santri-santri adalah anakku
Salah satu akhlak dalam islam adalah memulyakan teman-teman orang tua semasa hidup maupun setelah meninggal dunia. Begitu juga berbuat baik pada teman-teman isterinya, anak-anak dan keluarganya sebagai penguat dakwah Islam yang mulia.
Sheikh Wahbah Zuhaili dalam kitab Akhlaqul Islam halaman 107 menyatakan bahwa memulyakan saudara atau kawan dari ayah, ibu, kerabat, isteri, suami atau selain mereka dari ahli kebaikan adalah salah satu ahlak Islam yang diridlai.
Suatu hari, kami perjalanan bersama Abah Masduqi Machfudz, ke Ngawi untuk pengajian. Usai pengajian, abah mengajak mengunjungi sebuah keluarga yang kalau tidak salah di area perumahan PT KAI. Sang pemilik rumah tidak mengenali abah dan tentu juga kami yang ikut abah. Tapi kemudian abah bertanya, apakah anda mertua dari Usman dari Tuban? Pemilik rumah itu kemudian meng-iyakan, Abah kemudian menjelaskan bahwa ia adalah Guru dari Usman di Pesantren Nurul Huda Mergosono Malang. Dan Usman adalah saudara jauh dari Umi Chasinah Masduqi.

kyai memandang dan memperlakukan santrinya seperti anak kandungnya sendiri
Mendengar itu, tuan rumah itu mensyukuri dan bahagia dengan kehadiran Abah, ia tidak menyangka perhatian seorang Kyai pada santrinya, hingga mengunjungi mertua dari sang santri. Abah menjelaskan bahwa kita orang Islam harus merawat silaturahim. Kepada siapa saja termasuk kepada kawan-kawan dari orang yang pernah dekat dengan kita.
Suatu hari Rasulullah menyembelih kambing, ia memotong-motong beberapa bagian untuk kemudian dikirim ke para sahabat Sayidah Khadijah. Perilaku ini membuat para isteri Rasul cemburu. Rasulullah kemudian bersabda, انها كانت ،كانت ،وكان لر منها ولد, ia pernah ada dan tetap ada dan darinya aku memiliki putri.
Inilah Islam menjadikan silaturahim kepada teman-teman dari orang dekat dari orang yang kita cintai sebagai bagian dari akhlak. Dalam dunia bisnis seperti halnya membangun relasi, memperbanyak jaringan dengan memperbanyak kolega. Dalam islam jaringan orang-orang saleh akan membangun ikatan keberislaman yang semakin kuat. Bahkan mengunjungi teman dari orang tua adalah bagian dari birrul walidain. Mengunjungi keluarga santri-santri adalah bentuk cinta Guru pada santri-santri. Abah Masduqi menegaskan pada putra-putrinya: “santri-santri adalah anakku, perlakukan mereka seperti saudaramu sendiri.” Dan Abah Masduqie menunjukkan kecintaannya pada para santrinya dengan mengunjunginya, keluarganya bahkan mertuanya. Bisakah kita meneladani?

infaq untuk pendidikan
0 Comments