Ke Barat ataukah Ke Timur, Dunia atau Akhirat

Published by Pengasuh Dzinnuha on

dunia dan akhirat, timur dan barat

Ah, dunia… sebuah panggung sandiwara yang megah, tempat kita menari di atas tali keseimbangan yang rapuh. Begitulah kiranya Sang Pencipta menata lakon ini, membagi dua sisi kehidupan dengan garis tegas namun seringkali kabur dalam pandangan kita yang terbius gemerlap fana. Dunia dan akhirat, dua kutub yang berseberangan, seperti timur dan barat yang tak mungkin dipeluk bersamaan dalam satu langkah.

Begitulah sabda baginda Nabi, yang diturunkan melalui lisan Abdullah bin Umar, menyentil kesadaran kita:

(لا يصيب عبد من الدنيا شيئاً إلا نقص من درجاته عند الله، وإن كان عليه كريمة)

“Tidaklah seorang hamba mendapatkan sesuatu dari dunia, melainkan akan mengurangi derajatnya di sisi Allah, meskipun hal itu dianggap mulia baginya.”

Sebuah peringatan yang menggema, bukan untuk menafikan keindahan dunia, namun untuk menundukkan nafsu yang seringkali khilaf dalam memilih prioritas. Bahkan kemuliaan duniawi pun, jika merasuki kalbu hingga melupakan tujuan sejati, bisa menjadi kerikil tajam di jalan menuju keabadian.

Namun, janganlah kita lantas menanggalkan jubah dunia, bersembunyi dalam gua-gua sunyi, dan melupakan riuhnya kehidupan. Sebab, seorang bijak bestari bernama Imam Ghazali pernah berujar:

الدنيا مزرعة الآخرة ؤكل ما خلق فى الدنيا فيمكن أن يتزود منه للآخرة.

Dunia adalah ladang akhirat. Maka setiap yang diciptakan Allah di dunia, bisa untuk dijadikan bekal menuju akhirat.”

Maka, di sinilah letak kejelian kita sebagai nahkoda dalam mengarungi samudra kehidupan. Kita tak bisa menolak ombak dunia, namun kita bisa belajar berlayar dengan kompas akhirat sebagai penunjuk arah. Kita boleh menikmati hidangan duniawi, namun jangan sampai kekenyangan hingga melupakan lapar dahaga di keabadian. Kita boleh membangun istana dunia, namun jangan sampai hati kita terkunci di dalamnya, hingga lupa membangun gubuk sederhana di surga.

Sebab, barangsiapa yang terpukau oleh gemerlap panggung dunia hingga lupa akan tirai yang akan segera menutup, ia akan mendapati dirinya telanjang dan hampa di hadapan keadilan Sang Sutradara. Ibarat pejalan kaki yang terpesona oleh fatamorgana di padang pasir, ia akan semakin menjauh dari oase yang sebenarnya.

Jadi, mari kita jalani lakon ini dengan penuh kesadaran. Dunia adalah tempat kita bertebaran, mencari nafkah, membangun peradaban, namun semua itu hendaknya dilandasi niat untuk meraih ridha-Nya. Setiap senyum yang kita ukir, setiap tangan yang kita ulurkan, setiap ilmu yang kita bagikan, jadikanlah itu sebagai benih kebaikan yang akan tumbuh subur di ladang akhirat. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi penonton yang terbius oleh gemerlap dunia, namun juga aktor utama yang cerdas, yang mampu menyeimbangkan langkah antara dunia yang fana dan akhirat yang baka. Inilah seni hidup yang sesungguhnya, bukan?

infaq untuk pendidikan


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *