyalahgunakan simbol-simbol keagamaan, seorang intelektual dan sufi agung, Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi, telah memberikan elaborasi mendalam mengenai potensi hipokrisi dan penyimpangan di balik atribut kesalehan.

‏وقد يظهر بعضهم زي التصوف وهيئة الخشوع وكلام الحكمة على سبيل الوعظ والتذكير وإنما قصده التحبب إلى امرأة

‏”Terkadang ada sebagian orang yang menampakkan pakaian sufi, perilaku khusuk dan ucapan hikmah dalam bentuk nasihat dan mengingatkan. Padahal tujuannya hanyalah agar dapat cinta seorang wanita!” 

Kritik yang ia tulis dalam karya monumentalnya, Ihya Ulumuddin ini, Imam Ghazali dengan kecerdasan psikologis yang tajam menyoroti tipologi individu yang menampilkan zayy at-tasawwuf (pakaian sufi) dan hay’ah al-khusyu’ (penampilan khusyuk) serta melontarkan kalam al-hikmah (ucapan bijak) dalam format nasihat dan peringatan. Namun, ironisnya, di balik performa kesalehan itu, tersembunyi motif duniawi yang dangkal, bahkan serendah upaya at-tahabbub ila imra’ah (menarik perhatian seorang wanita). Sebuah observasi yang mengindikasikan bahwa formalitas ritual dan simbolisme keagamaan, tanpa fondasi ketulusan dan kejernihan niat, rentan menjadi kamuflase bagi agenda-agenda personal yang egoistis.

Resonansi pemikiran Imam Ghazali ini terasa relevan ketika kita menelaah narasi dalam film “Walid”. Meskipun dengan latar dan detail sosio-kultural yang berbeda, film tersebut menyajikan potret tentang bagaimana kekuasaan dan pengaruh yang bersumber dari otoritas agama dapat terdistorsi dan dieksploitasi demi pemuasan hasrat pribadi. Sosok “walid” dalam film menjadi representasi bagaimana simbol-simbol keagamaan, yang seharusnya memancarkan nilai-nilai etis dan spiritual, justru dapat menjadi instrumen manipulasi dan penyalahgunaan kepercayaan.

Kritik Imam Ghazali terhadap fenomena “buaya berjubah” dan representasi distorsi otoritas dalam “Walid” menggarisbawahi sebuah prinsip fundamental dalam etika Islam: esensi agama terletak pada kualitas internal dan manifestasi perilaku yang autentik, bukan semata-mata pada performa eksternal. Atribut-atribut keagamaan atau status sosial yang diemban seseorang adalah amanah yang mengandung tanggung jawab moral yang besar, dan penyalahgunaannya merupakan sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai agama itu sendiri.

Lebih lanjut, atsar dari Imam Ja’far Ash-Shadiq memberikan perspektif teologis yang mendalam terkait dengan kompleksitas penilaian manusia. Beliau menyatakan:

قال جعفر الصادق إن الله تعالى خبأ ثلاثاً في ثلاث رضاه في طاعته فلا تحقروا منها شيئاً فلعل رضاه فيه وغضبه في معاصيه فلا تحقروا منها شيئاً فلعل غضبه فيه وخبأ ولايته في عباده فلا تحقروا منهم أحداً فلعله ولي الله تعالى وزاد وخبأ إجابته في دعائه فلا تتركوا الدعاء فربما كانت الإجابة فيه

Pernyataan Imam Ja’far ini mengingatkan kita akan misteri sirrullah (rahasia Allah) dalam menentukan derajat dan kedudukan seseorang. Keridhaan dan kemurkaan Ilahi, demikian pula status kewalian, tersembunyi dalam dimensi yang tidak sepenuhnya terjangkau oleh penilaian manusia yang terbatas. Oleh karena itu, meremehkan atau mengagungkan seseorang hanya berdasarkan tampilan luar atau atribut yang dikenakannya adalah sebuah kekeliruan epistemologis.

Terekam dalam sebuah hadis tentang kemarahan Rasulullah SAW terhadap klaim palsu atas nama beliau. Seseorang yang diutus Rasulullah ke sebuah perkampungan arab, memanfaatkan perintahnya untuk kepentingan pribadinya untuk mendapatkan para perempuan dikampung itu atas nama Rasulullah. Hingga Rasulullah memerintahkannya untuk menghukum mati orang tersebut. Kisah ini juga memberikan ilustrasi tentang betapa seriusnya implikasi penyalahgunaan otoritas agama. Tindakan mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi adalah sebuah pelanggaran etis yang fundamental.

Dalam konteks ini, popularitas film “Walid” dapat dipandang sebagai sebuah refleksi kontemporer terhadap kearifan para ulama klasik seperti Imam Ghazali dan Imam Ja’far Ash-Shadiq. Isu tentang hipokrisi dan penyalahgunaan simbol-simbol agama bukanlah fenomena anakronistik. Film ini, dalam medium yang lebih populer, sekali lagi mengingatkan kita akan pentingnya menelisik lebih dalam melampaui permukaan formalitas dan retorika keagamaan. Esensi spiritualitas terletak pada integritas hati dan manifestasi perilaku yang selaras dengan nilai-nilai etis universal, bukan pada atribut-atribut eksternal yang rentan disalahgunakan oleh mereka yang terperangkap dalam labirin nafsunya.

Jauh sebelum “Walid” hadir sebagai representasi visual, para pemikir Muslim telah lama mengajak kita untuk merenungkan misteri hati dan bahaya kemunafikan yang bersembunyi di balik jubah kesalehan. Tuhan tidak melihat atribut dan status sosial, Tuhan melihat hatimu, niatmu…

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *