Kesalehan Rakyat Adalah Cermin Kebaikan Pemerintah

Published by santri dzinnuha on

pelayan rakyat yang baik lahir dari rakyat yang shaleh

Akhir-akhir ini kita banyak dihadapkan oleh berbagai macam masalah yang kita semua cenderung menyalahkan para pejabat kita. Mulai dari pemalsuan pertamax, pertalite dan berbagai macam tuduhan kecurangan oleh para pemimpin. Reformasi 1998 tidak menempa bangsa Indonesia menjadi lebih baik tetapi malah memperbanyak oknum-oknum koruptor.

Perdebatan tentang kualitas kepemimpinan seringkali berujung pada kritik terhadap pemerinth. Kita sibuk mencari celah di balik pagar kekuasaan, menuntut integritas dari para pejabat, dan mendesak reformasi dari atas ke bawah. Namun, dalam kacamata Islam, kaidah fundamental tentang kepemimpinan menempatkan tanggung jawab primer perbaikan justru di pundak kita, rakyat yang dipimpin.

Hadis Abu Darda’ yang masyhur menjadi landasan teologis-sosiologis ini. Mari kita renungkan kembali inti sabda Rasulullah ﷺ:

…قُلُوبُ الْمُلُوكِ بِيَدِي، وَإِنَّ الْعِبَادَ إِذَا عَصَوْنِي حَوَّلْتُ قُلُوبَهُمْ عَلَيْهِمْ بِالسَّخْطِ وَالنِّقْمَةِ فَسَامُوهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ، فَلَا تَشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالدُّعَاءِ عَلَى الْمُلُوكِ، وَلَكِنِ اشْغَلُوا أَنْفُسَكُمْ بِالذِّكْرِ وَالتَّضَرُّعِ أَكْفُكُمْ مُلُوكَكُمْ.

“…hati para raja berada di Tangan-Ku. Apabila hamba-hamba-Ku bermaksiat kepada-Ku, Aku akan memalingkan hati mereka (para raja) kepada mereka dengan amarah dan dendam, lalu para raja itu akan menimpakan azab yang buruk. Maka, janganlah kalian menyibukkan diri dengan mendoakan keburukan atas para raja, tetapi sibuklah diri kalian dengan dzikir dan kerendahan hati (tadharru’), niscaya Aku akan mencukupi kalian dari (keburukan) raja-raja kalian.”

Rakyat: Akar Masalah, Kunci Solusi
Pesan sentral dari Hadis ini adalah: Kualitas kepemimpinan adalah konsekuensi langsung dari kualitas ketaatan rakyat.

Allah tidak mengatakan, “Jika raja-raja berbuat zalim, Aku akan membalasnya dengan pemimpin yang adil.” Sebaliknya, Allah menegaskan bahwa maksiat kolektif (Innal ‘Ibada Idza ‘Ashouni – Apabila hamba-hamba-Ku bermaksiat kepada-Ku) adalah pemicu utama dicabutnya rahmat dari hati para penguasa.

Ketika rakyat tenggelam dalam keburukan moral, kecurangan, meninggalkan kewajiban, atau membiarkan kerusakan di tengah-tengah mereka, maka Allah ‘membiaskan’ murka-Nya dengan cara membiarkan pemimpin bertindak sewenang-wenang. Pemimpin zalim lantas berfungsi sebagai hukuman kolektif bagi dosa-dosa rakyat.

Oleh karena itu, urgensi memperbaiki diri pada sisi rakyat adalah tahapan utama dan paling mendasar dalam upaya mewujudkan pemimpin yang bertanggung jawab dan amanah.

Tahapan Kunci: Dari Cermin Buruk Menjadi Wajah Berseri
Perubahan dari atas (pemimpin) hanya akan bersifat sementara tanpa perubahan mendasar dari bawah (rakyat). Proses ini menuntut transformasi spiritual kolektif melalui dua fokus utama:

1. Transformasi Ketaatan dan Kebaikan
Jurnal dan literatur keislaman secara konsisten menunjukkan bahwa integritas pemimpin selalu berkorelasi positif dengan iman dan takwa kolektif rakyat (Islamic Leadership Model an Accountability Perspective, 2010).

Pembaruan Moral Individu: Setiap individu harus memulai perbaikan dari dirinya sendiri, meninggalkan maksiat, menunaikan hak-hak Allah seperti shalat dan kewajiban lainnya juga hak-hak sesama yang berkaitan dengan kejujuran, keadilan sosial.

Penguatan Integritas Sosial: Rakyat harus menjadi agen pengawasan moral, bukan hanya pengawasan politik. Mendorong Amar Ma’ruf Nahi Munkar di tengah masyarakat adalah cara terbaik untuk “memperbaiki” atmosfer yang mengelilingi pemimpin.

2. Mekanisme Spiritual: Dzikir dan Tadharru’ (Kerendahan Hati)
Ini adalah instruksi langsung dari Rasulullah ﷺ:

ولكن اشغلوا أنفسكم بالذكر والتضرع أكفكم ملوككم

“…, tetapi sibuklah diri kalian dengan dzikir dan kerendahan hati (tadharru’), niscaya Aku akan mencukupi kalian dari (keburukan) raja-raja kalian.”

Perintah ini menunjukkan bahwa:

Jalan Keluar Bukanlah Caci Maki: Menyalahkan dan mendoakan keburukan pemimpin hanyalah membuang energi dan menambah keruh suasana.

Jalan Keluar Adalah Koneksi Ilahiah: Solusi hakiki adalah kembali kepada Allah melalui dzikir (mengingat-Nya) dan tadharru’ (berdoa dengan merendahkan diri). Ini adalah ‘tombol reset’ spiritual yang membuat Allah mencabut ‘amarah dan dendam’ dari hati para penguasa dan menggantinya dengan rahmat.

Kesimpulan
Membentuk pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab bukanlah hanya tugas politisi atau pakar tata kelola pemerintahan. Ini adalah tanggung jawab spiritual kolektif kita semua sebagai rakyat sebagaimana pesan Rasul dalam hadits diatas.

Jika rakyat bersungguh-sungguh memperbaiki hubungannya dengan Allah, menunaikan ketaatan, dan mengisi hari-hari dengan dzikir dan doa, maka niscaya Allah sendiri yang akan mengurus urusan kepemimpinan mereka, menjinakkan hati para penguasa untuk berkhidmat, bukan menindas.

Kita tidak akan mendapatkan pemimpin yang saleh, jika kita, rakyatnya, belum bersedia untuk saleh secara kolektif.

Categories: artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *