Lawanlah Rasa Takutmu, Karena Kau Adalah Orang Hebat

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Selasa, 16 Januari 2024 kemarin adalah hal penting yang terjadi. Pertama: Kawan baik saya mas Muhammad Nur Hidayah (Pranata Humas di Kantor Saya) yang terkenal sangat takut dengan benda tajam, terutama jarum suntik. Dengan kesadaran sendiri berani melawan rasa takutnya dengan melakukan donor darah di PMI menemani saya.

Kedua, mobil kesayangan yang digunakan mas bedjo, santri yang biasanya membantu menyopiri saya kemana-mana, untuk menjemput ibunya anak-anak kemarin, tanpa disangka-sangka dilempar sekelompok anak kecil dengan batu hingga mobilnya pesok.

Kejadian yang pertama memberi pelajaran kepada kita, bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Karena terkadang penghalang besar kita adalah diri kita sendiri. Perasaan dan kekhawatiran yang berlebih membuat kita tidak pernah bisa berbuat apa-apa. Tetapi saat kita mampu melawan penghalang besar dari diri kita, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan untuk pernah kita lakukan, bahkan bisa kita lakukan dengan sempurna bahkan lebih baik dari bayangan kita.

Kejadian kedua memberi kita pelajaran, kadang sekedar kesenangan yang ingin kita rasakan, ternyata juga mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Satu hal yang mungkin kita tidak perhitungkan secara matang, hanya demi kesenangan sesaat kita malah mengancam jiwa seseorang. Kejadian tahun 2018, lemparan batu ke sebuah mobil yang dilakukan anak-anak dan mengenai kaca yang kemudian mengenai sopir dan meninggal di TOL Cikampek-Jakarta.  Itulah kenapa al-Quran nyatakan wala tusrifuu janganlah berlebihan. Ulama menjelaskan cukuplah disebut berlebihan bila seseorang menuruti hawa nafsunya atau menuruti semua yang dia inginkan.

Bagi ASN Kementerian Agama Kota Malang, mungkin kita merasa lelah ketika tiga kali berupaya mendapatkan predikat WBK tetapi belum juga berhasil. Mungkin juga bila belajar kejadian yang pertama, penghalang utama kita mendapatkan predikat itu adalah diri kita sendiri, bukan orang lain atau tim penilai. Kita masih banyak harus melawan hawa nafsu kita, melawan musuh kita yang ada dalam diri kita. Pedulikah kita dengan kawan, pedulikah kita dengan kepentingan institusi, atau kita hanya berada dibawah bayang-bayang rasa takut terhadap integritas yang tidak membuat kaya atau kehawatiran semakin merepotkan.

Mungkin juga kita sekedar ingin hidup bersenang-senang, seperti anak-anak pelempar batu itu, dia merasa bahagia saat lemparannya bisa mengenai kendaraan orang, tanpa berfikir itu bisa mengancam jiwa seseorang. Mungkin kita menerima gratifikasi untuk sekedar memuaskan nafsu maliyah kita, tanpa berfikir bahwa itu juga mengancam orang lain, merusak harkat dan martabat institusi tempat kita mengais rezeki.

Itulah mengapa Islam mengajarkan tidak cukup sekedar ilmu, tetapi ilmu juga butuh bijak. Ilmu yang diwarnai rasa bijak akan membuat kita semua berhitung, berfikir, apakah bekerja seenaknya merugikan orang lain? apakah gratifikasi yang kita terima menguntungkan juga bagi martabat institusi? Ataukah kita sudah merasa nyaman dibawah bayang-bayang rasa takut tidak sejahtera dan repot bekerja? Mari muhasabah bersama. Lawan rasa takutmu, karena kita makhluknya Allah yang Maha Kaya karena kita semua adalah orang hebat yang tak ingin merugikan orang lain. Salam INTEGRITAS. Kobarkan selalu semangat pagi yang penuh gairah.

infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *