Lebaran, Itu Urusan Hati dan Sesama

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Lebaran untuk apa?

Begini lho, kalau sudah Lebaran begini, ya namanya juga hari raya. Senang itu pasti. Baju baru, opor ayam, ketupat, wah… macam-macamlah. Itu sudah jadi semacam tradisi, dari dulu ya begitu. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, apa sih sebetulnya yang bikin Lebaran itu jadi istimewa?

Kata orang alim, urusannya itu balik lagi ke niat. Kalau kita merayakan ini karena Allah, ya beda ceritanya. Ada ganjaran yang dijanjikan. Tapi kalau cuma ikut-ikutan, atau malah niatnya nggak karuan, ya… hasilnya juga bisa lain. Hidup ini memang soal pilihan, dari yang kecil sampai yang besar.

Saya jadi ingat cerita lama. Ada seorang kiai, orangnya sederhana sekali. Di hari Lebaran, beliau malah nggak pakai baju yang terlalu mentereng. Kenapa? Beliau mikir, kasihan nanti kalau ada tetangga yang hidupnya pas-pasan, malah jadi minder hatinya. Itu kan menunjukkan betapa beliau itu punya rasa, punya empati. Lebaran itu bukan cuma urusan kita sendiri, tapi juga urusan bagaimana kita menjaga perasaan sesama.

Ada juga yang bilang begini, dan saya rasa ada benarnya: Lebaran itu bukan soal pakaian baru, tapi soal hati yang jadi lebih bersih. Bukan soal perut kenyang, tapi soal dosa yang diampuni. Bukan soal nurutin hawa nafsu, tapi soal tobat yang diterima. Simpel saja kalimatnya, tapi maknanya dalam sekali. Mengingatkan kita bahwa yang penting itu bukan yang kelihatan di luar, tapi yang ada di dalam hati.

Dulu, waktu zaman Imam Ali, pernah ada kejadian menarik. Di hari raya, beliau cuma makan roti biasa. Ada yang heran, kok Amirul Mukminin makannya cuma begitu di hari istimewa? Jawaban beliau itu menukik sekali: hari raya yang sebenarnya itu ya hari di mana kita nggak bikin dosa. Setiap hari kita bisa merayakan kalau kita bisa menjaga diri dari perbuatan yang nggak baik. Itu baru namanya kebebasan yang sesungguhnya.

Saya juga dengar cerita tentang hari Asyura, yang katanya kalau kita berbagi rezeki dengan keluarga, sepanjang tahun kita akan dilimpahi kebaikan. Ada seorang Habib yang sampai menyedekahkan pakaian keluarganya karena ingin berbuat baik di hari itu. Ada juga cerita tentang seorang miskin yang memberikan satu-satunya kainnya demi membantu orang lain. Tindakan-tindakan seperti itu menunjukkan bahwa inti dari ibadah itu ya kepedulian terhadap sesama. Di hari-hari yang dianggap istimewa, rasa itu justru harus lebih menonjol.

Jadi, Lebaran itu apa dong kalau begitu? Ya, selain kumpul keluarga, makan enak, dan pakai baju baru, yang paling penting itu urusan hati dan urusan sesama. Bagaimana kita bisa bikin orang lain ikut senang, bagaimana kita bisa meringankan beban mereka yang kesulitan. Itu mungkin yang lebih esensial dari sekadar merayakan diri sendiri.

Maka, di Lebaran kali ini, coba deh kita lihat sekeliling. Ada nggak tetangga yang mungkin butuh uluran tangan? Ada nggak saudara yang mungkin sedang kesulitan? Barangkali, dengan berbagi sedikit kebahagiaan, kita justru akan merasakan Lebaran yang lebih bermakna. Karena Lebaran yang sesungguhnya, ya itu tadi, urusan hati dan bagaimana kita memanusiakan manusia. Itu yang bikin Lebaran jadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Itu yang bikin Lebaran jadi ibadah yang punya arti.

ditulis: Ning Raudloh Quds Mustofa, Pengasuh Dzinnuha

 

 

infaq untuk pendidikan


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *