Jangan Ajari Orang Yang Tak Tertarik

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Mungkin kita sudah sering membaca surat Abasa pada juz 30. Bila titik tekan kita ada pada ayat pertama dan tidak memahami makna secara keseluruhan, mungkin kita menyimpulkan bahwa Allah menegur Nabi yang cemberut.

Namun bila kita perhatikan ayat ke tiga hingga ayat ke ke tujuh,

وما يدريك لعله يزكى او يذكر فتنفعه الذكرى أما من استغنى فأنت له تصدى ما عليك ان لا يزكى

maka kita kan menemukan satu hal indah yang diajarkan oleh Allah kepada Rasulullah tentang metode pengajaran. Allah mengajarkan bahwa sehebat apapun seseorang, sepandai apapun seseorang, ia tidak akan bisa mendapat ilmu kecuali ia memang berkenan dan mempunyai keinginan mendapat ilmu.

mengajar mereka yang minat

Salah satu orang yang dihadapi oleh Rasulullah saat Abdullah Umi Maktum datang, adalah para pembesar Quraisy yang salah satunya adalah Amr Ibn Hisyam atau lebih dikenal Abu Jahal. Amr Ibn Hisyam karena kepandaiannya, oleh kaumnya disebut Abul Hakam, bapak kebijaksanaan. Namun dia kemudian lebih dikenal dengan Abu Jahal, bapak kebodohan karena ia menolak kebenaran Islam meski sangat rasional dalam pikirannya. Kesombongan dan gengsi membuat dia menutup semua kebenaran yang sebenarnya diakui oleh akalnya sendiri.

Itulah kenapa Allah kemudian mengingatkan Rasulullah, bahwa dalam proses belajar mengajar, butuh ketertarikan seorang murid atau peserta didik untuk menerima ilmu dan kebenaran. Abdullah Umi Maktum yang buta sengaja datang untuk meminta pelajaran tentang keislaman. Ia harus lebih diperhatikan dibanding para pembesar Quraisy yang sudah menutup diri dari kebenaran dan ilmu.

Rasulullah tidak salah, era itu agama atau kepercayaan seseorang bergantung dengan kepercayaan pimpinannya. Bila Utbah, Ubay dan Amr Ibn Hakam saat itu bisa diislamkan, tentu pengikut pembesar Quraisy akan eksodus besar besaran masuk Islam. Inilah yang diharapkan Rasulullah.

Perubahan kurikulum dari waktu ke waktu hingga kelas digital salah satunya mungkin diorientasikan agar anak tertarik belajar. Ketertarikan itu akan menjadikan anak didik kita menjadi mudah memahami ilmu yang disampaikan. Karena ketidaktertarikan hanya akan membuat semua usaha mentransfer ilmu dan mengembangkannya pada peserta didik, sia sia belaka.

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *