Menempa Diri Untuk Tidak Berlebihan

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Puasa adalah salah satu kewajiban agama. Salah satu aturan dari beberapa aturan dalam Islam. Salah satu media ibadah kepada Allah. Ibadah dalam Islam tidak diwajibkan untuk sekedar upacara dan syiar untuk kemudian diterima pemeluknya tanpa kesadaran dan pendalaman agama. Dilaksanakan dengan sekedar alasan ketertundukan dan taat saja. Tetapi Allah mewajibkan berpuasa untuk proses pembersihan jiwa dan pendidikan. Menjernihkan diri seorang muslim.
Ketika ibadah menjadi sebuah bentuk pengakuan akan anugerah Allah, media mensyukuri nikmat Allah, maka didalam ibadah itu pasti ada kemaslahatan bagi hamba baik secara dzahir maupun batin. Kemaslahatan pribadi maupun bagi masyarakat banyak. Kesehatan maupun perbaikan akhlak. Ini semua sangat nampak dalam kewajiban berpuasa Ramadan selama sebulan dalam setahun.

puasa balas dendam

Allah telah berfirman; “ya ayyuhalladzina aamanu kutiba alaikumussiyam kama kutiba alalladzina min qablikum la’allakum tattaqun. Wahai orang yang beriman diwajibkan padamu puasa sebagaimana puasa diwajibkan bagi umat sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
Kalimat “la’allakum tattaqun” menurut Dr. Ahmad Sharbasy dalam bukunya “yas’alunakan fiddini wal hayah” jilid 5 halaman 68 merupakan isyarat yang sangat jelas bahwa hikmah puasa adalah ketaqwaan. Taqwa dari sudut pandang artinya secara umum memberi dua hal yang bermanfaat bagi manusia. Yang pertama “wiqayah” penjagaan. Sudah tidak diragukan lagi bahwa puasa secara sehat akan menjaga manusia dari berbagai macam penyakit. Yang kedua “Quwwah” kekuatan.
Ketika puasa secara dzahir menjaga dari akibat buruk dari konsumsi makanan secara berlebihan dengan cara meminimalisir makan, maka sesungguhnya puasa itu memberi kekuatan dan keselamatan jasad. Dari sini kita memahami bahwa Taqwa itu menjaga dan memberi kekuatan.
Karena puasa memberi kekuatan, menjaga manusia dari penyakit, tentu tidak bisa disebut puasa sebagai beban yang melebihi kekuatan manusia. Karena kewajiban puasa hanya diberikan kepada orang yang dewasa, tidak sedang bepergian dan sehat.
Falsafah puasa menyehatkan didasarkan pada beban lambung yang harus mengolah makanan yang sangat banyak melebihi kebutuhan tubuh atas asupan makanan. Bahkan makanan yang melebihi kebutuhan ini sangat mempengaruhi kesehatan

tubuh. Terlebih saat manusia tidak memperhitungkan bahaya dalam kandungan makanan bagi tubuh dan hanya memperhatikan kelezatannya saja di lidah. Tentu akan mengundang berbagai macam penyakit. Akhir-akhir ini bahkan banyak anak kecil yang sudah terkena diabetes, satu hal yang tidak terjadi dimasa lalu karena makanan instan yang terlalu banyak dikonsumsi.
Quran mengajarkan “kuluu wasrabu wala tusrifuu, innahu layuhibbul musrifin.” Makanlah, minumlah dan jangan berlebihan

karena Allah tidak menyukai orang yang berlebihan. Rasulullah menjelaskan tentang ayat ini dalam sebuah haditsnya; “inna minassaraf an takkula min kulli ma ishtahaita: cukuplah dianggap berlebihan bila kau makan semua yang kau inginkan. Sungguh Ramadan menempa kita untuk tidak menuruti semua yang kita inginkan, tidak berlebihan, agar jasmani sehat dan rohani kokoh dengan keimanan dan keislaman. Wallahu a’lam

 

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *