Mengetuk Pintu Surga Dengan Menyayangi Sesama Manusia

memanusiakan manusia sebagai pintu surga
Lagi enak-enak ngopi pagi, eh, keingetan dawuhnya Kiai Nawawi al-Bantani. Beliau itu lho, ulama Banten yang ilmunya masya Allah. Di kitabnya, “Al Futuhat al Madaniyyah,” beliau mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang begini bunyinya:
“Tidak akan masuk surga, kecuali orang yang menyayangi.”
Spontan para sahabat itu nyeletuk, “Ya Rasulullah, lha wong kita ini sudah pada sayang kok!”
Tapi Kanjeng Nabi malah dawuh lagi, “Bukan hanya menyayangi temannya sendiri. Tapi sayangilah semua manusia!” Terus beliau menambahkan, “Maka sayangilah semua ciptaan Allah. Karena mereka itu ya hamba-hamba-Nya, meskipun kadang ya nakal, ora manut.”
Nah, lho! Ini kan nylekit banget. Kita ini seringkali sayangnya pilih-pilih. Sama teman deket, sama keluarga sendiri, wah, sayangnya bukan main. Tapi kalau sama orang lain, apalagi yang beda pandangan, beda keyakinan, kadang ya rodok ogah-ogahan. Padahal, Kanjeng Nabi jelas-jelas bilang, sayangilah semua manusia. Mereka itu ya sama-sama ciptaan Gusti Allah. Dan itu syarat masuk surga.
Terus, Imam Qurtuby juga menambahkan, kasih sayang itu ada dua macam. Ada yang umum, ada yang khusus. Kalau yang umum itu ya kasih sayang dalam urusan agama. Saling cinta karena Allah, saling menasihati dalam kebaikan, berlaku adil, berusaha menegakkan yang hak dan yang sunah. Pokoknya, kasih sayang yang didasari kesadaran beragama.
Nah, kalau yang khusus itu, Imam Qurtuby bilang, ya memberi nafkah kepada kerabat, meskipun kelakuannya kadang bikin elus dada. Bahkan, ya melupakan kesalahan-kesalahannya. Ini juga penting. Kadang, sama keluarga sendiri saja kita masih suka menyimpan uneg-uneg, masih suka ngungkit-ungkit kesalahan lama. Padahal, ya namanya juga keluarga, seharusnya saling memaafkan, saling menyayangi tanpa syarat. Dawuh Mbah Yai Imam Yahya Mahrus, “saudara itu kalau dekat bau bangkai kalau jauh berbau wangi.”
Jadi, intinya apa? Ya itu tadi, menyayangi manusia. Semua manusia. Bukan cuma yang sepaham, bukan cuma yang satu golongan, bukan cuma yang baik sama kita. Tapi semua. Lha wong mereka itu ya sama-sama punya hati, sama-sama punya rasa. Meskipun mungkin caranya berbeda, tujuannya mungkin kelihatan lain, tapi di mata Gusti Allah, mereka itu ya hamba-hamba-Nya juga. Mereka berbuat buruk kepada kita kadang yo karena kita sedang diingatkan Allah. Wong banyak dosanya. Orang lain berperilaku buruk pada kita kan digerakkan Allah. ya to?
Kita ini seringkali terlalu gampang menghakimi orang lain. Melihat luarnya saja, tanpa mau tahu dalamnya. Padahal, setiap manusia itu punya cerita sendiri, punya perjuangan sendiri. Mungkin saja, kenapa dia begitu, ya karena ada alasan di baliknya.
Maka, di kehidupan ini, yang paling penting itu ya belajar menyayangi. Belajar memanusiakan manusia. Melihat orang lain itu ya seperti melihat diri sendiri. Kalau kita nggak suka disakiti, ya jangan menyakiti orang lain. Kalau kita pengen diperlakukan dengan baik, ya perlakukan orang lain dengan baik. Sesimpel itu sebenarnya.
Jadi, mulai sekarang, yuk kita latih hati kita untuk lebih welas asih. Sama siapapun. Karena kata Kanjeng Nabi, yang bisa masuk surga itu ya cuma orang yang punya rasa sayang. Bukan cuma sayang sama teman, tapi sayang sama kabeh menungso. Oalah, sesama manusia to, ayo dipandang dengan welas asih… sayangilah! Insya Allah, kalau kita bisa begitu, hidup ini jadi lebih tentrem, lebih indah, dan siapa tahu, ya surga itu memang sudah dekat. Wallahu a’lam bish-shawab.

infaq untuk pendidikan
2 Comments
Denny hermawan · April 15, 2025 at 6:16 am
Semoga saya bisa mengaplikasikan dalam keseharian. bismillah.
Pengasuh Dzinnuha · April 17, 2025 at 7:14 am
amien, moga Allah senantiasa menolong kita