Saat Quran Hanya Dibaca dan Didengar Saja

Mbah Moen, Sosok Tauladan Bagi Ummat
Tergelitik menulis untuk mengingatkan diri sendiri dan para santri saat mendengar potongan video dari dawuh Allah Yarhamuh Mbah Yai Maimoen Zubair via reel. Kebetulan di bulan Dzulhijjah inilah Mbah Moen kapundut saat jelang menunaikan haji. Siapa tahu tulisan ini melecut kita untuk bermuhasabah dan kembali pada aturan yang digariskan Rasulullah.
Dawuh atau nasihat KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) senantiasa menaungi kita dengan hikmah mendalam. Salah satu dawuh beliau yang patut direnungkan dengan saksama adalah mengenai tanda-tanda kiamat yang akan tiba ketika Al-Qur’an telah “habis”. Bukan habis secara fisik, melainkan habis maknanya dalam kehidupan umat manusia.
Mbah Moen menekankan bahwa Al-Qur’an seharusnya menjadi imam (pemimpin) dan panutan dalam setiap sendi kehidupan. Hal ini selaras dengan lafaz ikrar yang sering kita ucapkan: “Radlitu billahi rabba wa bil islami dina wa bi muhammadin nabiyya wa bil qur’ani imama” yang berarti “Aku rida Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, Muhammad sebagai Nabiku, dan Al-Qur’an sebagai imamku (pemimpinku)”.
Namun, Mbah Moen dengan prihatin melihat perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Ikrar yang seharusnya menegaskan Al-Qur’an sebagai imam, kini banyak yang diubah menjadi “wa bil qur’ani qiraatan wa sama’a” – “dan Al-Qur’an sebagai bacaan dan pendengaran”.
Perubahan ini, sekilas terlihat sepele, namun memiliki dampak yang sangat besar. Ketika Al-Qur’an hanya diposisikan sebagai sekadar bacaan atau pendengaran, tanpa diresapi, diamalkan, dan dijadikan pedoman hidup, maka esensinya sebagai panduan utama umat Islam akan luntur.
Padahal, sunnatullah (ketetapan Allah) tidak pernah berubah. Hukum-hukum alam dan syariat yang Allah tetapkan akan tetap berlaku. Yang berubah adalah manusia itu sendiri. Manusia yang menjauhkan diri dari nilai-nilai luhur Al-Qur’an, manusia yang hanya mengambil manfaat superficial dari ayat-ayat-Nya, dan manusia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pajangan semata.
Dawuh Mbah Moen ini adalah sebuah peringatan keras bagi kita semua. Kiamat, dalam perspektif ini, bukanlah semata-mata kehancuran fisik, melainkan juga kehancuran nilai-nilai dan moralitas umat. Ketika Al-Qur’an tidak lagi menjadi imam, tidak lagi menjadi cahaya yang membimbing langkah, maka kegelapanlah yang akan merajalela.
Mari kita kembali merenungkan posisi Al-Qur’an dalam hidup kita. Mengkaji isi dan mengamalkannya. Kemudian memonitoring ke dalam diri, Apakah ia benar-benar menjadi imam yang kita ikuti, ataukah hanya sekadar bacaan yang indah didengar namun kosong dari implementasi? Hanya dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup seutuhnya, kita dapat menjaga diri dan umat dari kehancuran yang diperingatkan oleh Mbah Moen.

infaq untuk pendidikan
0 Comments