{"id":682,"date":"2025-07-27T00:04:31","date_gmt":"2025-07-27T00:04:31","guid":{"rendered":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682"},"modified":"2025-07-27T00:04:31","modified_gmt":"2025-07-27T00:04:31","slug":"poligami-dalam-syariat-nabi-muhammad-%ef%b7%ba-tidak-mutlak-sunnah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682","title":{"rendered":"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah."},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_686\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-686\" src=\"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM-300x200.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" class=\"size-medium wp-image-686\" srcset=\"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM-300x200.png 300w, https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM-360x240.png 360w, https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM.png 500w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><p id=\"caption-attachment-686\" class=\"wp-caption-text\">poligami bukan kesunnahan<\/p><\/div>\n<p data-start=\"222\" data-end=\"640\">Disarikan dari Kajian Kitab Budurussaadah bersama para penghulu<\/p>\n<p data-start=\"222\" data-end=\"640\">Poligami dalam Islam sering menjadi bahan perbincangan, baik dari sisi hukum maupun etika. Dalam syariat Nabi Muhammad \ufdfa, poligami merupakan bagian dari hukum yang diperbolehkan, tetapi tidak serta merta menjadi anjuran mutlak atau sunnah yang berlaku bagi semua orang. Mbah Yai Maimoen Zubair pernah menegaskan bahwa siapapun yang menganggap poligami sunnah, maka ia dalam kebodohan. Bila yang jadi standar adalah perilaku Rasulullah, sesungguhnya Rasulullah tidak menikah kecuali diperintahkan Allah, berbeda jauh dengan kita ummatnya.<\/p>\n<p data-start=\"222\" data-end=\"640\">Sebagaimana hukum pernikahan secara umum, hukum poligami sangat bergantung pada <strong data-start=\"572\" data-end=\"614\">niat, kondisi, dan kemampuan seseorang<\/strong>, baik lahir maupun batin. Hal ini tentu berbeda dengan pemahaman beberapa kelompok yang mempromosikan poligami seolah-olah sunnah mutlak dan otomatis yang dipoligami masuk surga. Ini tentu pemahaman yang dangkal.<\/p>\n<p data-start=\"642\" data-end=\"1246\">Syariat yang ditetapkan Allah pada satu kaum selalu disesuaikan kondisi yang terjadi dalam kaum itu. Syekh Izzuddin Ibn Abdus Salam dalam salah satu keterangannya sebagaimana dinukil dalam Kitab Budurussaadah hal 35 menyebutkan bahwa syariat Nabi Musa \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 cenderung berpihak kepada kepentingan kaum laki-laki. Ketika Fir\u2019aun banyak menyembelih anak-anak laki-laki dan melemahkan kaum pria, maka tepatlah (dalam konteks itu) jika Nabi Musa \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 datang dengan misi merawat (kaumnya) berdasarkan standar yang berbeda dengan kondisi kaum tersebut. Nabi Musa memperboleh seorang lelaki menikah dengan banyak perempuan tanpa batas.<\/p>\n<p data-start=\"642\" data-end=\"1246\">Sedangkan syariat Nabi Isa \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 berpihak kepada perlindungan hak-hak perempuan, hingga membatasi hanya satu istri untuk satu laki-laki. Nabi Isa \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 tidak memiliki ayah dari kalangan laki-laki, dan asal-usul (nasab) beliau bersumber dari seorang perempuan, maka wajar dan sesuai jika beliau memperhatikan jenis asalnya (perempuan), dan beliau pun membawa perhatian besar terhadap kaum perempuan.&#8221;<\/p>\n<p data-start=\"642\" data-end=\"1246\">Syariat Nabi Muhammad \ufdfa hadir sebagai penengah yang adil, mengakomodasi kemaslahatan lelaki dan perempuan. Syariat Nabi Muhammad tidak melarang\u00a0 pihak dengan membatasi poligami pada jumlah tertentu serta meletakkan syarat yang ketat atas prinsip <strong data-start=\"1233\" data-end=\"1245\">keadilan<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"1248\" data-end=\"1266\">Allah \ufdfb berfirman:<\/p>\n<blockquote data-start=\"1268\" data-end=\"1365\">\n<p data-start=\"1270\" data-end=\"1365\"><em data-start=\"1270\" data-end=\"1343\">\u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u062e\u0650\u0641\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064e\u0644\u0651\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0639\u0652\u062f\u0650\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0641\u064e\u0648\u064e\u0627\u062d\u0650\u062f\u064e\u0629<br \/>\n&#8220;Jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) satu saja.&#8221;<\/em> (QS. An-Nisa\u2019 [4]: 3)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"1367\" data-end=\"1623\">Ayat ini menunjukkan bahwa syariat Islam mengizinkan poligami dengan batas maksimal empat istri, namun syarat utamanya adalah kemampuan berlaku adil. Tanpa keadilan, poligami bisa menjadi sumber kezaliman dan penderitaan, terutama bagi istri dan anak-anak.<\/p>\n<h3 data-start=\"1625\" data-end=\"1670\"><strong data-start=\"1629\" data-end=\"1670\">Hukum Poligami: Relatif, Tidak Mutlak<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"1672\" data-end=\"1748\">Dalam konteks fiqh, hukum poligami <strong data-start=\"1707\" data-end=\"1730\">tidak selalu sunnah <\/strong>bahkan cenderung menganjurkan tidak menikah lebih dari satu bila tidak ada\u00a0 kebutuhan yang nyata.\u00a0 Adil adalah syarat berpoligami tetapi Allah menegaskan:<\/p>\n<blockquote data-start=\"2473\" data-end=\"2549\">\n<p data-start=\"2475\" data-end=\"2549\"><em data-start=\"2475\" data-end=\"2533\">&#8220;<span>\u0648\u064e\u0644\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u0637\u0650\u064a\u0652\u0639\u064f\u0648\u0652\u0653\u0627 \u0627\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0639\u0652\u062f\u0650\u0644\u064f\u0648\u0652\u0627 \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u0650\u0633\u064e\u0627\u06e4\u0621\u0650 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0648\u0652 \u062d\u064e\u0631\u064e\u0635\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652\u00a0<\/span><br \/>\n<span>Kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(-mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"2551\" data-end=\"2765\">seharusnya hal ini menjadi isyarat bahwa poligami\u00a0 tidak otomatis berhukum sunnah. Poligami berdasar kondisi masing-masing, hukumnya dibagi menjadi:<\/p>\n<ul data-start=\"1750\" data-end=\"2549\">\n<li data-start=\"1750\" data-end=\"2020\">\n<p data-start=\"1752\" data-end=\"2020\"><strong data-start=\"1752\" data-end=\"1775\">Mandub (dianjurkan)<\/strong>, jika seorang laki-laki membutuhkan istri kedua karena alasan syar\u2019i seperti istri pertama yang sakit, tidak bisa memberikan keturunan, atau tidak mampu memenuhi kebutuhan biologis suami. Tentu dengan syarat sang suami yakin dapat berlaku adil.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2021\" data-end=\"2133\">\n<p data-start=\"2023\" data-end=\"2133\"><strong data-start=\"2023\" data-end=\"2040\">Mubah (boleh)<\/strong>, jika dilakukan tanpa ada faktor kebutuhan mendesak, tetapi tidak juga disertai kemudaratan.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2134\" data-end=\"2290\">\n<p data-start=\"2136\" data-end=\"2290\"><strong data-start=\"2136\" data-end=\"2162\">Makruh (tidak disukai)<\/strong>, jika dilakukan hanya karena dorongan hawa nafsu semata, tanpa pertimbangan maslahat, dan berpotensi menimbulkan ketidakadilan.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2291\" data-end=\"2549\">\n<p data-start=\"2293\" data-end=\"2470\"><strong data-start=\"2293\" data-end=\"2302\">Haram<\/strong>, jika suami yakin atau sangat kuat dugaan bahwa ia tidak bisa berlaku adil secara lahir dan batin, baik karena faktor ekonomi, kejiwaan, atau moral. Nabi \ufdfa bersabda:<\/p>\n<blockquote data-start=\"2473\" data-end=\"2549\">\n<p data-start=\"2475\" data-end=\"2549\"><em data-start=\"2475\" data-end=\"2533\">&#8220;Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain.&#8221;<\/em> (HR. Ibn Majah)<\/p>\n<\/blockquote>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"2551\" data-end=\"2765\">Dalam kaidah usul fiqh, <em data-start=\"2575\" data-end=\"2609\">\u0627\u0644\u062d\u0643\u0645 \u064a\u062f\u0648\u0631 \u0645\u0639 \u0639\u0644\u062a\u0647 \u0648\u062c\u0648\u062f\u064b\u0627 \u0648\u0639\u062f\u0645\u064b\u0627<\/em> \u2014 \u201chukum itu berputar mengikuti illat (alasan atau penyebab), ada dan tiadanya.\u201d Maka poligami bisa bergeser hukumnya sesuai kondisi dan motif di baliknya.<\/p>\n<h3 data-start=\"2767\" data-end=\"2806\"><strong data-start=\"2771\" data-end=\"2806\">Niat dan Kemampuan: Titik Utama<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"2808\" data-end=\"2929\">Seorang laki-laki tidak boleh memaksakan diri berpoligami hanya karena merasa ini adalah kenikmatan yang disunnahkan tanpa mengukur kemampuannya dalam:<\/p>\n<ol data-start=\"2931\" data-end=\"3232\">\n<li data-start=\"2931\" data-end=\"3033\">\n<p data-start=\"2934\" data-end=\"3033\"><strong data-start=\"2934\" data-end=\"2956\">Keadilan finansial<\/strong> \u2013 sanggup menafkahi lebih dari satu istri dan anak-anak mereka dengan layak.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"3034\" data-end=\"3146\">\n<p data-start=\"3037\" data-end=\"3146\"><strong data-start=\"3037\" data-end=\"3073\">Keadilan emosional dan perhatian<\/strong> \u2013 tidak menunjukkan perlakuan berat sebelah yang melukai perasaan istri.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"3147\" data-end=\"3232\">\n<p data-start=\"3150\" data-end=\"3232\"><strong data-start=\"3150\" data-end=\"3174\">Kematangan spiritual<\/strong> \u2013 menyadari bahwa poligami bukan soal kuasa, tapi amanah.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p data-start=\"3234\" data-end=\"3529\">Ibnu Qudamah menyebutkan, jika seorang suami merasa ragu dapat berlaku adil atau khawatir terhadap kedzaliman dalam rumah tangganya, maka poligami bisa jatuh kepada hukum yang terlarang. Prinsip kehati-hatian inilah yang ditekankan oleh para ulama untuk menjaga kemaslahatan keluarga dan sosial.<\/p>\n<h3 data-start=\"3531\" data-end=\"3546\"><strong data-start=\"3535\" data-end=\"3546\">Penutup<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"3548\" data-end=\"3902\">Poligami dalam Islam bukanlah sarana pelampiasan hawa nafsu, melainkan bagian dari solusi atas problematika hidup tertentu yang <strong data-start=\"3676\" data-end=\"3735\">membutuhkan kebijaksanaan, tanggung jawab, dan keadilan<\/strong>. Ia bukan sunnah mutlak yang harus dikejar, tetapi <strong data-start=\"3787\" data-end=\"3824\">hukum yang lentur dan kontekstual<\/strong>, seperti halnya pernikahan: bisa menjadi wajib, sunnah, makruh, bahkan haram.<\/p>\n<p data-start=\"3904\" data-end=\"3929\">Sebagaimana sabda Nabi \ufdfa:<\/p>\n<blockquote data-start=\"3931\" data-end=\"4018\">\n<p data-start=\"3933\" data-end=\"4018\"><em data-start=\"3933\" data-end=\"4003\">&#8220;Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.&#8221;<\/em> (HR. Tirmidzi)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"4020\" data-end=\"4260\">Maka, siapa pun yang ingin melangkah pada poligami hendaknya menyucikan niat, mengukur diri, dan menimbang maslahat, agar tidak membawa mudarat dalam kehidupan berumah tangga yang sejatinya adalah jalan menuju ketenteraman dan rahmat Allah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Disarikan dari Kajian Kitab Budurussaadah bersama para penghulu Poligami dalam Islam sering menjadi bahan perbincangan, baik dari sisi hukum maupun etika. Dalam syariat Nabi Muhammad \ufdfa, poligami merupakan bagian dari hukum yang diperbolehkan, tetapi tidak serta merta menjadi anjuran mutlak atau sunnah yang berlaku bagi semua orang. Mbah Yai Maimoen [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-682","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kajian"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah. - Pondok Pesantren Dzinnuha Malang<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah. - Pondok Pesantren Dzinnuha Malang\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Disarikan dari Kajian Kitab Budurussaadah bersama para penghulu Poligami dalam Islam sering menjadi bahan perbincangan, baik dari sisi hukum maupun etika. Dalam syariat Nabi Muhammad \ufdfa, poligami merupakan bagian dari hukum yang diperbolehkan, tetapi tidak serta merta menjadi anjuran mutlak atau sunnah yang berlaku bagi semua orang. Mbah Yai Maimoen [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Pondok Pesantren Dzinnuha Malang\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-27T00:04:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Pengasuh Dzinnuha\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Pengasuh Dzinnuha\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682\"},\"author\":{\"name\":\"Pengasuh Dzinnuha\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/dfd2d0d6790fb8efbc8fa267899dcc55\"},\"headline\":\"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah.\",\"datePublished\":\"2025-07-27T00:04:31+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682\"},\"wordCount\":757,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM-300x200.png\",\"articleSection\":[\"kajian\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682\",\"name\":\"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah. - Pondok Pesantren Dzinnuha Malang\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM-300x200.png\",\"datePublished\":\"2025-07-27T00:04:31+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM.png\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"poligami bukan kesunnahan\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?p=682#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/\",\"name\":\"Pondok Pesantren Dzinnuha Malang\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#organization\",\"name\":\"Pondok Pesantren Dzinnuha Malang\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/Screenshot_1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/Screenshot_1.jpg\",\"width\":682,\"height\":595,\"caption\":\"Pondok Pesantren Dzinnuha Malang\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/dfd2d0d6790fb8efbc8fa267899dcc55\",\"name\":\"Pengasuh Dzinnuha\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ff90c4c8ac04fc370eb03e7db7f98beaa8a82cbb334ccf1e4b2676f5e7308f00?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ff90c4c8ac04fc370eb03e7db7f98beaa8a82cbb334ccf1e4b2676f5e7308f00?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ff90c4c8ac04fc370eb03e7db7f98beaa8a82cbb334ccf1e4b2676f5e7308f00?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Pengasuh Dzinnuha\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/dzinnuha.pesantren.web.id\\\/?author=2\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah. - Pondok Pesantren Dzinnuha Malang","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah. - Pondok Pesantren Dzinnuha Malang","og_description":"Disarikan dari Kajian Kitab Budurussaadah bersama para penghulu Poligami dalam Islam sering menjadi bahan perbincangan, baik dari sisi hukum maupun etika. Dalam syariat Nabi Muhammad \ufdfa, poligami merupakan bagian dari hukum yang diperbolehkan, tetapi tidak serta merta menjadi anjuran mutlak atau sunnah yang berlaku bagi semua orang. Mbah Yai Maimoen [&hellip;]","og_url":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682","og_site_name":"Pondok Pesantren Dzinnuha Malang","article_published_time":"2025-07-27T00:04:31+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM.png","type":"image\/png"}],"author":"Pengasuh Dzinnuha","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Pengasuh Dzinnuha","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682"},"author":{"name":"Pengasuh Dzinnuha","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#\/schema\/person\/dfd2d0d6790fb8efbc8fa267899dcc55"},"headline":"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah.","datePublished":"2025-07-27T00:04:31+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682"},"wordCount":757,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM-300x200.png","articleSection":["kajian"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682","url":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682","name":"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah. - Pondok Pesantren Dzinnuha Malang","isPartOf":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM-300x200.png","datePublished":"2025-07-27T00:04:31+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682#primaryimage","url":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM.png","contentUrl":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/ChatGPT-Image-Jul-27-2025-07_07_07-AM.png","width":500,"height":333,"caption":"poligami bukan kesunnahan"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?p=682#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Poligami dalam Syariat Nabi Muhammad \ufdfa Tidak Mutlak Sunnah."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#website","url":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/","name":"Pondok Pesantren Dzinnuha Malang","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#organization","name":"Pondok Pesantren Dzinnuha Malang","url":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Screenshot_1.jpg","contentUrl":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Screenshot_1.jpg","width":682,"height":595,"caption":"Pondok Pesantren Dzinnuha Malang"},"image":{"@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/#\/schema\/person\/dfd2d0d6790fb8efbc8fa267899dcc55","name":"Pengasuh Dzinnuha","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ff90c4c8ac04fc370eb03e7db7f98beaa8a82cbb334ccf1e4b2676f5e7308f00?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ff90c4c8ac04fc370eb03e7db7f98beaa8a82cbb334ccf1e4b2676f5e7308f00?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ff90c4c8ac04fc370eb03e7db7f98beaa8a82cbb334ccf1e4b2676f5e7308f00?s=96&d=mm&r=g","caption":"Pengasuh Dzinnuha"},"url":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/?author=2"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=682"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/682\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":687,"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/682\/revisions\/687"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dzinnuha.pesantren.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}