Memupuk Nur Rabbany Untuk Mendapat Pemimpin Yang Baik

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Diera kampanye seperti sekarang ini, kita semua dihadapkan pada pilihan-pilihan yang kita tidak bisa membaca hakekat mana yang benar-benar baik bagi masa depan kita.

Masing-masing caleg atau capres dan cawapres mengunggulkan dirinya atau bahkan terkadang merendahkan yang lain. Tidak ada yang mengaku tidak sempurna dan butuh support yang lain.

Tentu ini bukan hal yang mudah, bahkan seorang ulama-pun terkadang terlarut ikut merendahkan yang lain karena ingin mengunggulkan pilihan nya. Dengan berbagai dalil dan argumentasi, seseorang bisa membuat sosok pilihannya adalah yang terbaik tanpa cacat.

Terus bagaimanakah kita harus bersikap sebagai seorang muslim harus bersikap?

Allah dalam al-Quran berpesan

ياأيها الذين آمنوا إن تتقوا الله يجعل لكم فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفر لكم والله ذو الفضل العظيم

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar. (QS. Al-Anfal: 29)

Habib Husein Ibn Alwy Binagil dalam kajian Shofwat Tafasir di Pesantren Nurul Huda Mergosono mengurai pesan Allah ini. Bahwa seseorang yang bertakwa kepada Allah, akan dititipkan pada kalbunya nur robbany, cahaya ketuhanan. Mereka yang memiliki cahaya ini akan memiliki dasar pondasi kebaikan sesungguhnya. Dari pondasi yang tertanam didalam kalbunya itu, dia bisa membedakan kebaikan dan keburukan dengan nurrobbany itu.

Bagaimana merintis nur robbany itu agar muncul dalam kalbu seseorang? Surat Al-Anfal ayat 29 telah mengirim pesan, untuk bertaqwa. Taqwa memiliki dua pondasi kuat yaitu khauf dan raja’. Khauf, Selalu punya rasa hawatir akan adzab Allah dan tidak diterimanya amal dan raja’ selalu berharap Allah memberikan rahmatnya kepada kita. Menerima amal sekecil apapun dan mengampuni dosa sebesar apapun. Dengan dua elemen ini, seseorang akan terus diliputi kewaspadaan dan tidak sembrono dalam bersikap.

Imam Ibn Hajar dalam Isti’dad Li Yaumil Maad menegaskan sebuah riwayat
عن يحى بن معاذ رضي الله عنه: ما عصى الله كريم، ولا أثار الدنيا على الأخرة حكيم
Orang-orang yang mulia dari mereka yang bertaqwa tidak akan bermaksiat dan orang-orang yang bijak tidak akan mendahulukan dunia mengalahkan akhirat.

Tidak akan mencaci maki, caleg atau capres yang mulia, karena ia tahu caci maki adalah bagian dari kemaksiatan pada Allah. Tidak akan berlaku bijak para calon pemimpin yang hanya berorientasi keduniaan.

Dari penegasan Imam Ibn Hajar ini, kita didorong memiliki nur rabbany dengan cara terus berupaya berdzikir memohon kepada Allah pilihan yang baik. Dzikir tidak sekedar membaca wirid, tetapi dzikir haal dilakukan dengan menghindari kemaksiatan dan tetap berorientasi lillah, mencari bekal akhirat. Senantiasa berintegritas karena Allah untuk mendapat pimpinan yang baik.  Selalu Kobarkan semangat pagi untuk Indonesia yang lebih baik

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *