Qishah Gaya Belajar ala Santri: Merekam Ibrah melalui Jejak Kisah

belajar dari kisah yang disampaikan oleh kyai
Oleh Sholihatul Maulidia,
Santri Dzinnuha, Mahasiswa Universitas Brawijaya
Pesantren dan Santri, merupakan dua elemen yang tak lekang oleh perubahan. Perkembangan teknologi dan arus modernisasi tidak menghambat pertumbuhan pesantren. Sebaliknya, ia justru menjadi sarana yang menunjukkan bagaimana relevansi dan adaptasi kedua elemen ini dengan perkembangan zaman.
Banyak sekali hal unik yang bisa ditemukan dalam di dunia pesantren, salah satunya yakni pada system pembelajarannya melalui penyampaian Qishah. Transfer ilmu yang disampaikan melalui qishah ini bukanlah sekedar selingan cerita yang disampaikan dalam majlis. Melainkan, ia hadir sebagai jembatan penghubung antara teks dan konteks materi dan realitas yang ada di dalam kehidupan.
Pada umumnya, Qishah disampaikan oleh para Kyai diambil dari potongan Sejarah, pengalaman para ulama, maupun kisah teladan keimanan. Adapun penjelasan seputar pendekatan ini telah disampaikan dalam firman Allah SWT sebagai berikut:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الْأَلْبَابِ ۗ
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Yusuf: 111)
Ayat ini menegaskan bahwasanya Qishah bukanlah cerita masa lalu belaka, melainkan sarana penting untuk mengambil Pelajaran hidup. Dalam hadits pun, Rasulullah ﷺ sering menyampaikan kisah umat terdahulu sebagai bahan pengajaran misalnya Ketika Rasul menceritakan kisah para nabi sebelumnya maupun peristiwa Turunnya Rahmat Allah kepada pelacur yang memberikan makan anjing. Apabila diamati lebih lanjut, Banyak diantaranya hal yang dimuat dalam Al-Qur’an berupa Qishah. Muhammad Aiz Luthfi dalam NU Online Id mengutip dari Kitab Mabahits fi Ulumil Qur’an (Syekh Manna’ Al-Qathan) menjabarkan beberapa hikmah dimuatnya Kisah-kisah dalam Al-Qur’an diantaranya yakni 1) Menjelaskan Asas Dakwah, 2) Meneguhkan hati Rasulullah dan umatnya 3) Membenarkan para nabi 4) Membenarkan Rasulullah 5) Membantah Ahli Kitab dan 6) Bagian dari Peradaban.
Metode penyampaian materi melalui Qishah pada pesantren ini selain kuat dari perspektif Qur’ani juga relevan dengan beberapa sudut pandang sains modern seperti:
1) Qishah sebagai Struktur Kognitif pada Perspektif Ilmu Kognitif
Jerome Bruner seorang psikolog pendidikan melalui bukunya yang berjudul The Narrative Construction of Reality, mengemukakan bahwasanya cerita atau narasi merupakan cara paling efektif untuk menyerap dan menyimpan informasi. Jerome menjelaskan lebih lanjut, manusia memiliki dua cara utama untuk memahami dunia: 1) Paradigmatic mode (berbasis logika dan argumentasi) dan 2) narrative mode (berbasis cerita). Diantara keduanya, mode naratif lebih alami dan lebih awal berkembang secara evolusioner dalam diri manusia. Pada mekanismenya, cerita melibatkan banyak area otak sekaligus tidak hanya bagian memori, namun juga pusat emosi (amigdala), visualisasi (koreteks visual), dan empati (korteks prefrontal medial). Oleh karena itu, ceritamudah diingat dan sering kali melekat lebih lama disbanding data yang disampaikan secara abstrak
2) Qishah sebagai Transmisi Budaya dan Identitas pada Perspektif Sosiologi Pendidikan
Pada
Pendidikan merupakan alat utama dalam mentransmisikan nilai, norma, dan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Cerita berfungsi sebagai narasi kolektif yang menghubungkan para santri dengan para pendahulu mereka, sehingga menciptakan ikatan atau perasaan sebagai salah satu golongan dengan tokoh yang diceritakan dalam Qishah. Transfer ini akan mewariskan nilai-nilai seperti cara berpikir dan identitas kultural.
3) Qishah sebagai perantara untuk Menumbuhkan Empati dan Nilai
Pada perkembangan moral manusia, Lawrence Kohlberg melalui teorinya menunjukkan bahwa moralitas berkembang melalui pemahaman nilai dan dilema etis tidak berhenti pada aturan dan kepatuhan yang berarti sesorang tidak merta menjadi baik karena diberikan aturan maupun larangan, namun karena ia benar-benar memahami makna dari tindakan yang ia pilih.
Melalui paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyampaian materi dalam bentuk qishah bukanlah metode yang klaasik belaka, melainkan memiliki dasar yang kokoh baik dalam Al-Qur’an maupun dalam kajian ilmu kontemporer. Al-Qur’an sendiri menempatkan kisah sebagai sarana penguatan hati, pelajaran, dan peringatan (QS. Hud: 120), menunjukkan bahwa cerita merupakan media strategis dalam pembentukan karakter dan pemahaman nilai.
Menghidupkan qishah dalam proses belajar bukan sekadar mempertahankan tradisi, tapi juga melanjutkan metode pendidikan yang telah terbukti efektif baik menurut perspektif Qur’ani maupun Sains modern. Di tengah arus zaman yang cepat, pendekatan ini menjadi bekal penting untuk membentuk santri yang tak hanya cerdas pikirannya, tapi juga tajam nuraninya.

infaq untuk pendidikan
DAFTAR PUSTAKA
Bruner, J. (1986). Actual Minds, Possible Worlds.
Kohlberg, L. (1981). Essays on Moral Development, Volume I: The Philosophy of Moral Development.
Luthfi, M. A. (2023, September 4). Mengapa Banyak Kisah Dalam Al-Qur’an? Ini Jawabannya. NU Online. https://islam.nu.or.id/syariah/mengapa-banyak-kisah-dalam-al-quran-ini-jawabannya-Xz5wc
0 Comments