Pembantu istimewa

Published by Pengasuh Dzinnuha on

Dalam kitab Azwaja karangan Syekh Musa Mustofa banyak kisah keteladanan para wanita yang menarik untuk disimak. Beberapa ada yang sudah pernah saya baca di kitab lain, selebihnya baru saya temui di kitab ini. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah kisah di bawah ini.

kesalihan tidak ditentukan oleh warna kulit dan paras wajah

Dikisahkan, khalifah Harun al Rasyid mempunyai banyak pembantu perempuan atau biasa disebut jariyah. Salah satunya seorang perempuan berkulit hitam legam dan kurang sedap dipandang (saya tidak bermaksud untuk ‘body shaming’, memang seperti itu penjelasan yang disampaikan oleh pengarang. teks aslinya: sauda’ qabikhatul mandhar).

Suatu hari, sang khalifah mengumpulkan seluruh pembantunya. Lalu dia menyebarkan uang koin dinar di antara mereka. Sontak para pembantu itu berebut memunguti koin dinar tadi. Kecuali pembantu berkulit hitam, selanjutnya saya sebut dia dengan ‘jariyah sauda’. Dia tetap berdiri di tempatnya sembari menatap wajah tuannya, sang khalifah. Ketika ada yang bertanya kepadanya, kenapa tidak ikut serta memunguti koin dinar yang disebar khalifah Harun seperti teman-temannya? Jariyah sauda’ menjawab “mereka semua memang mengharapkan uang dinar itu, tapi aku lebih memilih mengharapkan (perhatian) si pemilik dinar”. Jawaban itu terdengar oleh sang khalifah, yang kemudian mendekati jariyah sauda’ dan memujinya.
Lalu tersebarlah kabar di seantero negeri, bahwa khalifah Harun al Rasyid jatuh cinta pada pembantunya yang berkulit hitam dan buruk rupa. Kabar itu sampai pula ke telinga para pemuka negeri dan mereka menggunjingkannya.  Mendengar gunjingan tersebut, Sang khalifah lalu berencana mengundang para pemuka negeri untuk datang ke istananya.

Beberapa hari kemudian, datanglah para tokoh pemuka negeri di istana. Mereka dikumpulkan dalam satu ruangan. Lalu sang khalifah memanggil seluruh pembantunya dalam ruangan yang sama. Kemudian sang khalifah meminta pengawalnya untuk membagikan satu mangkok berisi beberapa permata kepada masing-masing pembantu. Setelah semua memegang mangkok, sang khalifah pun memerintahkan para pembantunya untuk melempar atau membanting mangkok masing-masing. Semua yang hadir di ruangan itu terkejut dan heran dengan perintah sang khalifah. Para pembantu pun terdiam dan tak ada yang melaksanakan perintah itu karena mereka tahu permata-permata di dalam mangkok nanti akan pecah berantakan. Kecuali jariyah sauda’. Dengan yakin, dia membanting mangkok yang dipegangnya sehingga permata-permata di dalamnya jatuh dan pecah berantakan. Hadirin kembali terpana.

Sang khalifah berkata pada para tamunya “lihatlah jariyahku ini. Kalian mungkin menganggapnya buruk rupa tapi perilakunya sungguh istimewa”. Para tokoh terdiam, mereka berpikir ‘istimewanya di mana, dia sengaja memecahkan permata-permata milik tuannya”. Sang khalifah seperti mendengar pikiran para tamunya, bertanyalah ia pada jariyah sauda’. “kenapa engkau membanting dan memecahkan permata-permataku?”

“Tuan telah memerintahkanku untuk memecahkan permata. Aku tahu, ketika permata ini pecah, harta tuan menjadi berkurang. tetapi jika aku tidak melaksanakan perintah tuan, maka berkuranglah kewibawaan tuan karena terabaikan perintahnya. Dan menurutku, berkurangnya harta tidak akan menurunkan kehormatan tuan. Dan aku juga tahu, saat aku memilih menuruti perintah tuan, aku akan dianggap gila karena sengaja memecahkan permata milik tuan. Bila aku memilih menolak, maka aku mungkin akan dianggap pembantu yang tidak taat. Maka aku memilih dianggap gila, asal tidak dinilai sebagai pembantu yang tidak taat”
Para tamu kembali terpana dengan jawaban jariyah sauda’. Mereka mengakui kecerdasan dan keistimewaan si jariyah dan akhirnya memaklumi alasan sang khalifah menaruh perhatian lebih pada jariyah sauda’ itu.

Dari kisah ini, bisa kita ambil pelajaran, bahwa tidak boleh kita menilai seseorang dari apa yang kita lihat dari penampilan luar. Bisa jadi, yang kita anggap jelek atau buruk ternyata mempunyai keistimewaan yang melebihi diri kita.
WaLlaahu a’lam.

di sarikan oleh Hj. Raudloh Quds Mustofa

Pengasuh Pesantren Dzinnuha Sawojajar Malang

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *