Mengintip Pesantren sebagai ’Rumah’ yang Aman untuk Bertumbuh bagi Generasi Muda di Masa Sekarang

Published by santri dzinnuha on

indahnya menjadi santri, bersama mengkaji menata hati

Menapaki perkembangan remaja menuju awal dewasa, generasi muda dihadapkan sebuah fase hidup saratnya mencari jati diri. Di usia ini, mereka tidak hanya dipandang untuk bisa berkembang secara intelektual, melainkan juga emosi, sosial, dan spiritual. Semua aspek tersebut perlu untuk ditumbuhkan dengan seimbang guna menjadi bekal mereka dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Namun sayangnya, memandang beberapa fenomena saat ini seperti bunuh diri karena rendah diri, kecurangan dalam ujian, peristiwa tawuran, pembulian, hingga pergaulan bebas seolah menjadi PR yang harus segela diselesaikan. Fenomena-fenomena tersebut perlu di  analisis lebih dalam alih-alih hanya sekedar menjadi berita buruk di tengah masyarakat.

Apabila dianalisis lebih teliti, keadaan tersebut memiliki keterkaitan dengan adanya ketidakseimbangan antara aspek dalam perjalanan pertumbuhan individu terkait. Hal ini dapat berakar dari pendampingan maupun reaksi lingkungan kurang sehat yang mereka dapatkan selama bertumbuh.

Pada kasus rendah diri, bisa jadi bermula dari adanya kelemahan yang disambut dengan stigma dan kesalahan yang sering dihakimi. Kecurangan akademik, dapat berangkat dari kompetisi dalam pendidikan yang mengedepankan hasil dan mengesampingkan makna dari proses. Tawuran, Ekspresi emosi yang tidak terkelola dan diluapkan pada ruang yang tepat. Pembulian, bentuk kebutuhan akan validasi akan diri seseorang untuk merasa lebih dibanding dengan yang lain disertai dengan rasa empati yang rendah. Serta pergaulan bebas sebagai gambaran kekurangmampuan generasi muda dalam meregulasi fitrah yang dimilikinya secara sehat dan sesuai nilai-nilai. Oleh karena itu, diperlukan sebuah ruang yang dapat menjadi tempat aman bagi generasi muda untuk bertumbuh. Ruang yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan aspek intelektual, emosional, sosial serta spiritual secara seimbang.

Ditengah urgensi terkait fenomena yang kompleks tersebut, Pesantren berdiri kokoh sebagai solusi upaya pendampingan pertumbuhan generasi muda dengan seimbang di berbagai aspek. Pesantren bukan hanya institusi pendidikan yang berfokus pada transmisi ilmu keagamaan, melainkan juga tempat ruang dalam mengasah intelektual, emosional, serta sosial sosial.  Selain sebagai sumber telaga dari berbagai macam ilmu, pesantren menyajikan miniatur kecil masyarakat sehingga dapat menjadi tempat untuk mengasah kemampuan emosional dan sosial.

  1. Keberadaan figur teladan sebagai dasar rasa aman dan pertumbuhan yang terarah

Salah satu faktor utama yang menjadikan pesantren sebagai ruang aman bagi santri adalah kehadiran figur panutan yang membersamai. Keberadaan figur teladan yang senantiasa hadir dapat membangun rasa aman. Adanya arahan berupa nasihat dan percontohan melalui perilaku motivasi untuk berubah menjadi lebih baik.

  1. Tata tertib dan pembiasaan sebagai latihan regulasi diri (Self-esteem)

Pesantren juga menerapkan tata tertib yang bertujuan untuk membentuk kemampuan regulasi diri pada setiap santri. Regulasi diri merupakan segala sesuatu yang berkenaan dengan kemampuan individu untuk mengelola perilaku, emosi, dan keputusan secara sadar. Pembiasaan adab,  penerapan aturan, serta mekanisme teguran dalam pesantren merupakan upaya perlindungan dan bentuk kepedulian. Budaya-budaya tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi, melainkan menjaga santri dari pengaruh buruk.

Salah satu ciri khas terkait regulasi diri di pesantren adalah ditimbali atau didukani, yakni pemanggilan santri kepada kyai atau nyai ketika pelanggaran berulang terjadi. Dalam tahap ini, pendekatan yang digunakan bukan sekedar hukuman, melainkan wejangan dan nasihat langsung dari pengasuh. Kondisi seperti ini menghadirkan komunikasi afektif yang kuat. Santri tidak hanya memahami kesalahan, melainkan juga merasakan perhatian dan tanggung jawab.

 

  1. Ruang berekpresi untuk mengasah softskill dan tanggung jawab

Selain sebagai sarana pendidikan, pesantren menyediakan ruang para santri untuk mengembangkan softskill. Contohnya, yakni dengan adanya struktur organisasi atau kepengurusan. Adanya pembagian peran kepada para santri untuk mengemban tugas tertentu, akan meningkatkan self effifacy atau keyakinan seseorang bahwa ia mampu menjalankan tanggung jawab dan memberikan kontribusi kepada lingkungannya. Melalui pengalaman tersebut, para santri akan belajar terkait keberhasilan yang tidak hanya bersifat personal, melainkan amanah dan kebermanfaatan bersama. Tak jarang, setiap peringatan tertentu organisasi pesantren mengadakan kegiatan seperti malam kreativitas yang dapat digunakan sebagai wadah untuk menuangkan kreativitas santri pada tempat yang tepat.

 

  1. Pengajaran Ikhtiar dan Tawakal dalam Pembentukan daya tahan mental (Mental Ressilience)

Selain pendidikan regulasi diri, salah satu penanaman akhlak yang tak kalah penting yakni tawakal. Santri diajarkan untuk melandasi segala sesuatu untuk Allah SWT semata. Pengajaran konsep tawakal juga senantiasa  diiringi dengan konsep ikhtiar. Adapun Ikhtiar atau usaha, merupakan segala sesuatu dilakukan untuk menuju suatu tujuan. Ikhtiar perlu dilakukan secara maksimal sebagai bukti kesungguhan. Setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal, perkara hasil diserahkan kepada Allah SWT. Apapun yang akan di dapatkan, diahami sebagai hasil yang terbaik dari-Nya. Oleh karena itu, pemahaman semacam ini akan melahirkan syukur ketika hasil terkabul sesuai keinginan, dan menghasilkan optimisme berjuang kembali apabila hasil belum sesuai yang diharapkan.

Sehingga berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pesantren merupakan wadah yang sangat relevan sebagai rumah yang yang aman untuk para generasi muda bertumbuh.

oleh
Sholihatul Maulidia,
Santri Dzinnuha, Mahasiswa Universitas Brawijaya

jangan lupa infaq untuk pendidikan

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *