Puasa dan Moderasi Beragama

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Apa korelasi puasa dengan moderasi beragama? Salah satu tujuan utama dari puasa adalah membangun kepedulian dan jiwa kemanusiaan seorang muslim. Bagaimana dengan berpuasa kita bisa mengerti keterbatasan orang lain untuk melecut kita mau bersyukur dan mau hadir untuk berbagi. Dengan berpuasa kita bisa menumbuhkan rasa dalam diri kita bahwa Allah memberi rizki lebih kepada kita, karena Allah sedang mengamanatkan kepada kita untuk berbagi pada sesama.

puasa untuk peduli sesama

Terus, apa hubungan puasa dengan moderasi beragama? Dalam kesempatan Focus Group Discussion (FGD) Pemetaan (Mapping) Isu Strategis Kebijakan Implementasi Program Moderasi Beragama oleh Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya H. Lukman Hakim Syaifuddin mantan menteri agama di era pak SBY, pencetus program moderasi beragama, pada Selasa, 20 Maret 2024 di Hotel Swiss Bellin, beliau menegaskan bahwa sebenarnya moderasi beragama adalah sekedar bungkus atau casing saja, isinya adalah ajaran agama itu sendiri.

Moderasi beragama adalah proses meneguhkan tentang keharusan beragama secara radikal, mengakar dalam diri seseorang tidak terbawa kedalam ruang publik yang penuh dengan kemajemukan.

Setiap agama, ajarannya bisa dipilah dalam dua, ada yang pokok atau dalam ajaran Islam disebut usuly yang diyakini oleh penganutnya sebagai kebenaran oleh semua agama. Seperti; kemanusiaan, penyelamatan lingkungan, membangun keselamatan bersama, persamaan dan hak hukum yang sama didepan negara. Dengan berpegang pada prinsip usuly ini, semua agama menolak segala praktek diskriminatif dalam berkehidupan.

Ada ajaran agama yang bersifat partikular atau furu’i. Untuk hal furu’i ini tentu tidak semua ajaran itu bisa dipercaya oleh semua, bahkan oleh yang seagama. Karenanya kita harus meletakkan hal-hal furu’i dalam ruang privat bukan di ruang-ruang publik.

Perbedaan awal bulan ramadan contohnya, pemerintah dan sebagian ormas Islam tidak sepakat. Namun karena dalam menjalankan praktek ibadah yang furui/partikular ini menjadi wilayah privat, maka tidak boleh dibawa ke ruang publik untuk kemudian kita memaksakan pendapat orang lain harus sama dengan kita. Dalam menjalankan hal-hal yang bersifat furu’i, karena menjadi ruang privat sangat dibutuhkan toleransi saat berada di ruang publik. Maka seberapa besar seseorang itu bisa menggunakan prinsip-prinsip yang bersifat furu’i di ranah publik? Hal itu sangat dipengaruhi oleh seperti apa implementasi furu’i itu dilakukan diranah publik apakah menabrak rambu-rambu usuli (norma-norma yang diterima semua agama) ataukah tidak.

Wilayah moderasi beragama memang ada di wilayah usuli, memperjuangkan bagaimana ajaran dasar tersebut tidak dilanggar. Tadarus dengan membaca al-Quran di bulan ramadan bagi umat Islam memang disunnahkan, tetapi saat menggunakan pengeras suara, hal ini sudah menggunakan ruang publik yang harus menjaga kepentingan orang lain, apakah masyarakat sekitar terganggu atau tidak.

Disinilah nampak hubungan korelasi puasa dan moderasi beragama. Pada keduanya ada unsur menahan diri untuk tidak memenuhkan semua yang diingini. Sayyidina Umar RA menegaskan cukuplah seseorang disebut melampaui batas bila seseorang mengkonsumsi semua yang diingini. Agama mengajarkan kita tidak melampaui batas. Wallahu A’lam.

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *