Kesederhanaan Nabi Muhammad, Cahaya Dakwah Yang Membumi

kesederhanaan seorang guru tauladan
Membaca tautan catatan Pak Nurbani Yusuf yang dishare kang Sofyan J. Anom, saya tergelitik menuliskan ulang hal ini dan menghubungkan dengan beberapa nasehat guru-guru saya tentang pentingnya kemandirian seorang penyeru kebaikan dan kesederhanaan agar umat tidak silau oleh kemewahan dan hanya ghibtoh pada ilmu pengetahuan dan amal.
Nabi Muhammad ﷺ pernah berdoa dengan penuh kerendahan hati:
اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكين
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, serta kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.”
(HR. Ibnu Majah)
Doa ini menunjukkan pilihan luhur Nabi ﷺ untuk hidup dalam kesederhanaan. Beliau tidak memanfaatkan kesempatan untuk menjadi kaya, karena Allah memberikan rezeki harta pada umatnya sesuai dengan kesiapan spiritual seseorang. Nabi adalah sosok penyayang pada umatnya. Beliau tentu tidak tega harta benda akan menjerumuskan umatnya ke jurang kehancuran karena tidak memiliki kesiapan spiritual. Itulah kenapa Nabi Muhammad memilih hidup miskin bukan karena kurangnya harta, tapi agar umat memahami bahwa kemuliaan sejati bukan ditentukan oleh kekayaan materi, melainkan oleh keagungan budi, kedalaman ilmu, dan amal shalih yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar.
Di sinilah terletak pelajaran berharga: kekayaan sejati adalah yang membawa manfaat untuk sesama, bukan hanya untuk dimiliki atau dipamerkan. Kesederhanaan adalah jalan Nabi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan umat, menuntun kita agar meneladani keikhlasan, bukan kemewahan yang bisa menimbulkan jarak dan kesombongan. Dalam sebuah kesempatan, Abah Masduqi Machfudz pernah melantunkan kisah sederhana tentang Mbah Yai Jauhari Kencong Jember. Sosok agung yang rela mempertahankan kesederhanaan rumahnya, menolak renovasi dan peralatan mewah, takut jika kemewahan itu menjauhkan masyarakat dari pintu rumahnya. Di sanalah letak hikmah: kesederhanaan bukan sekadar sikap, melainkan jembatan hati menuju umat yang tulus berdakwah, tempat di mana manusia bisa datang tanpa rasa sungkan, tanpa rasa takut akan jarak dan sekat material.
Di tengah gemerlap dunia yang sering kali menyapa dengan kilau palsu, hadir para ulama yang mengunduh tauladan Nabi, seperti Gus Mus, Gus Baha’, Pak Syafii Maarif Allahu Yarhamuh dan para kyai lain yang bahkan memilih “tersembunyi” menjadi lentera yang menuntun di malam gelap hedonisme dan pragmatisme yang mengikis jiwa. Mereka bukan hanya simbol ulama, mereka adalah cermin adab. Sebagaimana Sayyidah Aisyah ra mengabarkan, Nabi Muhammad saw bukanlah sosok yang menuntut kemewahan, melainkan seorang yang membantu pekerjaan rumah, menjahit, dan menambal sandal keluarganya. Di sanalah kilauan keteladanan yang sejati — sunah yang kini seperti bayang samar yang perlahan menghilang.
Jarak kita dengan Nabi bukan hanya soal fisik, tapi juga soal hati. Betapa banyak diantara kita yang menggenggam sunnah hanya di bibir, sementara hakikatnya menguap bersama hembusan angin dunia. Suatu ketika, seorang teman berujar, “Sibukkan mulutmu dengan camilan, agar tak mudah tergoda ghibah.” Sederhana, namun penuh makna. Karena tidaklah cukup sekadar memakai pakaian sederhana atau tampak alim — itu semua bukan jaminan kebaikan batin. Kesahajaan bukan soal harta, melainkan cara beribadah yang tulus tanpa berlebihan, menjaga diri dari yang makruh sebagaimana Nabi saw menolak berlebihan dalam ibadah.
Kekayaan bukanlah musuh, bahkan bisa menjadi bekal perjuangan jika dikelola dengan hati. Namun, ketika perut kenyang di tengah tetangga yang lapar, iman dapat tercabut perlahan seperti daun yang gugur di musim kemarau. Abdurrahman bin Auf menangis, mengenang sahabat tanpa kafan yang meninggal dalam kesederhanaan, mengingat keluarganya Rasulullah yang sering tak makan kenyang selama berturut-turut. Tangisan itu bukan hanya untuk kesedihan, tapi peringatan agar kekayaan tak mengikis pahala amal shalih.
Lalu, tidak bolehkah ulama kaya? Habib Muhammad Ibn Idrus al-Haddad dihadapan saya pernah menasehati saya: “Bekerjalah sekeras-kerasnya, kumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum kamu dakwah. Gunakan untuk keluargamu secukupnya, sisanya untuk perjuangan Islam. Bila kau kaya, kau tidak lagi butuh sangu dari orang yang ngaji dan mendapatkan ilmu darimu.” Pak Nurbani Yusuf dalam catatannya mengutip dawuh Kyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah “Kaya bukan dosa, tapi pamer adalah pengkhianatan. Karena kau adalah taudan ummat. Kekayaan menjadi titipan suci, yang harus dibelanjakan untuk menyantuni umat dan membangun ukhuwah, bukan pamer gaya hidup.” Abah Masduqi pernah menasehati saya: “muballigh kui dudu profesi, mulang ngaji dudu profesi, kui amanate ilmu sing mbok sinaoni” (muballigh bukanlah profesi, mengajar adalah amanat ilmu yang kau pelajari).
Gus Bisri Adib Khattani juga pernah mengingatkan saya; “mas, Bisyaroh itu bisane ora eroh, dadi ojo ditarip” (mas, jangan pasang tarip dalam berdakwah). Bahkan saat salam tempel (sangu ngaji) kita dapatkan, Habib Shalih Ibn Ahmad Ibn Salim Alaydrus menasehatkan “ojo kesusu ngguya ngguyu nek oleh salam tempel, arep2 sangu mu ngilangi barokahe ngajimu” (jangan tergesa senyum bila mendapat amplop pengajian, bila kau berharap mendapatkannya, hal itu akan menghilangkan barokah pengajianmu)
Gus Mus pernah bercerita bahwa Kyai Abdullah Salam adalah sosok yang tidak pernah menerima shadaqah, bahkan sepulang ngaji sekalipun. Suatu hari panitia bersiasat menyampaikan kepada Yai agar mau menerima amplop pengajian dengan menyatakan bahwa ini untuk membayar dokar. Kyai menerima dan ternyata semuanya diberikan kepada kusir dokar. Sang kusir berkata, “kyai ini terlalu banyak untuk membayar dokar” Kyai Abdullah Salam berkata: “itu adalah amanat panitia pengajian!”
Cerita Gus Bisri Adib Khattani, nasehat Habib Shalih dan Habib Muhammad, serta kisah Abah Mus dan Abah Masduqi merangkai pesan abadi: menjaga hati adalah kunci, jangan terburu-buru, jangan tergoda oleh dunia yang fana. Karena di sana, berkah ilmu dan dakwah terjaga. Sebuah bisyarah penuh makna bukan untuk pamrih, tapi untuk amanah yang diemban dengan teguh.
Inilah orkestra keindahan dakwah yang sesungguhnya: kesederhanaan yang menenangkan, kekayaan yang menyantuni, dan keikhlasan yang menuntun. Di tengah gemerlap dunia yang fana, marilah kita berdakwah dengan hati, bukan dengan gemerlap harta. Karena dakwah yang hidup adalah yang menyentuh hati dan membangun umat, bukan yang memamerkan kemewahan dunia yang fana.
Semoga catatan ini mengalir bagai sungai penuh hikmah, mengalir ke setiap sudut hati pembaca, dan menjadi pengingat bahwa dakwah adalah seni yang indah, yang lahir dari kesederhanaan dan keikhlasan tanpa pamrih.

infaq untuk pendidikan
0 Comments